ID/BG 3.30: Difference between revisions

(Bhagavad-gita Compile Form edit)
 
(Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
 
Line 5: Line 5:


==== ŚLOKA 30 ====
==== ŚLOKA 30 ====
<div class="devanagari">
:मयि सर्वाणि कर्माणि संन्यस्याध्यात्मचेतसा ।
:निराशीर्निर्ममो भूत्वा युध्यस्व विगतज्वरः ॥३०॥
</div>


<div class="verse">
<div class="verse">
:''mayi sarvāṇi karmaṇi''
:mayi sarvāṇi karmaṇi
:''sannyasyādhyātma-cetasā''
:sannyasyādhyātma-cetasā
:''nirāśīr nirmamo bhūtvā''
:nirāśīr nirmamo bhūtvā
:''yudhyasva vigata-jvaraḥ''
:yudhyasva vigata-jvaraḥ
 
</div>
</div>


Line 17: Line 21:


<div class="synonyms">
<div class="synonyms">
mayi—kepadaKu; sarvāni—segala jenis; karmaṇi—kegiatan; sannyasya—meninggalkan sepenuhnya; adhyātma—dengan pengetahuan lengkap tentang sang diri; cetasā—oleh kesadaran; nirāśīḥ—tanpa keinginan untuk keuntungan; nirmamaḥ—tanpa hak milik; bhūtvā—menjadi demikian; yudhyasva—bertempur; vigata-jvaraḥ—tanpa menjadi malas.
''mayi''—kepadaKu; ''sarvāni''—segala jenis; ''karmaṇi''—kegiatan; ''sannyasya''—meninggalkan sepenuhnya; ''adhyātma''—dengan pengetahuan lengkap tentang sang diri; ''cetasā''—oleh kesadaran; ''nirāśīḥ''—tanpa keinginan untuk keuntungan; ''nirmamaḥ''—tanpa hak milik; ''bhūtvā''—menjadi demikian; ''yudhyasva''—bertempur; ''vigata-jvaraḥ''—tanpa menjadi malas.
</div>
</div>


Line 29: Line 33:


<div class="purport">
<div class="purport">
Ayat ini menunjukkan maksud Bhagavad-gītā dengan jelas. Kṛṣṇa mengajarkan bahwa orang harus menjadi sadar akan Kṛṣṇa sepenuhnya untuk melaksanakan tugas kewajiban, seolah-olah dalam disiplin militer. Perintah seperti itu barangkali menimbulkan sedikit kesulitan. Walaupun demikian, tugas-tugas kewajiban harus dilaksanakan, dengan bergantung kepada Kṛṣṇa, sebab itulah kedudukan dasar makhluk hidup. Makhluk hidup tidak mungkin berbahagia lepas dari kerjasama dengan Tuhan Yang Maha Esa, sebab kedudukan dasar kekal makhluk hidup ialah kedudukan menaklukkan diri pada kehendak Tuhan. Karena itu, Arjuna disuruh bertempur oleh Śrī Kṛṣṇa seolah-olah Kṛṣṇa menjadi komandannya dalam tentara. Seseorang harus mengorbankan segala sesuatu demi kehendak Tuhan Yang Maha Esa yang baik, dan pada waktu yang sama melakukan tugas-tugas kewajiban tanpa menuntut hak milik. Arjuna tidak harus mempertimbangkan perintah Kṛṣṇa; dia hanya harus melaksanakan perintah Beliau. Tuhan Yang Maha Esa adalah Roh Yang Utama bagi semua roh; karena itu, orang yang bergantung sepenuhnya kepada Roh Yang Utama tanpa pertimbangan pribadi, atau dengan kata lain, orang sadar akan Kṛṣṇa sepenuhnya, disebut adhyātma-cetas. Nirāśīḥ berarti seseorang harus bertindak atas perintah atasan tetapi hendaknya jangan mengharapkan hasil atau pahala. Seorang kasir barangkali menghitung uang sebanyak bermiliyar-miliyar rupiah untuk majikannya, tetapi dia tidak menuntut satu rupiahpun untuk dirinya. Begitupula, orang harus menginsafi bahwa tiada sesuatupun di dunia ini yang dimiliki oleh seseorang secara pribadi, melainkan segala sesuatu adalah milik Tuhan Yang Maha Esa. Itulah arti sejati kata mayi, atau "kepadaKu." Apabila seseorang bertindak dalam kesadaran Kṛṣṇa seperti itu, pasti dia tidak menuntut hak milik atas segala sesuatu. Kesadaran ini disebut nirmama, atau "tiada sesuatu yang menjadi milik saya." Kalau ada rasa enggan untuk melaksanakan perintah yang tegas itu, yang tidak mempertimbangkan apa yang disebut sanak keluarga dalam hubungan jasmani, maka rasa enggan tersebut hendaknya dibuang. Dengan cara demikian, seseorang dapat menjadi vigata jvara atau bebas dari demam mental atau sifat malas. Semua orang mempunyai jenis pekerjaan tertentu yang harus dilaksanakan menurut sifat dan kedudukannya, dan segala tugas kewajibannya itu dapat dilaksanakan dalam kesadaran Kṛṣṇa, sebagaimana diuraikan di atas. Itu akan membawa dirinya sampai jalan menuju pembebasan.
Ayat ini menunjukkan maksud ''Bhagavad-gītā'' dengan jelas. Kṛṣṇa mengajarkan bahwa orang harus menjadi sadar akan Kṛṣṇa sepenuhnya untuk melaksanakan tugas kewajiban, seolah-olah dalam disiplin militer. Perintah seperti itu barangkali menimbulkan sedikit kesulitan. Walaupun demikian, tugas-tugas kewajiban harus dilaksanakan, dengan bergantung kepada Kṛṣṇa, sebab itulah kedudukan dasar makhluk hidup. Makhluk hidup tidak mungkin berbahagia lepas dari kerjasama dengan Tuhan Yang Maha Esa, sebab kedudukan dasar kekal makhluk hidup ialah kedudukan menaklukkan diri pada kehendak Tuhan. Karena itu, Arjuna disuruh bertempur oleh Śrī Kṛṣṇa seolah-olah Kṛṣṇa menjadi komandannya dalam tentara. Seseorang harus mengorbankan segala sesuatu demi kehendak Tuhan Yang Maha Esa yang baik, dan pada waktu yang sama melakukan tugas-tugas kewajiban tanpa menuntut hak milik. Arjuna tidak harus mempertimbangkan perintah Kṛṣṇa; dia hanya harus melaksanakan perintah Beliau. Tuhan Yang Maha Esa adalah Roh Yang Utama bagi semua roh; karena itu, orang yang bergantung sepenuhnya kepada Roh Yang Utama tanpa pertimbangan pribadi, atau dengan kata lain, orang sadar akan Kṛṣṇa sepenuhnya, disebut ''adhyātma-cetas''. ''Nirāśīḥ'' berarti seseorang harus bertindak atas perintah atasan tetapi hendaknya jangan mengharapkan hasil atau pahala. Seorang kasir barangkali menghitung uang sebanyak bermiliyar-miliyar rupiah untuk majikannya, tetapi dia tidak menuntut satu rupiahpun untuk dirinya. Begitu pula, orang harus menginsafi bahwa tiada sesuatupun di dunia ini yang dimiliki oleh seseorang secara pribadi, melainkan segala sesuatu adalah milik Tuhan Yang Maha Esa. Itulah arti sejati kata ''mayi'', atau "kepadaKu." Apabila seseorang bertindak dalam kesadaran Kṛṣṇa seperti itu, pasti dia tidak menuntut hak milik atas segala sesuatu. Kesadaran ini disebut ''nirmama'', atau "tiada sesuatu yang menjadi milik saya." Kalau ada rasa enggan untuk melaksanakan perintah yang tegas itu, yang tidak mempertimbangkan apa yang disebut sanak keluarga dalam hubungan jasmani, maka rasa enggan tersebut hendaknya dibuang. Dengan cara demikian, seseorang dapat menjadi ''vigata jvara'' atau bebas dari demam mental atau sifat malas. Semua orang mempunyai jenis pekerjaan tertentu yang harus dilaksanakan menurut sifat dan kedudukannya, dan segala tugas kewajibannya itu dapat dilaksanakan dalam kesadaran Kṛṣṇa, sebagaimana diuraikan di atas. Itu akan membawa dirinya sampai jalan menuju pembebasan.
</div>
</div>



Latest revision as of 02:04, 28 June 2018

Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 30

मयि सर्वाणि कर्माणि संन्यस्याध्यात्मचेतसा ।
निराशीर्निर्ममो भूत्वा युध्यस्व विगतज्वरः ॥३०॥
mayi sarvāṇi karmaṇi
sannyasyādhyātma-cetasā
nirāśīr nirmamo bhūtvā
yudhyasva vigata-jvaraḥ

Sinonim

mayi—kepadaKu; sarvāni—segala jenis; karmaṇi—kegiatan; sannyasya—meninggalkan sepenuhnya; adhyātma—dengan pengetahuan lengkap tentang sang diri; cetasā—oleh kesadaran; nirāśīḥ—tanpa keinginan untuk keuntungan; nirmamaḥ—tanpa hak milik; bhūtvā—menjadi demikian; yudhyasva—bertempur; vigata-jvaraḥ—tanpa menjadi malas.

Terjemahan

O Arjuna, karena itu, dengan menyerahkan segala pekerjaanmu kepadaKu, dengan pengetahuan sepenuhnya tentangKu, bebas dari keinginan untuk keuntungan, tanpa tuntutan hak milik, dan bebas dari sifat malas, bertempurlah.

Penjelasan

Ayat ini menunjukkan maksud Bhagavad-gītā dengan jelas. Kṛṣṇa mengajarkan bahwa orang harus menjadi sadar akan Kṛṣṇa sepenuhnya untuk melaksanakan tugas kewajiban, seolah-olah dalam disiplin militer. Perintah seperti itu barangkali menimbulkan sedikit kesulitan. Walaupun demikian, tugas-tugas kewajiban harus dilaksanakan, dengan bergantung kepada Kṛṣṇa, sebab itulah kedudukan dasar makhluk hidup. Makhluk hidup tidak mungkin berbahagia lepas dari kerjasama dengan Tuhan Yang Maha Esa, sebab kedudukan dasar kekal makhluk hidup ialah kedudukan menaklukkan diri pada kehendak Tuhan. Karena itu, Arjuna disuruh bertempur oleh Śrī Kṛṣṇa seolah-olah Kṛṣṇa menjadi komandannya dalam tentara. Seseorang harus mengorbankan segala sesuatu demi kehendak Tuhan Yang Maha Esa yang baik, dan pada waktu yang sama melakukan tugas-tugas kewajiban tanpa menuntut hak milik. Arjuna tidak harus mempertimbangkan perintah Kṛṣṇa; dia hanya harus melaksanakan perintah Beliau. Tuhan Yang Maha Esa adalah Roh Yang Utama bagi semua roh; karena itu, orang yang bergantung sepenuhnya kepada Roh Yang Utama tanpa pertimbangan pribadi, atau dengan kata lain, orang sadar akan Kṛṣṇa sepenuhnya, disebut adhyātma-cetas. Nirāśīḥ berarti seseorang harus bertindak atas perintah atasan tetapi hendaknya jangan mengharapkan hasil atau pahala. Seorang kasir barangkali menghitung uang sebanyak bermiliyar-miliyar rupiah untuk majikannya, tetapi dia tidak menuntut satu rupiahpun untuk dirinya. Begitu pula, orang harus menginsafi bahwa tiada sesuatupun di dunia ini yang dimiliki oleh seseorang secara pribadi, melainkan segala sesuatu adalah milik Tuhan Yang Maha Esa. Itulah arti sejati kata mayi, atau "kepadaKu." Apabila seseorang bertindak dalam kesadaran Kṛṣṇa seperti itu, pasti dia tidak menuntut hak milik atas segala sesuatu. Kesadaran ini disebut nirmama, atau "tiada sesuatu yang menjadi milik saya." Kalau ada rasa enggan untuk melaksanakan perintah yang tegas itu, yang tidak mempertimbangkan apa yang disebut sanak keluarga dalam hubungan jasmani, maka rasa enggan tersebut hendaknya dibuang. Dengan cara demikian, seseorang dapat menjadi vigata jvara atau bebas dari demam mental atau sifat malas. Semua orang mempunyai jenis pekerjaan tertentu yang harus dilaksanakan menurut sifat dan kedudukannya, dan segala tugas kewajibannya itu dapat dilaksanakan dalam kesadaran Kṛṣṇa, sebagaimana diuraikan di atas. Itu akan membawa dirinya sampai jalan menuju pembebasan.