ID/BG 17.1

Revision as of 00:30, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 1

अर्जुन उवाच
ये शास्त्रविधिमुत्सृज्य यजन्ते श्रद्धयान्विताः ।
तेषां निष्ठा तु का कृष्ण सत्त्वमाहो रजस्तमः ॥१॥
arjuna uvāca
ye śāstra-vidhim utsṛjya
yajante śraddhayānvitāḥ
teṣāḿ niṣṭhā tu kā kṛṣṇa
sattvām āho rājā s tamaḥ

Sinonim

arjunaḥ uvāca—arjuna berkata; ye—orang yang; śāstra-vidhim—peraturan Kitab Suci; utsṛjya—meninggalkan; yajante—menyembah; śraddhayā—kepercayaan sepenuhnya; anvitāḥ—memiliki; teṣām—mengenai mereka; niṣṭhā—keyakinan; tu—tetapi; —apakah; kṛṣṇa—o Kṛṣṇa; sattvām—dalam kebaikan; aho—atau hal lain; rājāḥ—dalam nafsu; tamaḥ—dalam kebodohan.

Terjemahan

Arjuna bertanya: O Kṛṣṇa, bagaimana kedudukan orang yang tidak mengikuti prinsip-prinsip Kitab Suci tetapi sembahyang menurut angan-angan sendiri? Apakah mereka berada dalam kebaikan, nafsu atau dalam kebodohan?

Penjelasan

Dalam Bab Empat ayat ketiga puluh sembilan, dinyatakan bahwa orang yang setia pada jenis sembahyang tertentu berangsur-angsur naik sampai tahap pengetahuan dan mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi kedamaian dan kemakmuran. Dalam Bab Enam belas, disimpulkan bahwa orang yang tidak mengikuti prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam Kitab Suci disebut seorang asura, atau orang jahat, dan orang yang mematuhi peraturan Kitab Suci dengan setia disebut deva, atau dewa. Dan jika ia mengikuti beberapa peraturan yang tidak disebutkan dalam aturan Kitab Suci dengan keyakinan, bagaimana kedudukannya? Keragu-raguan di dalam hati Arjuna mengenai hal ini akan dihilangkan oleh Kṛṣṇa. Apakah orang yang menciptakan sejenis dewa dengan cara memilih seorang manusia dan menaruh kepercayaan terhadap orang itu sedang sembahyang dalam sifat kebaikan, nafsu atau kebodohan? Apakah orang seperti itu mencapai tingkat kesempurnaan dalam kehidupan? Mungkinkah mereka mantap dalam pengetahuan sejati dan mengangkat diri sampai tingkat kesempurnaan tertinggi? Apakah orang yang tidak mengikuti aturan dan peraturan Kitab Suci tetapi percaya pada sesuatu dan menyembah dewa-dewa dan manusia akan mencapai sukses dalam usahanya? Arjuna mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada Kṛṣṇa.