ID/BG 3.12: Difference between revisions

(Bhagavad-gita Compile Form edit)
 
(Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
 
Line 5: Line 5:


==== ŚLOKA 12 ====
==== ŚLOKA 12 ====
<div class="devanagari">
:इष्टान्भोगान्हि वो देवा दास्यन्ते यज्ञभाविताः ।
:तैर्दत्तानप्रदायैभ्यो यो भुङ्क्ते स्तेन एव सः ॥१२॥
</div>


<div class="verse">
<div class="verse">
:''iṣṭān bhogān hi vo devā''
:iṣṭān bhogān hi vo devā
:''dāsyante yajña-bhāvitāḥ''
:dāsyante yajña-bhāvitāḥ
:''tair dattān apradāyaibhyo''
:tair dattān apradāyaibhyo
:''yo bhuńkte stena eva saḥ''
:yo bhuńkte stena eva saḥ
 
</div>
</div>


Line 17: Line 21:


<div class="synonyms">
<div class="synonyms">
iṣṭān—diinginkan; bhogān—kebutuhan hidup; hi—pasti; vaḥ—kepadamu; devāḥ—para dewa; dāsyante—akan menganugerahkan; yajña-bhāvitāḥ—dengan dipuaskan oleh pelaksanaan korban-korban suci; taiḥ—oleh mereka; dattān—benda-benda yang diberikan; apradāya—tanpa mempersembahkan; ebhyaḥ—kepada dewa-dewa tersebut; yaḥ—orang yang; bhuńkte—menikmati; stenaḥ—pencuri; evā—pasti; saḥ—dia.
''iṣṭān''—diinginkan; ''bhogān''—kebutuhan hidup; ''hi''—pasti; ''vaḥ''—kepadamu; ''devāḥ''—para dewa; ''dāsyante''—akan menganugerahkan; ''yajña-bhāvitāḥ''—dengan dipuaskan oleh pelaksanaan korban-korban suci; ''taiḥ''—oleh mereka; ''dattān''—benda-benda yang diberikan; ''apradāya''—tanpa mempersembahkan; ''ebhyaḥ''—kepada dewa-dewa tersebut; ''yaḥ''—orang yang; ''bhuńkte''—menikmati; ''stenaḥ''—pencuri; ''evā''—pasti; ''saḥ''—dia.
</div>
</div>


Line 29: Line 33:


<div class="purport">
<div class="purport">
Para dewa adalah utusan-utusan yang dikuasakan untuk menyediakan bahan atas nama Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Viṣṇu. Karena itu, para dewa harus dipuaskan dengan pelaksanaan yajña- yajña yang sudah ditentukan. Dalam Veda, ada berbagai jenis yajñā yang dilakukan untuk berbagai jenis dewa, tetapi akhirnya semuanya dipersembahkan kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Bagi orang yang tidak mengerti apa itu Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, korban suci kepada para dewa dianjurkan. Menurut pelbagai sifat material orang yang bersangkutan, berbagai jenis yajñā dianjurkan dalam Veda. Sembahyang kepada berbagai dewa juga mempunyai dasar yang sama, yaitu menurut berbagai sifat. Misalnya, dianjurkan agar orang yang makan daging menyembah dewi Kālī, bentuk alam material yang mengerikan. Di hadapan dewi Kālī, pengorbanan binatang dianjurkan. Bagi orang yang berada dalam sifat kebaikan, sembahyang rohani kepada Viṣṇu dianjurkan. Tapi akhirnya segala yajñā dimaksudkan untuk berangsur-angsur mengangkat seseorang sampai kedudukan rohani. Manusia biasa memerlukan sekurang-kurangnya lima yajñā, yang disebut pañca-mahā-yajña.
Para dewa adalah utusan-utusan yang dikuasakan untuk menyediakan bahan atas nama Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Viṣṇu. Karena itu, para dewa harus dipuaskan dengan pelaksanaan ''yajña-yajña'' yang sudah ditentukan. Dalam ''Veda'', ada berbagai jenis ''yajña'' yang dilakukan untuk berbagai jenis dewa, tetapi akhirnya semuanya dipersembahkan kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Bagi orang yang tidak mengerti apa itu Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, korban suci kepada para dewa dianjurkan. Menurut pelbagai sifat material orang yang bersangkutan, berbagai jenis ''yajña'' dianjurkan dalam ''Veda''. Sembahyang kepada berbagai dewa juga mempunyai dasar yang sama, yaitu menurut berbagai sifat. Misalnya, dianjurkan agar orang yang makan daging menyembah dewi Kālī, bentuk alam material yang mengerikan. Di hadapan dewi Kālī, pengorbanan binatang dianjurkan. Bagi orang yang berada dalam sifat kebaikan, sembahyang rohani kepada Viṣṇu dianjurkan. Tapi akhirnya segala ''yajña'' dimaksudkan untuk berangsur-angsur mengangkat seseorang sampai kedudukan rohani. Manusia biasa memerlukan sekurang-kurangnya lima ''yajña'', yang disebut ''pañca-mahā-yajña''.


Akan tetapi, hendaknya diketahui bahwa segala kebutuhan hidup masyarakat manusia disediakan oleh para dewa sebagai pesuruh-pesuruh Tuhan. Tiada seorangpun yang dapat menyediakan sesuatu. Misalnya, sebagai contoh kita dapat memikirkan pangan masyarakat manusia. Makanan tersebut termasuk biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, susu, gula, dan sebagainya bagi orang dalam sifat kebaikan, dan juga makanan untuk orang yang tidak berpantang makan daging, misalnya daging dan sejenisnya. Tidak satupun di antara makanan-makanan itu dapat diciptakan oleh manusia. Demikian juga, panas, cahaya, air, udara, dan sebagainya juga merupakan kebutuhan hidup—tidak satupun di antaranya dapat dibuat oleh masyarakat manusia. Tanpa Tuhan Yang Maha Esa, tidak mungkin ada sinar matahari, sinar bulan, hujan, angin, dan sebagainya yang berlimpah-limpah, dan tanpa unsur-unsur itu tidak seorangpun dapat hidup. Ternyata kehidupan kita tergantung pada persediaan dari Tuhan. Untuk usaha pabrik pun kita membutuhkan begitu banyak bahan baku seperti logam, belerang, air raksa, mangan, dan kebutuhan pokok lainnya. Semua bahan tersebut disediakan oleh para pesuruh Tuhan, dengan maksud agar kita menggunakan bahan-bahan itu dengan cara yang sebenarnya untuk memelihara diri kita dalam keadaan sehat dan kuat dengan tujuan keinsafan diri, dan akhirnya menuju tujuan hidup yang paling utama, yaitu, pembebasan dari perjuangan hidup yang bersifat material. Tujuan hidup tersebut dicapai dengan pelaksanaan yajñā-yajna. Kalau kita lupa tujuan kehidupan hidup manusia dan hanya menerima persediaan dari pesuruh Tuhan demi kepuasan indria-indria dan menjadi semakin terikat dalam kehidupan material, yang tidak merupakan tujuan ciptaan, maka tentu saja kita menjadi pencuri. Karena itu kita dihukum oleh hukum-hukum alam material. Masyarakat pencuri tidak akan pernah berbahagia, sebab mereka tidak mempunyai tujuan hidup. Para pencuri duniawi yang kasar tidak mempunyai tujuan utama dalam kehidupan. Mereka hanya diarahkan menuju kepuasan indria-indria. Mereka juga tidak mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara melakukan yajñā-yajna. Akan tetapi, Śrī Caitanya memulai pelaksanaan yajñā yang termudah, yaitu, saṅkīrtana-yajña yang dapat dilakukan oleh siapapun di dunia yang mengakui prinsip-prinsip kesadaran Kṛṣṇa.
Akan tetapi, hendaknya diketahui bahwa segala kebutuhan hidup masyarakat manusia disediakan oleh para dewa sebagai pesuruh-pesuruh Tuhan. Tiada seorangpun yang dapat menyediakan sesuatu. Misalnya, sebagai contoh kita dapat memikirkan pangan masyarakat manusia. Makanan tersebut termasuk biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, susu, gula, dan sebagainya bagi orang dalam sifat kebaikan, dan juga makanan untuk orang yang tidak berpantang makan daging, misalnya daging dan sejenisnya. Tidak satupun di antara makanan-makanan itu dapat diciptakan oleh manusia. Demikian juga, panas, cahaya, air, udara, dan sebagainya juga merupakan kebutuhan hidup—tidak satupun di antaranya dapat dibuat oleh masyarakat manusia. Tanpa Tuhan Yang Maha Esa, tidak mungkin ada sinar matahari, sinar bulan, hujan, angin, dan sebagainya yang berlimpah-limpah, dan tanpa unsur-unsur itu tidak seorangpun dapat hidup. Ternyata kehidupan kita tergantung pada persediaan dari Tuhan. Untuk usaha pabrik pun kita membutuhkan begitu banyak bahan baku seperti logam, belerang, air raksa, mangan, dan kebutuhan pokok lainnya. Semua bahan tersebut disediakan oleh para pesuruh Tuhan, dengan maksud agar kita menggunakan bahan-bahan itu dengan cara yang sebenarnya untuk memelihara diri kita dalam keadaan sehat dan kuat dengan tujuan keinsafan diri, dan akhirnya menuju tujuan hidup yang paling utama, yaitu, pembebasan dari perjuangan hidup yang bersifat material. Tujuan hidup tersebut dicapai dengan pelaksanaan ''yajña-yajña''. Kalau kita lupa tujuan kehidupan hidup manusia dan hanya menerima persediaan dari pesuruh Tuhan demi kepuasan indria-indria dan menjadi semakin terikat dalam kehidupan material, yang tidak merupakan tujuan ciptaan, maka tentu saja kita menjadi pencuri. Karena itu kita dihukum oleh hukum-hukum alam material. Masyarakat pencuri tidak akan pernah berbahagia, sebab mereka tidak mempunyai tujuan hidup. Para pencuri duniawi yang kasar tidak mempunyai tujuan utama dalam kehidupan. Mereka hanya diarahkan menuju kepuasan indria-indria. Mereka juga tidak mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara melakukan ''yajña-yajña''. Akan tetapi, Śrī Caitanya memulai pelaksanaan ''yajña'' yang termudah, yaitu, ''saṅkīrtana-yajña'' yang dapat dilakukan oleh siapapun di dunia yang mengakui prinsip-prinsip kesadaran Kṛṣṇa.
</div>
</div>



Latest revision as of 01:54, 28 June 2018

Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 12

इष्टान्भोगान्हि वो देवा दास्यन्ते यज्ञभाविताः ।
तैर्दत्तानप्रदायैभ्यो यो भुङ्क्ते स्तेन एव सः ॥१२॥
iṣṭān bhogān hi vo devā
dāsyante yajña-bhāvitāḥ
tair dattān apradāyaibhyo
yo bhuńkte stena eva saḥ

Sinonim

iṣṭān—diinginkan; bhogān—kebutuhan hidup; hi—pasti; vaḥ—kepadamu; devāḥ—para dewa; dāsyante—akan menganugerahkan; yajña-bhāvitāḥ—dengan dipuaskan oleh pelaksanaan korban-korban suci; taiḥ—oleh mereka; dattān—benda-benda yang diberikan; apradāya—tanpa mempersembahkan; ebhyaḥ—kepada dewa-dewa tersebut; yaḥ—orang yang; bhuńkte—menikmati; stenaḥ—pencuri; evā—pasti; saḥ—dia.

Terjemahan

Para dewa mengurus berbagai kebutuhan hidup. Bila para dewa dipuaskan dengan pelaksanaan yajñā [korban suci], mereka akan menyediakan segala kebutuhan untukmu. Tetapi orang yang menikmati berkat-berkat itu tanpa mempersembahkannya kepada para dewa sebagai balasan pasti adalah pencuri.

Penjelasan

Para dewa adalah utusan-utusan yang dikuasakan untuk menyediakan bahan atas nama Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Viṣṇu. Karena itu, para dewa harus dipuaskan dengan pelaksanaan yajña-yajña yang sudah ditentukan. Dalam Veda, ada berbagai jenis yajña yang dilakukan untuk berbagai jenis dewa, tetapi akhirnya semuanya dipersembahkan kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Bagi orang yang tidak mengerti apa itu Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, korban suci kepada para dewa dianjurkan. Menurut pelbagai sifat material orang yang bersangkutan, berbagai jenis yajña dianjurkan dalam Veda. Sembahyang kepada berbagai dewa juga mempunyai dasar yang sama, yaitu menurut berbagai sifat. Misalnya, dianjurkan agar orang yang makan daging menyembah dewi Kālī, bentuk alam material yang mengerikan. Di hadapan dewi Kālī, pengorbanan binatang dianjurkan. Bagi orang yang berada dalam sifat kebaikan, sembahyang rohani kepada Viṣṇu dianjurkan. Tapi akhirnya segala yajña dimaksudkan untuk berangsur-angsur mengangkat seseorang sampai kedudukan rohani. Manusia biasa memerlukan sekurang-kurangnya lima yajña, yang disebut pañca-mahā-yajña.

Akan tetapi, hendaknya diketahui bahwa segala kebutuhan hidup masyarakat manusia disediakan oleh para dewa sebagai pesuruh-pesuruh Tuhan. Tiada seorangpun yang dapat menyediakan sesuatu. Misalnya, sebagai contoh kita dapat memikirkan pangan masyarakat manusia. Makanan tersebut termasuk biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran, susu, gula, dan sebagainya bagi orang dalam sifat kebaikan, dan juga makanan untuk orang yang tidak berpantang makan daging, misalnya daging dan sejenisnya. Tidak satupun di antara makanan-makanan itu dapat diciptakan oleh manusia. Demikian juga, panas, cahaya, air, udara, dan sebagainya juga merupakan kebutuhan hidup—tidak satupun di antaranya dapat dibuat oleh masyarakat manusia. Tanpa Tuhan Yang Maha Esa, tidak mungkin ada sinar matahari, sinar bulan, hujan, angin, dan sebagainya yang berlimpah-limpah, dan tanpa unsur-unsur itu tidak seorangpun dapat hidup. Ternyata kehidupan kita tergantung pada persediaan dari Tuhan. Untuk usaha pabrik pun kita membutuhkan begitu banyak bahan baku seperti logam, belerang, air raksa, mangan, dan kebutuhan pokok lainnya. Semua bahan tersebut disediakan oleh para pesuruh Tuhan, dengan maksud agar kita menggunakan bahan-bahan itu dengan cara yang sebenarnya untuk memelihara diri kita dalam keadaan sehat dan kuat dengan tujuan keinsafan diri, dan akhirnya menuju tujuan hidup yang paling utama, yaitu, pembebasan dari perjuangan hidup yang bersifat material. Tujuan hidup tersebut dicapai dengan pelaksanaan yajña-yajña. Kalau kita lupa tujuan kehidupan hidup manusia dan hanya menerima persediaan dari pesuruh Tuhan demi kepuasan indria-indria dan menjadi semakin terikat dalam kehidupan material, yang tidak merupakan tujuan ciptaan, maka tentu saja kita menjadi pencuri. Karena itu kita dihukum oleh hukum-hukum alam material. Masyarakat pencuri tidak akan pernah berbahagia, sebab mereka tidak mempunyai tujuan hidup. Para pencuri duniawi yang kasar tidak mempunyai tujuan utama dalam kehidupan. Mereka hanya diarahkan menuju kepuasan indria-indria. Mereka juga tidak mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara melakukan yajña-yajña. Akan tetapi, Śrī Caitanya memulai pelaksanaan yajña yang termudah, yaitu, saṅkīrtana-yajña yang dapat dilakukan oleh siapapun di dunia yang mengakui prinsip-prinsip kesadaran Kṛṣṇa.