ID/BG 2.31

Revision as of 01:28, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 31

स्वधर्ममपि चावेक्ष्य न विकम्पितुमर्हसि ।
धर्म्याद्धि युद्धाच्छ्रेयोऽन्यत्क्षत्रियस्य न विद्यते ॥३१॥
sva-dharmam api cāvekṣya
na vikampitum arhasi
dharmyād dhi yuddhāc chreyo 'nyat
kṣatriyasya na vidyāte

Sinonim

sva-dharmam—prinsip-prinsip dharma itu sendiri; api—juga; ca—memang; avekṣyā—mengingat; na—tidak pernah; vikampitum—ragu-ragu; arhasi—patut bagi engkau; dharmyāt—demi prinsip-prinsip dharma; hi—memang; yuddhāt—daripada bertempur; śreyaḥ—kesibukan yang lebih baik; anyat—sesuatu yang lain; kṣatriyasya—milik seorang kṣatriya; na—tidak; vidyāte—ada.

Terjemahan

Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang kṣatriya, hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu, engkau tidak perlu ragu-ragu.

Penjelasan

Di antara empat golongan administrasi di masyarakat, demi baiknya soal administrasi ada golongan kedua yang disebut kṣatriya. Kṣat berarti menyakiti. Orang yang memberikan perlindungan terhadap hal-hal yang menyakitkan disebut kṣatriya (trāyate—memberikan perlindungan). Para kṣatriya dilatih untuk membunuh di hutan. Seorang kṣatriya dengan pedangnya pergi ke hutan dan bertarung melawan seekor harimau satu lawan satu. Setelah harimau terbunuh, ia diberikan upacara pembakaran mayat sesuai dengan adat kerajaan . Sistem tersebut diikuti sampai sekarang oleh para raja kṣatriya di negara bagian Jaipur. Para kṣatriya dilatih secara khusus untuk menyerang dan membunuh dengan kekerasan berdasarkan prinsip-prinsip dharma, kadang-kadang merupakan unsur yang diperlukan. Karena itu, para kṣatriya tidak pernah dimaksudkan untuk langsung memasuki tingkat sannyāsa, atau tingkat melepaskan ikatan. Tanpa kekerasan di bidang politik barangkali menjadi siasat diplomatik, tetapi hal itu tidak pernah menjadi unsur pokok atau prinsip. Di dalam undang-undang hukum dharma dinyatakan:

āhaveṣu mitho 'nyonyaḿ
jighāḿsanto mahī-kṣitaḥ
yuddhamānāḥ paraḿ śaktyā
svargaḿ yānty aparāń-mukhāḥ
yajñeṣu paśavo brahman
hanyante satataḿ dvijaiḥ
saḿskṛtāḥ kila mantraiś ca
te 'pi svargam avāpnuvan

"Di medan perang, seorang raja atau kṣatriya, sambil bertempur melawan raja lain yang iri hati kepadanya, memenuhi syarat untuk mencapai planet-planet surga sesudah meninggal, seperti halnya para brāhmaṇa juga mencapai planet-planet surga dengan mengorbankan binatang di dalam api korban suci." Karena itu, membunuh di medan perang berdasarkan prinsip dharma dan membunuh binatang di dalam api korban sama sekali tidak dianggap perbuatan kekerasan, sebab semua orang diuntungkan oleh prinsip-prinsip dharma sehubungan dengan hal-hal ini. Binatang yang dikorbankan mendapat kesempatan untuk segera dilahirkan sebagai manusia tanpa menjalani proses evolusi tahap demi tahap dari bentuk satu ke bentuk lain, dan para kṣatriya yang terbunuh di medan perang juga mencapai planet-planet surga, seperti para brāhmaṇa yang mencapai planet-planet surga dengan cara menghaturkan korban suci.

Ada dua jenis sva-dharma, atau tugas-tugas khusus. Selama seseorang belum mencapai pembebasan, ia harus melakukan tugas-tugas sehubungan dengan badan khusus yang dimilikinya, menurut prinsip-prinsip dharma, untuk mencapai pembebasan. Apabila seseorang sudah mencapai pembebasan, maka sva-dharmanya—atau tugas kewajiban khusus—menjadi rohani dan tidak berada dalam paham jasmani yang bersifat material. Dalam paham hidup jasmani ada tugas-tugas khusus masing-masing bagi brāhmaṇa dan kṣatriya, dan tugas-tugas seperti itu tidak dapat dihindari. Sva-dharma ditetapkan oleh Tuhan, dan hal ini akan dijelaskan di dalam Bab Empat. Pada tingkat jasmani, sva-dharma disebut varṇāśrama-dharma, atau langkah-langkah manusia untuk mencapai pengertian rohani. Peradaban manusia mulai dari tahap varṇāśrama-dharma, atau tugas-tugas khusus menurut sifat-sifat alam tertentu pada badan yang sudah diperoleh. Melaksanakan tugas kewajiban khusus di bidang perbuatan manapun menurut perintah-perintah penguasa-penguasa yang lebih tinggi memungkinkan seseorang naik tingkat sampai tingkatan hidup yang lebih tinggi.