ID/Prabhupada 0235 - Guru Yang Tidak Berkualifikasi Artinya Adalah Guru Yang Tidak Tahu Bagaimana Caranya Membimbing Sang Murid

From Vanipedia
Jump to: navigation, search

Guru Yang Tidak Berkualifikasi Artinya Adalah Guru Yang Tidak Tahu Bagaimana Caranya Membimbing Sang Murid
- Prabhupāda 0235


Lecture on BG 2.4-5 -- London, August 5, 1973

Jadi, gurūn ahatvā. Seorang penyembah Kṛṣṇa, jika perlu, jika gurunya ternyata adalah guru yang tidak berkualifikasi ....... Guru yang tidak berkualifikasi artinya adalah guru yang tidak tahu bagaimana caranya membimbing sang murid. Kewajiban guru adalah untuk membimbing. Jadi, guru yang seperti itu setidaknya harus ditolak. Demikianlah menurut Jīva Gosvāmī ... Kārya-kāryam ajānataḥ. Seorang guru yang tidak mengetahui apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi secara tidak sengaja, dengan tidak sengaja aku telah menerima seseorang seperti itu sebagai guru, maka guru yang seperti itu bisa ditolak. Dengan menolaknya, maka kamu bisa menerima seorang guru bona fide yang sebenarnya.

Jadi, guru bukanlah dibinasakan, tetapi ia ditolak. Itulah perintah dari śāstra. Bhīṣmadeva or Droṇācārya, tentu saja mereka adalah guru, tetapi secara tidak langsung Kṛṣṇa memberikan pertanda kepada Arjuna bahwa, "Meskipun mereka ada di dalam kedudukan sebagai guru, namun kamu bisa menolak mereka." Kārya-kāryam ajānataḥ. "Mereka tidak memahami dengan sebenarnya." Bhīṣmadeva ini, ia mempertimbangkan kedudukannya hanya secara material saja. Ia memahami segala sesuatunya sejak awal, bahwa para Pāṇḍava, mereka itu yatim piatu, mereka adalah anak-anak yang telah kehilangan ayahnya, dan dirinyalah yang membesarkan mereka sejak awal. Bukan hanya itu, ia sangat menyayangi para Pāṇḍava sehingga ia selalu berpikir tentang mereka, saat mereka dibawa ke hutan unuk dibuang, pada saat itu Bhīṣmadeva menangis, karena, "Kelima anak laki-laki ini, mereka begitu polos dan begitu jujur. Bukan hanya polos dan jujur saja, tetapi mereka juga adalah pejuang yang perkasa, Arjuna dan Bhīma. Dan Draupadī ini sebenarnya secara langsung merupakan dewi keberuntungan. Dan mereka memiliki sahabat mereka, yaitu Kepribadian Tuhan Yang Maha Kuasa, Kṛṣṇa. Tetapi, mereka menderita?" Bhīṣmadeva menangis, ia benar-benar sangat menyayangi mereka. Karenanya Arjuna mempertimbangkan, "Bagaimana saya bisa membinasakan Bhīṣma?"

Namun, kewajiban itu sangatlah kuat. Kṛṣṇa memberi nasihat, "Ya, ia harus dibinasakan karena ia telah berpihak kepada kelompok lain. Ia telah melupakan kewajibannya. Seharusnya ia bergabung bersamamu. Karenanya, ia sudah tidak lagi berada dalam kedudukan sebagai guru. Kamu harus membinasakannya. Ia telah secara keliru bergabung dengan kelompok lain. Karenanya, tidak ada masalah, binasakanlah dirinya. Sama halnya dengan Droṇācārya. Sama halnya dengan Droṇācārya. Aku memahami bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang agung, mereka memiliki kasih sayang yang besar. Tetapi keagungan kepribadian mereka serta besarnya kasih sayang mereka itu hanya ada hingga sebatas pada pertimbangan material saja."

Apakah yang dimaksud dengan pertimbangan material? Bhīṣma berpikir bahwa, "Aku dipelihara dengan uang yang diperoleh dari Duryodhana. Duryodhana yang memeliharaku. Saat ini ia ada di dalam bahaya. Jika aku berpihak kepada kelompok lain, maka aku akan menjadi seorang yang tidak tahu terimakasih. Ia telah memeliharaku begitu lama. Dan pada saat yang berbahaya ini, ketika ada pertempuran, jika aku memihak kepada pihak lawan, maka akan ....." Ia berpikir seperti itu. Ia tidak berpikir bahwa, "Duryodhana mungkin saja telah memeliharanya, tetapi Duryodhana telah merampas harta milik para Pāṇḍava." Meskipun demikian, itulah keagungan dirinya. Ia memahami bahwa Arjuna tidak akan pernah bisa terbunuh karena Kṛṣṇa ada bersamanya. "Jadi, secara material, aku harus berterimakasih kepada Duryodhana." Situasi yang sama juga terjadi pada Droṇācārya. Mereka semua sudah dipelihara.