ID/BG 4.42

Revision as of 02:32, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 42

तस्मादज्ञानसम्भूतं हृत्स्थं ज्ञानासिनात्मनः ।
छित्त्वैनं संशयं योगमातिष्ठोत्तिष्ठ भारत ॥४२॥
tasmād ajñāna-sambhūtaḿ
hṛt-sthaḿ jñānāsinātmanaḥ
chittvāinaḿ saḿśayaḿ yogam
ātiṣṭhottiṣṭha bhārata

Sinonim

tasmāt—karena itu; ajñāna-sambhūtam—dilahirkan dari kebodohan; hṛt-stham—terletak di dalam hati; jñāna—pengetahuan; asinā—oleh senjata; ātmanāḥ—dari sang diri; chittvā—memutuskan; enam—ini; saḿśayam—keragu-raguan; yogam—dalam yoga; ātiṣṭha—jadilah mantap; uttiṣṭha—bangunlah untuk bertempur; bhārata—wahai putera keluarga Bhārata.

Terjemahan

Karena itu, keragu-raguan yang telah timbul dalam hatimu karena kebodohan harus dipotong dengan senjata pengetahuan. Wahai Bhārata, dengan bersenjatakan yoga, bangunlah dan bertempur.

Penjelasan

Sistem yoga yang diajarkan dalam bab ini disebut sanātana-yoga, atau kegiatan kekal yang dilakukan oleh makhluk hidup. Di dalam yoga tersebut ada dua bagian perbuatan korban suci; yang satu disebut mengorbankan harta benda, dan yang lain disebut ilmu pengetahuan tentang sang diri, yang merupakan kegiatan yang bersifat rohani murni. Jika kegiatan mengorbankan harta benda material tidak digabungkan demi keinsafan rohani, maka korban suci seperti itu akan bersifat material. Tetapi orang yang melakukan korban suci seperti itu dengan tujuan rohani, atau dalam bhakti, adalah melakukan korban suci yang sempurna. Apabila kita meneliti kegiatan rohani, kita menemukan bahwa kegiatan rohani juga dibagi menjadi dua yaitu; pengertian tentang diri sendiri (atau tentang kedudukan dasar kita), dan kebenaran mengenai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengikuti jalan Bhagavad-gītā menurut aslinya dengan mudah sekali dapat mengerti dua bagian penting tersebut dalam pengetahuan rohani. Orang itu tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh pengetahuan sempurna tentang sang diri sebagai bagian dari Kṛṣṇa yang mempunyai sifat sama seperti Kṛṣṇa. Pengertian tersebut bermanfaat, sebab orang seperti itu dapat mengerti kegiatan rohani Kṛṣṇa dengan mudah. Pada awal bab ini kegiatan rohani Kṛṣṇa dibicarakan oleh Tuhan Yang Maha Esa Sendiri. Orang yang tidak mengerti ajaran Bhagavad-gītā tidak mempunyai keyakinan, dan dianggap menyalah-gunakan sebutir kebebasan yang telah dianugerahkan kepadanya oleh Tuhan. Walaupun ada pelajaran seperti itu, orang yang tidak mengerti sifat yang sejati Tuhan sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang kekal, penuh pengetahuan dan Mahatahu, pasti adalah orang bodoh nomor satu. Kebodohan dapat dihilangkan secara berangsur-angsur dengan menerima prinsip-prinsip kesadaran Kṛṣṇa. Kesadaran Kṛṣṇa dibangkitkan dengan berbagai jenis korban suci kepada para dewa, korban suci kepada Brahman, korban suci dalam berpantang hubungan suami-isteri, dalam hidup berumah tangga, dalam mengendalikan indria-indria, dalam berlatih yoga kebatinan, dalam pertapaan, dalam melepaskan ikatan terhadap harta benda material, dalam mempelajari Veda, dan dengan ikut serta dalam lembaga masyarakat yang disebut varṇāśrama-dharma. Segala macam hal tersebut dikenal sebagai korban suci, dan semuanya berdasarkan perbuatan yang teratur. Tetapi dalam semua kegiatan tersebut, unsur yang penting adalah keinsafan diri. Orang yang mencari tujuan itu adalah murid Bhagavad-gītā yang sejati, tetapi orang yang ragu-ragu tentang kekuasaan Kṛṣṇa akan jatuh kembali. Karena itu, dianjurkan agar seseorang mempelajari Bhagavad-gītā, atau kitab suci yang lain di bawah bimbingan seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya dengan pengabdian dan penyerahan diri. Seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya, termasuk garis perguruan sejak jaman purbakala, dan dia tidak menyimpang sedikitpun dari ajaran Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana diajarkan berjuta-juta tahun yang lalu kepada dewa matahari. Ajaran Bhagavad-gītā telah turun-temurun ke dalam kerajaan di bumi dari dewa matahari. Karena itu, hendaknya orang mengikuti ajaran Bhagavad-gītā, sebagaimana diungkapkan dalam Bhagavad-gītā sendiri dan waspada terhadap orang yang mementingkan dirinya sendiri, mencari pujian pribadi dan menyesatkan orang lain dari jalan yang sejati. Kṛṣṇa pasti Kepribadian Yang Paling Utama, dan kegiatan Kṛṣṇa bersifat rohani. Orang yang mengerti kenyataan ini adalah orang yang sudah mencapai pembebasan sejak awal ia mulai mempelajari Bhagavad-gītā.

"Demikianlah selesai penjelasan Bhaktivedanta mengenai Bab Empat Śrīmad Bhagavad-gītā perihal Pengetahuan Rohani".