ID/BG 4.34

From Vanipedia
Jump to: navigation, search
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 34

तद्विद्धि प्रणिपातेन परिप्रश्नेन सेवया ।
उपदेक्ष्यन्ति ते ज्ञानं ज्ञानिनस्तत्त्वदर्शिनः ॥३४॥
tad viddhi praṇipātena
paripraśnena sevayā
upadekṣyanti te jñānaḿ
jñāninas tattva-darśinaḥ

Sinonim

tat—pengetahuan itu tentang berbagai korban suci; viddhi—cobalah untuk mengerti; praṇipātena—dengan mendekati seorang guru kerohanian; paripraśnena—dengan bertanya secara tunduk hati; sevayā—dengan mengabdikan diri; upadekṣyanti—mereka akan menerima sebagai murid; te—engkau; jñānam—ke dalam pengetahuan; jñāninaḥ—orang yang sudah insaf akan diri; tattva—mengenai kebenaran; darśinaḥ—orang yang melihat.

Terjemahan

Cobalah mempelajari kebenaran dengan cara mendekati seorang guru kerohanian. Bertanya kepada beliau dengan tunduk hati dan mengabdikan diri kepada beliau. Orang yang sudah insaf akan dirinya dapat memberikan pengetahuan kepadamu karena mereka sudah melihat kebenaran itu.

Penjelasan

Jalan keinsafan diri tentu saja sulit. Karena itu, Kṛṣṇa menasehati kita agar kita mendekati seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya dalam garis perguruan dari Tuhan Sendiri. Tidak seorangpun dapat menjadi guru kerohanian yang dapat dipercaya tanpa mengikuti prinsip garis perguruan rohani tersebut. Kṛṣṇa adalah guru kerohanian yang asli, dan orang yang termasuk garis perguruan dapat menyampaikan amanat Kṛṣṇa menurut aslinya kepada muridnya. Tidak ada orang yang menjadi insaf secara rohani dengan membuat proses sendiri, seperti yang telah menjadi mode di kalangan orang bodoh yang berpura-pura. Di dalam Bhāgavatam (6.3.19) dinyatakan, dharmaṁ tu sākṣād bhagavat-praṇītam: jalan dharma diajarkan langsung oleh Tuhan Yang Maha Esa Sendiri. Karena itu, angan-angan atau argumentasi yang hambar tidak dapat membantu untuk membawa seseorang ke jalan yang benar. Seseorang juga tidak dapat maju dalam kehidupan rohani dengan cara mempelajari buku-buku pengetahuan sendirian. Orang harus mendekati seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya untuk menerima pengetahuan. Seorang guru kerohanian seperti itu harus diterima dengan penyerahan diri sepenuhnya, dan sebaiknya orang mengabdikan diri kepada sang guru kerohanian seperti hamba yang rendah, bebas dari kemasyhuran yang palsu. Memuaskan sang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya adalah rahasia kemajuan dalam kehidupan rohani. Pertanyaan dan sikap rendah hati merupakan gabungan yang benar untuk mencapai pengertian rohani. Kalau tidak ada sikap rendah hati dan pengabdian diri, maka pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada sang guru kerohanian yang bijaksana tidak akan berhasil. Seseorang harus sanggup lulus ujian sang guru kerohanian dan apabila sang guru kerohanian melihat keinginan yang tulus di dalam hati sang murid, dengan sendirinya beliau menganugerahi murid itu dengan pengertian rohani yang sejati. Dalam ayat ini, mengikuti secara buta dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal, disalahkan. Hendaknya orang tidak hanya mendengar dengan tunduk hati dari guru kerohanian, tetapi ia juga harus mendapat pengertian yang jelas dari beliau, dalam sikap tunduk hati, pengabdian dan pertanyaan. Sewajarnya guru kerohanian sangat murah hati kepada muridnya. Karena itu, apabila sang murid tunduk dan selalu bersedia mengabdikan diri, maka balasan pengetahuan dan pertanyaan menjadi sempurna.