ID/BG 6.32

Revision as of 07:18, 3 January 2018 by Gusti (talk | contribs) (Bhagavad-gita Compile Form edit)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 32

ātmaupamyena sarvatra
samaḿ paśyati yo 'rjuna
sukhaḿ vā yadi vā duḥkhaḿ
sa yogī paramo mataḥ

Sinonim

ātmā—dengan dirinya; aupamyena—menurut perbandingan; sarvatra—di mana-mana; samam—dengan cara yang sama; paśyāti—melihat; yaḥ—dia yang; arjuna—wahai Arjuna; sukham—suka; vā—atau; yādi—kalau; vā—atau; duḥkham—dukacita; saḥ—dia; yogī—rohaniwan; paramaḥ—sempurna; mataḥ—dianggap.

Terjemahan

Orang yang melihat persamaan sejati semua makhluk hidup, baik yang dalam suka maupun dalam dukanya, menurut perbandingan dengan dirinya sendiri, adalah yogī yang sempurna, wahai Arjuna.

Penjelasan

Orang yang sadar akan Kṛṣṇa adalah yogī yang sempurna; dia menyadari suka dan duka semua insan berdasarkan pengalaman pribadinya. Apabila makhluk hidup melupakan hubungannya dengan Tuhan, kelupaan itu menyebabkan ia berduka-cita. Kalau makhluk hidup mengenal Kṛṣṇa sebagai Kepribadian Yang Paling Utama yang menikmati segala kegiatan manusia, pemilik semua tanah dan planet, dan kawan yang paling tulus hati bagi semua makhluk hidup, maka pengetahuan itu menyebabkan ia berbahagia. Seorang yogī yang sempurna mengetahui bahwa makhluk hidup yang diikat oleh sifat-sifat alam material dipengaruhi oleh tiga jenis kesengsaraan material karena dia melupakan hubungannya dengan Kṛṣṇa. Oleh karena orang yang sadar akan Kṛṣṇa berbahagia, dia berusaha menyebarkan pengetahuan tentang Kṛṣṇa di mana-mana. Oleh karena seorang yogī berusaha menyebarkan pentingnya menjadi sadar akan Kṛṣṇa, dialah dermawan terbaik di dunia dan hamba Tuhan yang paling dicintai oleh Beliau. Na ca tasmān manuṣyeṣu kaścin me priya-kṛttamaḥ (Bg. 18.69). Dengan kata lain, seorang penyembah selalu menjaga kesejahteraan semua makhluk hidup, dan dengan cara demikian, dia sungguh-sungguh menjadi kawan semua makhluk. Dia menjadi yogī terbaik karena dia tidak menginginkan kesempurnaan dalam yoga untuk keuntungan pribadinya, tetapi dia juga berusaha untuk orang lain. Dia tidak iri hati terhadap sesama makhluk hidup. Inilah perbedaan antara seorang penyembah Tuhan Yang Murni dengan seorang yogī yang hanya mementingkan kemajuan pribadinya. Seorang yogī yang sudah mengundurkan diri ke tempat yang sunyi untuk bersemadi secara sempurna mungkin kurang sempurna dibandingkan dengan seorang penyembah yang sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengarahkan setiap orang menuju kesadaran Kṛṣṇa.