ID/Prabhupada 0774 - Kita Tidak Bisa Membuat Kemajuan Spiritual Melalui Cara Kita Sendiri: Difference between revisions

(Created page with "<!-- BEGIN CATEGORY LIST --> Category:1080 Indonesian Pages with Videos Category:Prabhupada 0774 - in all Languages Category:ID-Quotes - 1976 Category:ID-Quotes...")
 
(Vanibot #0023: VideoLocalizer - changed YouTube player to show hard-coded subtitles version)
 
Line 8: Line 8:
<!-- END CATEGORY LIST -->
<!-- END CATEGORY LIST -->
<!-- BEGIN NAVIGATION BAR -- DO NOT EDIT OR REMOVE -->
<!-- BEGIN NAVIGATION BAR -- DO NOT EDIT OR REMOVE -->
{{1080 videos navigation - All Languages|Indonesian|ID/Prabhupada 0773 - Perhatian Kita Hendaknya Selalu Dipusatkan Pada Upaya Mengenai Bagaimana Kita Melaksanakan Kehidupan Spiritual Kita|0773|ID/Prabhupada 1057 - Bhagavad-gītā Juga Dikenal Sebagai Gītopaniṣad, Intisari Dari Segala Pengetahuan Veda|1057}}
{{1080 videos navigation - All Languages|Indonesian|ID/Prabhupada 0773 - Perhatian Kita Hendaknya Selalu Dipusatkan Pada Upaya Mengenai Bagaimana Kita Melaksanakan Kehidupan Spiritual Kita|0773|ID/Prabhupada 0775 - Kemelekatan Kepada Keluarga Merupakan Rintangan Terbesar Dalam Upaya Untuk Menjadi Maju Di Dalam Kesadaran Kṛṣṇa|0775}}
<!-- END NAVIGATION BAR -->
<!-- END NAVIGATION BAR -->
<!-- BEGIN ORIGINAL VANIQUOTES PAGE LINK-->
<!-- BEGIN ORIGINAL VANIQUOTES PAGE LINK-->
<div class="center">
<div class="center">
Line 19: Line 18:


<!-- BEGIN VIDEO LINK -->
<!-- BEGIN VIDEO LINK -->
{{youtube_right|mks-j0Sn4b4|Kita Tidak Bisa Membuat Kemajuan Spiritual Melalui Cara Kita Sendiri<br />- Prabhupāda 0774}}
{{youtube_right|hw0NDukZgX4|Kita Tidak Bisa Membuat Kemajuan Spiritual Melalui Cara Kita Sendiri<br />- Prabhupāda 0774}}
<!-- END VIDEO LINK -->
<!-- END VIDEO LINK -->


Line 31: Line 30:


<!-- BEGIN TRANSLATED TEXT (from DotSub) -->
<!-- BEGIN TRANSLATED TEXT (from DotSub) -->
Di dalam masa kṛte, yaitu Satya-yuga, saat di mana orang bisa hidup hingga selama seratus ribu tahun, maka pada saat itulah hal seperti itu dimungkinkan. Seperti halnya Valmiki Muni yang bermeditasi selama enampuluh ribu tahun. Jadi sebenarnya meditasi ini, dhyāna, dhāraṇā, prāṇāyāma, pratyāhāra, sistem yoga ini, direkomendasikan di dalam śāstra, dan juga di dalam Bhagavad-gītā, tetapi pada masa sekarang, hal ini mustahil. Bahkan Arjunapun menolak hal itu. "Kṛṣṇa, Anda menyarankan  kepada hamba untuk melaksanakan proses yoga, tetapi proses ini mustahil untuk dilakukan." Tasyāhaṁ nigrahaṁ manye vāyor iva suduṣkaram. ([[Vanisource:BG 6.34|BG 6.34]]). "Ini mustahil." Namun Arjuna adalah seorang penyembah murni. Ia selalu berpikir tentang Kṛṣṇa. Ia tidak memiliki urusan yang lain. Karena itulah demi untuk menyemangati Arjuna, Kṛṣṇa berkata, "Jangan kecewa. Jangan menjadi kecewa hanya karena kamu berpikir bahwa kamu tidak mampu bermeditasi kepada Tuhan Viṣṇu. Yogī yang berkualitas kelas satu .... Kamu adalah yogī yang berkualitas kelas satu." Mengapa? Karena,   
Di dalam masa kṛte, yaitu Satya-yuga, saat di mana orang bisa hidup hingga selama seratus ribu tahun, maka pada saat itulah hal seperti itu dimungkinkan. Seperti halnya Valmiki Muni yang bermeditasi selama enampuluh ribu tahun. Jadi sebenarnya meditasi ini, dhyāna, dhāraṇā, prāṇāyāma, pratyāhāra, sistem yoga ini, direkomendasikan di dalam śāstra, dan juga di dalam Bhagavad-gītā, tetapi pada masa sekarang, hal ini mustahil. Bahkan Arjunapun menolak hal itu. "Kṛṣṇa, Anda menyarankan  kepada hamba untuk melaksanakan proses yoga, tetapi proses ini mustahil untuk dilakukan." Tasyāhaṁ nigrahaṁ manye vāyor iva suduṣkaram. ([[ID/BG 6.34|BG 6.34]]). "Ini mustahil." Namun Arjuna adalah seorang penyembah murni. Ia selalu berpikir tentang Kṛṣṇa. Ia tidak memiliki urusan yang lain. Karena itulah demi untuk menyemangati Arjuna, Kṛṣṇa berkata, "Jangan kecewa. Jangan menjadi kecewa hanya karena kamu berpikir bahwa kamu tidak mampu bermeditasi kepada Tuhan Viṣṇu. Yogī yang berkualitas kelas satu .... Kamu adalah yogī yang berkualitas kelas satu." Mengapa? Karena,   


:yoginām api sarveṣāṁ
:yoginām api sarveṣāṁ
Line 37: Line 36:
:śraddhāvān bhajate yo māṁ
:śraddhāvān bhajate yo māṁ
:sa me yuktatamo mataḥ
:sa me yuktatamo mataḥ
:([[Vanisource:BG 6.47|BG 6.47]])
:([[ID/BG 6.47|BG 6.47]])


Siapapun yang selalu berpikir tentang Kṛṣṇa di dalam hatinya, maka ia adalah yogī berkualitas kelas satu. Karena itu, kalau tad dhari-kīrtanāt. ([[Vanisource:SB 12.3.52|SB 12.3.52]]). Inilah sistem yoga yang berkualitas kelas satu. Di jaman ini, Caitanya Mahāprabhu menyarankan hal ini, demikian juga di dalam śāstra bahwa, harer nāma harer nāma harer nāma eva kevalam kalau nāsty eva nāsty eva nāsty eva. ([[Vanisource:CC Adi 17.21|CC Adi 17.21]]).  
Siapapun yang selalu berpikir tentang Kṛṣṇa di dalam hatinya, maka ia adalah yogī berkualitas kelas satu. Karena itu, kalau tad dhari-kīrtanāt. ([[Vanisource:SB 12.3.52|SB 12.3.52]]). Inilah sistem yoga yang berkualitas kelas satu. Di jaman ini, Caitanya Mahāprabhu menyarankan hal ini, demikian juga di dalam śāstra bahwa, harer nāma harer nāma harer nāma eva kevalam kalau nāsty eva nāsty eva nāsty eva. ([[Vanisource:CC Adi 17.21|CC Adi 17.21]]).  
Line 47: Line 46:
:na sa siddhim avāpnoti
:na sa siddhim avāpnoti
:na sukhaṁ na parāṁ gatim
:na sukhaṁ na parāṁ gatim
:([[Vanisource:BG 16.23|BG 16.23]])
:([[ID/BG 16.23|BG 16.23]])


Setiap orang yang melanggar prinsip-prinsip yang mengatur sebagaimana disarankan di dalam śāstra, śāstra-vidhi, yaḥ śāstra-vidhim utsṛjya, tidak lagi melaksanakan śāstra-vidhi, vartate kāma-kārataḥ, lalu melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, na siddhiṁ sa avāpnoti, maka ia tidak akan pernah berhasil. Ia tidak akan pernah berhasil. Na siddhiṁ na parāṁ gati, tidak juga ada keselamatan. Na siddhim, na sukham, dan tidak juga ada kebahagiaan material. Jadi, kita harus menerima śāstra vidhi ini. Śāstra-vidhi, menurut aslinya ...  DI dalam śāstra hal ini juga dinyatakan, Aku sudah mengutip sloka ini, kalau tad dhari-kīrtanāt.
Setiap orang yang melanggar prinsip-prinsip yang mengatur sebagaimana disarankan di dalam śāstra, śāstra-vidhi, yaḥ śāstra-vidhim utsṛjya, tidak lagi melaksanakan śāstra-vidhi, vartate kāma-kārataḥ, lalu melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, na siddhiṁ sa avāpnoti, maka ia tidak akan pernah berhasil. Ia tidak akan pernah berhasil. Na siddhiṁ na parāṁ gati, tidak juga ada keselamatan. Na siddhim, na sukham, dan tidak juga ada kebahagiaan material. Jadi, kita harus menerima śāstra vidhi ini. Śāstra-vidhi, menurut aslinya ...  DI dalam śāstra hal ini juga dinyatakan, Aku sudah mengutip sloka ini, kalau tad dhari-kīrtanāt.

Latest revision as of 03:38, 12 July 2019



Lecture on SB 7.6.2 -- Toronto, June 18, 1976

Di dalam masa kṛte, yaitu Satya-yuga, saat di mana orang bisa hidup hingga selama seratus ribu tahun, maka pada saat itulah hal seperti itu dimungkinkan. Seperti halnya Valmiki Muni yang bermeditasi selama enampuluh ribu tahun. Jadi sebenarnya meditasi ini, dhyāna, dhāraṇā, prāṇāyāma, pratyāhāra, sistem yoga ini, direkomendasikan di dalam śāstra, dan juga di dalam Bhagavad-gītā, tetapi pada masa sekarang, hal ini mustahil. Bahkan Arjunapun menolak hal itu. "Kṛṣṇa, Anda menyarankan kepada hamba untuk melaksanakan proses yoga, tetapi proses ini mustahil untuk dilakukan." Tasyāhaṁ nigrahaṁ manye vāyor iva suduṣkaram. (BG 6.34). "Ini mustahil." Namun Arjuna adalah seorang penyembah murni. Ia selalu berpikir tentang Kṛṣṇa. Ia tidak memiliki urusan yang lain. Karena itulah demi untuk menyemangati Arjuna, Kṛṣṇa berkata, "Jangan kecewa. Jangan menjadi kecewa hanya karena kamu berpikir bahwa kamu tidak mampu bermeditasi kepada Tuhan Viṣṇu. Yogī yang berkualitas kelas satu .... Kamu adalah yogī yang berkualitas kelas satu." Mengapa? Karena,

yoginām api sarveṣāṁ
mad-gatenāntarātmanā
śraddhāvān bhajate yo māṁ
sa me yuktatamo mataḥ
(BG 6.47)

Siapapun yang selalu berpikir tentang Kṛṣṇa di dalam hatinya, maka ia adalah yogī berkualitas kelas satu. Karena itu, kalau tad dhari-kīrtanāt. (SB 12.3.52). Inilah sistem yoga yang berkualitas kelas satu. Di jaman ini, Caitanya Mahāprabhu menyarankan hal ini, demikian juga di dalam śāstra bahwa, harer nāma harer nāma harer nāma eva kevalam kalau nāsty eva nāsty eva nāsty eva. (CC Adi 17.21).

Jadi, kita harus mengikuti perintah śāstra.. Kita tidak bisa membuat kemajuan spiritual melalui cara kita sendiri. Itu adalah hal yang mustahil.

yaḥ śāstra-vidhim utsṛjya
vartate kāma-kārataḥ
na sa siddhim avāpnoti
na sukhaṁ na parāṁ gatim
(BG 16.23)

Setiap orang yang melanggar prinsip-prinsip yang mengatur sebagaimana disarankan di dalam śāstra, śāstra-vidhi, yaḥ śāstra-vidhim utsṛjya, tidak lagi melaksanakan śāstra-vidhi, vartate kāma-kārataḥ, lalu melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, na siddhiṁ sa avāpnoti, maka ia tidak akan pernah berhasil. Ia tidak akan pernah berhasil. Na siddhiṁ na parāṁ gati, tidak juga ada keselamatan. Na siddhim, na sukham, dan tidak juga ada kebahagiaan material. Jadi, kita harus menerima śāstra vidhi ini. Śāstra-vidhi, menurut aslinya ... DI dalam śāstra hal ini juga dinyatakan, Aku sudah mengutip sloka ini, kalau tad dhari-kīrtanāt.

kṛte yad dhyāyato viṣṇuṁ
tretāyāṁ yajato makhaiḥ
dvāpare paricaryāyāṁ
kalau tad dhari-kīrtanāt
(SB 12.3.52)

Pada masa sekarang ini yang merupakan śāstra-vidhi adalah hari-kīrtana. Semakin sering kamu berjapa mahā-mantra Hare Kṛṣṇa, maka semakin kamu akan menjadi sempurna. Demikianlah śāstra-vidhi. Dan Caitanya Mahāprabhu juga menegaskan hal tersebut. Sādhu-śāstra-guru-vākya. Maka pertama-tama, kita harus menjadi mantap mengenai apakah yang merupakan perintah dari śāstra. Kemudian, apakah yang sedang dilakukan oleh para sādhu, para penyembah itu. Apa yang sedang mereka lakukan, śāstra, dan guru. Dan apa yang ditanyakan oleh guru. Kita harus mengikuti ke tiga prinsip ini. Sādhu-guru-śāstra-vākya tīnete koriyā aikya. Siapakah yang disebut sebagai sādhu? Siapakah yang harus dipatuhi menurut perintah śāstra. Atau guru? Guru berarti bahwa ia juga mematuhi perintah śāstra. Maka dengan demikian ia adalah guru, ia adalah sādhu. Ia adalah seorang sādhu. Dan jika salah satu, śāstra vidhim, yaḥ śāstra-vidhim utsṛjya ...

Jika kamu tidak menjalankan śāstra-vidh lagi, maka tidak ada yang disebut sebagai guru dan sādhu. Na siddhim. Ia bukanlah seorang siddha. Ia belum mencapai kesempurnaan, karena ia telah menolak prinsip-prinsip śāstra. Maka ia adalah seorang penipu. Kita harus menguji dirinya, yang mengaku-aku sebagai seorang guru, dengan cara seperti itu, dengan memastikan siapakah guru itu .