ID/BG 16.22

Revision as of 15:23, 22 April 2018 by Gusti (talk | contribs) (Bhagavad-gita Compile Form edit)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 22

etair vimuktaḥ kaunteya
tamo-dvārais tribhir naraḥ
ācaraty ātmanaḥ śreyas
tato yāti parāḿ gatim

Sinonim

etaiḥ—dari yang ini; vimuktaḥ—dengan dibebaskan; kaunteya—wahai putera Kuntī ; tamaḥ-dvāraiḥ—dari gerbang kebodohan; tribhiḥ—dari tiga jenis; naraḥ—seseorang; ācarati—melakukan; ātmanāḥ—bagi sang diri; śreyaḥ—berkat; tataḥ—sesudah itu; yāti—ia pergi; param—kepada Yang Mahakuasa; gatim—tujuan.

Terjemahan

Orang yang sudah bebas dari tiga gerbang neraka tersebut melakukan perbuatan yang menguntungkan untuk keinsafan diri dan dengan demikian berangsur-angsur ia mencapai tujuan yang paling utama, wahai putera Kuntī.

Penjelasan

Seseorang harus hati-hati sekali tentang tiga musuh kehidupan manusia yaitu: hawa nafsu, amarah dan loba. Semakin seseorang dibebaskan dari hawa nafsu, amarah dan loba, hidupnya semakin suci. Kemudian ia dapat mengikuti aturan dan peraturan yang dianjurkan dalam Kitab-kitab Veda. Dengan mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur kehidupan manusia, berangsur-angsur seseorang maju sampai tingkat keinsafan rohani. Kalau seseorang cukup beruntung seperti itu, dan melalui latihan, sehingga ia maju sampai tingkat kesadaran Kṛṣṇa, sukses terjamin baginya. Dalam kesusasteraan Veda, cara-cara perbuatan dan reaksi ditetapkan untuk memungkinkan seseorang mencapai tingkat penyucian. Seluruh cara tersebut berdasarkan prinsip meninggalkan nafsu, loba dan amarah. Dengan mengembangkan pengetahuan tentang proses tersebut, seseorang dapat diangkat sampai kedudukan tertinggi keinsafan diri; keinsafan diri tersebut disempurnakan dalam bhakti. Dalam bhakti itu, pembebasan roh yang terikat terjamin. Karena itu, menurut sistem Veda, ditetapkan empat golongan tingkatan hidup dan empat tingkatan hidup. Ini disebut susunan golongan masyarakat dan susunan tingkatan rohani. Ada berbagai aturan dan peraturan untuk berbagai golongan dan bagian masyarakat, dan kalau seseorang sanggup mengikuti peraturan itu, dengan sendirinya ia akan diangkat sampai tingkat keinsafan rohani tertinggi. Pada waktu itu ia pasti memperoleh pembebasan.