ID/BG 16.24

Revision as of 00:27, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 24

तस्माच्छास्त्रं प्रमाणं ते कार्याकार्यव्यवस्थितौ ।
ज्ञात्वा शास्त्रविधानोक्तं कर्म कर्तुमिहार्हसि ॥२४॥
tasmāc chāstraḿ pramāṇaḿ te
kāryākārya-vyavasthitau
jñātvā śāstra-vidhānoktaḿ
karma kartum ihārhasi

Sinonim

tasmāt—karena itu; śastram—Kitab Suci; pramāṇam—bukti; te—milikmu; kārya—kewajiban; akārya—dan kegiatan terlarang; vyavasthitau—alam menentukan; jñātvā—mengetahui; śastra—dari Kitab Suci; vidhāna—peraturan; uktam—sebagaimana dimaklumkan; karma—pekerjaan; kartum—melakukan; iha—di dunia ini; arhasi—engkau harus.

Terjemahan

Karena itu, seharusnya seseorang mengerti apa itu kewajiban dan apa yang bukan kewajiban menurut peraturan Kitab Suci. Dengan mengetahui aturan dan peraturan tersebut, hendaknya ia bertindak dengan cara supaya berangsur-angsur dirinya maju ke tingkat yang lebih tinggi.

Penjelasan

Sebagaimana dinyatakan dalam Bab Lima belas, segala aturan dan peraturan Veda dimaksudkan untuk mengetahui tentang Kṛṣṇa. Kalau seseorang mengetahui tentang Kṛṣṇa dari Bhagavad-gītā, sudah mantap dalam kesadaran Kṛṣṇa, dan menekuni bhakti, ia sudah mencapai kesempurnaan pengetahuan tertinggi yang diberikan oleh kesusasteraan Veda. Śrī Caitanya Mahāprabhu mempermudah proses tersebut: Beliau hanya meminta supaya orang mengucapkan mantra: Hare Kṛṣṇa, Hare Kṛṣṇa, Kṛṣṇa Kṛṣṇa, Hare Hare / Hare Rāma, Hare Rāma, Rāma Rāma, Hare Hare, menekuni bhakti kepada Tuhan dan makan sisa makanan yang sudah dipersembahkan kepada Kṛṣṇa. Orang yang menekuni segala kegiatan bhakti tersebut secara langsung sudah mempelajari segala kesusasteraan Veda. Ia sudah mencapai kesimpulannya secara sempurna. Tentu saja, bagi orang biasa yang belum sadar akan Kṛṣṇa atau belum menekuni bhakti, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus tidak dilakukan harus ditentukan oleh peraturan Veda. Seseorang harus bertindak menurut keputusan-keputusan itu, tanpa membantah. Itu disebut mengikuti prinsip-prinsip śāstra, atau Kitab Suci. Śāstra adalah bebas dari empat kelemahan utama yang dapat dilihat pada roh yang terikat yaitu: Indria-indria yang kurang sempurna, kecenderungan menipu, pasti berbuat kesalahan, dan pasti berkhayal. Empat kelemahan utama dalam kehidupan terikat menyebabkan seseorang tidak memenuhi syarat untuk menetapkan aturan dan peraturan. Karena itu, aturan dan peraturan sebagaimana diuraikan dalam śāstra—di atas kelemahan tersebut—diterima tanpa perubahan oleh semua orang suci yang mulia, ācārya-ācārya dan roh-roh yang mulia.

Di India ada banyak golongan pengertian rohani, yang pada umumnya digolongkan menjadi dua yaitu: Orang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan dan orang yang mengakui bentuk pribadi Tuhan. Akan tetapi, kedua golongan tersebut hidup menurut prinsip-prinsip Veda. Seseorang tidak dapat naik sampai tingkat kesempurnaan tanpa mengikuti prinsip-prinsip Kitab Suci. Karena itu, orang yang sungguh-sungguh memahami arti śāstra adalah orang yang beruntung. Dalam masyarakat manusia, rasa enggan terhadap prinsip-prinsip mengerti tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa menyebabkan keadaan semua orang jatuh. Itulah kesalahan terbesar dalam kehidupan manusia. Karena itu, māyā, tenaga material Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, selalu mempersulit kita dalam bentuk tiga jenis kesengsaraan. Tenaga material itu terdiri dari tiga sifat alam material. Seseorang harus mengangkat dirinya sekurang-kurangnya sampai sifat kebaikan sebelum jalan menuju pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa dapat dibuka. Tanpa mengangkat diri sampai taraf sifat kebaikan, seseorang tetap dalam kebodohan dan nafsu, yang menyebabkan kehidupan jahat. Orang yang berada dalam sifat-sifat nafsu dan kebodohan mengejek Kitab Suci, mengejek orang suci dan mengejek pengertian yang benar tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Mereka melanggar pelajaran sang guru kerohanian, dan mereka tidak mempedulikan peraturan Kitab Suci. Meskipun mereka mendengar tentang kebesaran pengabdian suci bhakti, mereka tidak tertarik. Karena itu, mereka membuat cara sendiri untuk maju. Inilah beberapa kelemahan masyarakat manusia yang membawa orang menuju status kehidupan yang bersifat jahat. Akan tetapi, kalau seseorang dapat dibimbing oleh seorang guru kerohanian yang benar dan dapat dipercaya, yang sanggup membimbing orang ke jalan kemajuan sampai tingkat yang lebih tinggi, maka kehidupannya akan menjadi sukses.

Demikianlah telah selesai penjelasan Bhaktivedanta mengenai Bab Enam belas Śrīmad Bhagavad-gītā perihal "Sifat Rohani dan Sifat Jahat".