ID/BG 2.41

Revision as of 01:34, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 41

व्यवसायात्मिका बुद्धिरेकेह कुरुनन्दन ।
बहुशाखा ह्यनन्ताश्च बुद्धयोऽव्यवसायिनाम् ॥४१॥
vyavasāyātmikā buddhir
ekeha kuru-nandana
bahu-śākhā hy anantāś ca
buddhayo 'vyavasāyinām

Sinonim

vyavasāya-ātmikā—bertabah hati dalam kesadaran Kṛṣṇa; buddhiḥ—kecerdasan; ekā—hanya satu; iha—di dunia ini; kuru-nandana—wahai putera kesayangan para Kuru; bahu-śākhāḥ—mempunyai banyak cabang; hi—pasti; anantāḥ—tidak terhingga; ca—juga; buddhayaḥ—kecerdasan; avyavasāyinām—tentang mereka yang tidak sadar akan Kṛṣṇa.

Terjemahan

Orang yang menempuh jalan ini bertabah hati dengan mantap, dan tujuan mereka satu saja. Wahai putera kesayangan para Kuru, kecerdasan orang yang tidak bertabah hati mempunyai banyak cabang.

Penjelasan

Keyakinan yang kuat bahwa dengan kesadaran Kṛṣṇa seseorang akan maju sampai pada tingkat kesempurnaan hidup tertinggi disebut kecerdasan vyavasāyātmikā. Dalam Caitanya-caritāmṛta (Madhya 22.62) dinyatakan:

'śraddhā'-śabde—viśvāsa kahe sudṛḍha niścaya
kṛṣṇe bhakti kaile sarva-karma kṛta haya

Keyakinan berarti kepercayaan yang tidak pernah menyimpang terhadap sesuatu yang mulia. Apabila seseorang sibuk dalam tugas-tugas kesadaran Kṛṣṇa, ia tidak perlu bertindak berhubungan dengan dunia material. Kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala adalah kesibukan reaksi yang dialami seseorang akibat perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk yang dilakukan dahulu kala. Apabila seseorang sadar dalam kesadaran Kṛṣṇa, ia tidak perlu berusaha lagi untuk mendapatkan pahala yang baik dalam kegiatannya. Apabila seseorang sudah mantap dalam kesadaran Kṛṣṇa, maka segala kegiatan akan berada pada tingkat mutlak, sebab kegiatan itu tidak dipengaruhi lagi oleh hal-hal yang relatif, seperti baik dan buruk. Kesempurnaan kesadaran Kṛṣṇa tertinggi adalah ketidak-terikatan terhadap paham hidup duniawi. Keadaan tersebut dicapai dengan sendirinya dalam kesadaran Kṛṣṇa yang maju terus.

Ketabahan hati yang mantap di dalam hati orang yang sadar akan Kṛṣṇa berdasarkan pengetahuan. Vasudevah sarvam iti sa mahatma sudurlabhah orang yang sadar akan Kṛṣṇa adalah roh baik yang jarang ditemukan dan ia mengetahui secara sempurna bahwa Vasudeva, atau Kṛṣṇa, adalah sumber segala sebab yang terwujud. Seperti halnya dengan menyiram air pada akar sebatang pohon, air dengan sendirinya disalurkan kepada daun-daun dan cabang-cabang. Begitu juga dengan bertindak dalam kesadaran Kṛṣṇa, seseorang dapat mengabdikan diri dengan cara tertinggi kepada semua orang—yaitu, kepada dirinya, keluarga, masyarakat, negara, manusia, dan lain-lain. Kalau Kṛṣṇa dipuaskan oleh kegiatan seseorang, maka semua orang akan puas.

Akan tetapi, pengabdian dalam kesadaran Kṛṣṇa paling baik bila dipraktekkan di bawah bimbingan seorang guru kerohanian yang akhli sebagai utusan Kṛṣṇa yang dapat dipercaya. Sang guru kerohanian mengetahui sifat seorang murid dan dapat membimbing murid itu untuk bertindak dalam kesadaran Kṛṣṇa. Karena itu, untuk menguasai kesadaran Kṛṣṇa, seseorang harus bertindak dengan tegas dan mematuhi perintah-perintah utusan Kṛṣṇa.

Hendaknya orang menerima ajaran dari sang guru kerohanian yang dapat dipercaya sebagai misinya dalam kehidupan. Śrīla Viśvanātha Cakravartī Ṭhākura memberikan pelajaran kepada kita dalam doa-doa pujiannya yang terkenal kepada sang guru kerohanian, sebagai berikut:

yasya prasādād bhagavat-prasādo
yasyāprasādān na gatiḥ kuto 'pi
dhyāyan stuvaḿs tasya yaśas tri-sandhyaḿ
vande guroḥ śrī-caraṇāravindam

"Dengan memuaskan hati guru kerohanian, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa puas. Kalau seseorang tidak memuaskan hati guru kerohanian, maka tidak mungkin ia diangkat sampai tingkat kesadaran Kṛṣṇa. Karena itu, saya harus bersemadi dan berdoa mohon karunia guru kerohanian tiga kali sehari, dan bersujud dengan hormat kepada beliau."

Akan tetapi, seluruh proses tersebut bergantung pada pengetahuan sempurna mengenai sang roh di luar paham badan—bukan secara teori saja, tetapi secara praktek, bila tidak ada kesempatan lagi untuk kepuasan indria-indria terwujud dalam kegiatan yang membuahkan hasil atau pahala. Orang yang pikirannya belum mantap dengan teguh disesatkan oleh berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala.