ID/Prabhupada 0821 - Paṇḍita Bukanlah Berarti Bahwa Ia Adalah Seseorang Yang Memiliki Suatu Gelar Tertentu - Paṇḍita Artinya Adalah Sama-cittāḥ

Revision as of 03:42, 12 July 2019 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0023: VideoLocalizer - changed YouTube player to show hard-coded subtitles version)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)


Lecture on SB 5.5.3 -- Vrndavana, October 25, 1976

Pada jaman Kali-yuga, brāhmaṇa artinya hanyalah seutas benang yang berharga dua paisa, itu saja. Tetapi yang seperti itu bukanlah brāhmaṇa. Brāhmaṇa artinya adalah, śamo damo titikṣā. (BG 18.42). Itulah sebenarnya yang merupakan ciri-cirinya. Sama halnya, mahātmā juga bukan hanya sekedar pakaian saja. Tetapi orang-orang telah memanfaatkan gaya berpakaian tersebut, veśopajivibhiḥ. (BG 18.42). Sampai saat ini masih merupakan suatu tradisi di India, bahwa meskipun seseorang itu benar-benar miskin, namun jika ia berpakaian saffron, lalu ia pergi ke sebuah desa, maka semua masalahnya menjadi hilang. Karena setiap orang akan menyambutnya, mengundangnya ke rumah mereka dan memberinya tempat tinggal serta makanan. Sampai saat ini tetap saja, orang-orang akan berkata kepadanya (dalam bahasa Hindi), "Tuan, datanglah kemari. Terimalah prasādam ini." Setiap orang akan memintanya seperti itu.

Dan orang-orang miskin lalu memanfaatkan keadaan seperti ini. Tanpa memiliki pendidikan, tanpa adanya .... Mereka melakukannya semata-mata hanya untuk memecahkan masalah ekonomi mereka saja. Demikian juga di sini di Vṛndāvana, kamu akan menemukan ada begitu banyak orang yang datang ke sini karena ada banyak chatra. Kamu bisa mendapatkan cāpāṭi dan ḍāl secara cuma-cuma. Kamu akan menemukan bahwa di pagi hari ada begitu banyak kaum miskin, mereka telah datang ke Vṛndāvana hanya untuk mendapatkan roti dan ḍāl ini. Mereka lalu mengumpulkan roti dan ḍāl itu dan kemudian menukarkannya dengan uang. Lalu mereka mempergunakannya untuk membeli bīḍī.

Jadi, segala sesuatu telah disalah-gunakan di jaman Kali-yuga ini. Tetapi śāstra sudah memberikan petunjuk mengenai siapa brāhmaṇa itu dan siapa mahātmā itu. Di sini diberikan penjelasan mengenai satu jenis mahātmā yaitu, mahāntas te sama-cittāḥ. (SB 5.5.2). Mereka selalu seimbang. Brahma-bhūtaḥ prasannātmā. (BG 18.54). Samaḥ sarveṣu bhūteṣu. Itulah mahātmā. Ia sudah insyaf, ia sudah menginsyafi Brahman, sehingga ia tidak membeda-bedakan, entah antara manusia dengan manusia ataupun antara manusia dengan binatang. Bahkan ...

vidyā-vinaya-sampanne
brāhmaṇe gave hastini
śuni caiva śvapāke ca
paṇḍitāḥ sama-darśinaḥ
(BG 5.18)

Paṇḍita bukanlah berarti bahwa ia adalah seseorang yang memiliki suatu gelar tertentu. Paṇḍita artinya adalah sama-cittāḥ. Itulah sama-cittāḥ. Cāṇakya Paṇḍita juga telah berkata bahwa,

mātṛ-vat para-dāreṣu
para-dravyeṣu loṣṭra-vat
ātma-vat sarva-bhūteṣu
yaḥ paśyati sa paṇḍitaḥ

Ia adalah seorang paṇḍita jika ia, mātṛ-vat para-dāreṣu, dan jika sebaliknya maka ia adalah seorang bajingan. Begitu kamu melihat seorang wanita, maka kecuali kepada istrimu, kamu harus dengan segera memanggilnya dengan sebutan "ibu." Inilah paṇḍita. Inilah paṇḍita. Dan bukannya lalu berbicara yang bukan-bukan dengan wanita yang bukan miliknya. dan jika demikian, maka ia adalah seorang bajingan.

Jadi, mātṛ-vat para-dāreṣu para-dravyeṣu loṣṭra-vat, jangan menyentuh milik orang lain. Tidak seorangpun akan menyentuh sampah. Namun orang-orang saat ini sungguh sangat tidak mujur. Aku sudah melihat hal seperti itu di Hong Kong, mereka mengambil sisa-sisa makanan dari tumpukan sampah seperti halnya seekor anjing. Aku sudah melihatnya. Seseorang melemparkan sejumlah sampah sisa makanan, dan mereka lalu memungut serta mengumpulkan sisa makanan tersebut. Orang-orang itu sungguh sangat tidak beruntung. Sebenarnya tidak seorangpun mau menyentuh sampah. Tetapi pada jaman Kali-yuga ini seseorang harus mengais tumpukan kertas, maksudku, sisa-sisa kain, dan mempergunakan sampah itu sebagai bahan pekerjaan. Sampah seharusnya tidak disentuh, namun di jaman Kali-yuga, orang-orang menjadi begitu tidak beruntungnya, sehingga mereka harus mengais sesuatu yang masih dianggap berharga dari tumpukan sampah.

Jadi, mahānta, inilah ciri-cirinya. Sama-cittāḥ, mereka tidak memiliki hal-hal seperti ini, "Oh, ini Hindu, ini Muslim, ini orang kaya, ini orang miskin." Tidak ada. Ia sangat baik kepada setiap orang. Itulah kualifikasi yang menunjukkan kesalehannya.