ID/Prabhupada 0859 - Inilah Kecacatan Dari Peradaban Barat, Vox Populi, Yaitu Meminta Pendapat Dari Publik

From Vanipedia
Jump to: navigation, search

Inilah Kecacatan Dari Peradaban Barat, Vox Populi, Yaitu Meminta Pendapat Dari Publik
- Prabhupāda 0859


Room Conversation with Director of Research of the Dept. of Social Welfare

Direktur : Tapi orang-orang akan berkata bahwa jumlah ini masih tetap merupakan persentasi yang sangat kecil dari seluruh populasi yang ada.

Prabhupāda : Tidak. Ini bukan masalah mengenai persentasi yang tinggi. Aku mengatakan bahwa, meskipun bahkan hanya ada persentasi yang kecil, tetapi harus tetap ada sejumlah manusia yang ideal. Setidaknya orang-orang akan memahami bahwa, "Inilah manusia yang ideal itu." Seperti yang kami miliki saat ini. Dengan adanya mereka berjapa dan menari, maka banyak orang luar yang datang dan kemudian para orang luar itu juga ikut mendengarkan serta kemudian mereka juga ikut bersembah sujud. Dan secara bertahap mereka juga mempersembahkan pelayanan mereka, "Mohon terimalah saya." Memberikan contoh selalu lebih baik daripada sekedar memberi perintah. Jika anda memiliki suatu kelompok manusia yang ideal, maka orang-orang dengan sendirinya akan belajar. Itulah yang diinginkan. Tetapi mohon jangan perdulikan diriku ... Bukan aku yang menemukan, maksudku, kelompok manusia yang ideal ini.

Bahkan dalam kalangan para pendeta, ada beberapa yang harus dirawat di rumah sakit untuk mengatasi kecanduan mereka pada minuman keras. Terkadang aku melihat hal ini di rumah sakit, di mana ada lima ribu pasien yang merupakan para pecandu alkohol, dan di antara mereka ada yang merupakan pendeta. Para pendeta seharusnya merupakan karakter manusia yang ideal. Tetapi mereka kecanduan alkohol dan mereka juga menyokong prinsip homoseks. Jadi, di mana kita bisa menemukan karakter manusia yang ideal? Jika para pendeta saja harus di rawat di ruah sakit akibat kecanduan minum minuman keras, lalu mereka juga mengijinkan pernikahan antara pria dengan pria serta mengijinkan prinsip homoseks, lalu di mana kita bisa mendapatkan karakter manusia yang ideal?

Direktur : Tetapi homoseksualitas itu merupakan suatu penyakit menurut ....

Prabhupāda : Eh?

Direktur : Homoseksualitas itu adalah suatu penyakit. Mengapa anda harus ...?

Penyembah : Ia berkata bahwa hal itu adalah suatu penyakit.

Direktur : Itu adalah suatu penyakit. Itu bisa diandaikan seperti seseorang yang tidak bisa melihat, dan anda hendak menghukum dirinya karena ia tidak bisa melihat. Anda tidak bisa menghukum seseorang karena ia adalah seorang homoseks. Seperti itulah yang dikatakan oleh masyarakat kami.

Prabhupāda : Yah, bagaimanapun, para pendeta itu, mereka menyetujui homoseks.

Direktur : Maaf?

Prabhupāda : Menyetujui. Mereka mengijinkan homoseks.

Direktur : Yah, kita harus mengatakan ....

Prabhupāda : Dan ada laporan bahwa seorang pria sudah dinikahkan dengan seorang pria oleh seorang pendeta. Di New York, dan beritanya di tulis dalam sebuah koran, Watchtower. Itu adalah sebuah koran kaum Kristen. Aku sudah membaca koran itu. Mereka mengutuk keputusan itu, bahwa para pendeta mengijinkan adanya perkawinan antara pria dengan pria. Dan lalu para pendeta itu mengeluarkan suatu keputusan bahwa homoseks diijinkan, "Tidak apa-apa." Dan di Perth, anda mengatakan bahwa para murid di sana membahas mengenai homoseks, dan memberikan dukungan kepada homoseks. Jadi, di mana karakter yang ideal itu? Jika anda menginginkan suatu urusan yang nyata, maka latihlah sejumlah orang untuk menjadi karakter yang ideal. Itulah gerakan kesadaran Kṛṣṇa ini.

Direktur : Apa yang anda katakan ... Orang-orang mengatakan bahwa apa yang ideal bagi anda belum tentu ideal bagi orang lainnya.

Prabhupāda : Aku sedang memberikan contoh mengenai karakter yang ideal.

Direktur : Ya, tetapi itu adalah pendapat dari seseorang.

Prabhupāda : Tidak. Hal ini tidak bergantung pada adanya pendapat. Pendapat, apa nilai dari pendapat itu jika orang-orang yang ada semuanya hanya merupakan keledai saja? Tidak perlu ada pendapat. Seseorang hendaknya menerima apa adanya sebagaimana yang sudah diperintahkan di dalam śāstra. Tidak perlu ada pendapat lain. Apa gunanya menerima pendapat dari seekor keledai? Jadi, orang-orang saat ini hanya dilatih seperti para anjing dan para keledai saja, lalu apa gunanya meminta dan menggunakan pendapat mereka? Jika anda harus memberlakukan sesuatu, maka anda harus melakukannya seperti itu. Seperti halnya ketika aku memperkenalkan anjuran ini, "Jangan melakukan hubungan seks yang terlarang." Aku tidak pernah memperdulikan pendapat mereka. Jika aku menerima pendapat itu ... maka dengan segera akan ada pembicaraan. Lalu apa gunanya menerima pendapat mereka? Itulah yang harus dilakukan.

Dan itulah yang merupakan kecacatan dari peradaban Barat, Vox Populi, menerima pendapat dari publik. Tetapi apa nilai dari publik itu? Mereka itu hanyalah para pemabuk, perokok, pemakan daging dan pemburu wanita. Apa gunanya .... Mereka bukanlah golongan manusia yang berkualitas kelas satu. Jadi, apa gunanya pendapat dari golongan manusia berkualitas kelas tiga atau kelas empat seperti itu? Kami tidak menganjurkan pendapat yang seperti ini. Apa yang dikatakan oleh Kṛṣṇa, itulah yang menjadi standard yang baku, itu saja. Kṛṣṇa adalah Yang Utama, dan apa yang diucapkanNya merupakan putusan terakhir. Tidak ada pendapat lain, tidak ada demokrasi. Jika anda pergi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan, maka sang dokter tidak akan membuat resepnya berdasarkan pendapat dari pasien lain. "Aku akan membuat resep obat untuk tuan ini. Mohon berikan pendapat anda." Apakah ia akan melakukan hal seperti itu? Lalu, semua pasien lainnya itu, pendapat macam apa yang akan mereka berikan? Dalam hal ini, sang dokter itu adalah orang yang sempurna. Ia akan menuliskan resep apapun yang diperlukan, itu saja. Tetapi di sini, di dunia Barat .... segala sesuatunya selalu dikaitkan dengan pendapat publik.