ID/BG 2.72

Revision as of 01:50, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 72

एषा ब्राह्मी स्थितिः पार्थ नैनां प्राप्य विमुह्यति ।
स्थित्वास्यामन्तकालेऽपि ब्रह्मनिर्वाणमृच्छति ॥७२॥
eṣā brāhmī sthitiḥ pārtha
naināḿ prāpya vimuhyati
sthitvāsyām anta-kāle 'pi
brahma-nirvāṇam ṛcchati

Sinonim

eṣā—ini; brāhmī—rohani; sthitiḥ—keadaan; pārtha—wahai putera Pṛthā; na—tidak pernah; enam—ini; prāpya—mencapai; vimuhyāti—seseorang dibingungkan; sthitvā—menjadi mantap; asyām—dalam ini; anta-kāle—pada akhir hidup; api—juga; brahma-nirvāṇam—kerajaan rohani Tuhan; ṛcchati—seseorang mencapai.

Terjemahan

Itulah cara hidup yang suci dan rohani. Sesudah mencapai kehidupan seperti itu, seseorang tidak dibingungkan. Kalau seseorang mantap seperti itu bahkan pada saat kematian sekalipun, ia dapat masuk ke kerajaan Tuhan.

Penjelasan

Seseorang dapat mencapai kesadaran Kṛṣṇa atau kehidupan yang suci dengan segera, dalam satu detik—atau mungkin ia belum mencapai keadaan hidup seperti itu walaupun sudah dilahirkan berjuta-juta kali. Hal itu hanya merupakan soal pengertian dan pengakuan terhadap kenyataan. Khaṭvāṅga Mahārāja mencapai keadaan hidup tersebut beberapa saat sebelum meninggal, dengan cara menyerahkan diri kepada Kṛṣṇa. Nirvāṇa berarti mengakhiri proses kehidupan material. Menurut filsafat para pengikut sang Buddha, sesudah kehidupan material ini berakhir, yang ada hanya kekosongan, tetapi Bhagavad-gītā memberikan pelajaran yang lain daripada itu. Kehidupan yang sejati mulai setelah kehidupan duniawi ini berakhir. Orang duniawi yang kasar cukup mengetahui bahwa ia harus mengakhiri cara hidup duniawi, tetapi bagi orang sudah maju secara rohani, ada kehidupan yang lain sesudah kehidupan duniawi. Sebelum akhir hidup ini, kalau seseorang cukup beruntung hingga menjadi sadar akan Kṛṣṇa, maka ia akan segera mencapai tingkat brahma-nirvāṇa. Tidak ada perbedaan antara kerajaan Tuhan dan bhakti kepada Tuhan. Oleh karena kedua-duanya berada pada tingkat mutlak, kalau seseorang menekuni cinta-bhakti rohani kepada Tuhan, itu berarti ia sudah mencapai kerajaan rohani. Di dunia material ini, ada kegiatan kepuasan indria-indria, sedangkan di dunia rohani ada kegiatan kesadaran Kṛṣṇa. Tercapainya kesadaran Kṛṣṇa bahkan selama hidup ini pun berarti segera mencapai Brahman, dan orang yang sudah mantap dalam kesadaran Kṛṣṇa tentu saja sudah memasuki kerajaan Tuhan.

Brahman adalah lawan alam. Karena itu, brāhmī sthiti berarti "bukan pada tingkat kegiatan material." Bhakti kepada Tuhan diakui dalam Bhagavad-gītā sebagai tingkat pembebasan (sa guṇān samatītyaitān brahma-bhūyāya kalpate). Karena itu, brāhmī sthiti adalah pembebasan dari ikatan material.

Śrīla Bhaktivinoda Ṭhākura telah meringkas Bab Dua Bhagavad-gītā sebagai isi seluruh teks Bhagavad-gītā. Mata pelajaran yang dibahas dalam Bhagavad-gītā adalah karma-yoga, jñāna-yoga, dan bhakti-yoga. Dalam Bab Dua, karma-yoga dan jñāna-yoga sudah dibicarakan dengan jelas, dan gambaran tentang bhakti-yoga juga sudah diberikan, sebagai isi teks Bhagavad-gītā yang lengkap.

Demikianlah selesai penjelasan Bhaktivedanta mengenai Bab Dua Śrīmad Bhagavad-gītā perihal "Ringkasan Isi Bhagavad-gītā".