ID/BG 7.7

Revision as of 03:25, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 7

मत्तः परतरं नान्यत्किञ्चिदस्ति धनञ्जय ।
मयि सर्वमिदं प्रोतं सूत्रे मणिगणा इव ॥७॥
mattaḥ parataraḿ nānyat
kiñcid asti dhanañjaya
mayi sarvam idaḿ protaḿ
sūtre maṇi-gaṇā iva

Sinonim

mattaḥ—melampauiKu; para-taram—lebih tinggi; na—tidak; anyat kiñcit—apapun yang lain; asti—ada; dhanañjaya—wahai perebut kekayaan; mayi—di dalam DiriKu; sarvam—segala sesuatu yang ada; idam—yang kita lihat; protam—diikat pada seutas tali; sūtre—benang; maṇi-gaṇāḥ—mutiara-mutiara; ivā—seperti.

Terjemahan

Wahai perebut kekayaan, tidak ada kebenaran yang lebih tinggi dari padaKu. Segala sesuatu bersandar kepadaKu, bagaikan mutiara diikat pada seutas tali.

Penjelasan

Biasanya ada perdebatan mengenai apakah Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama berbentuk pribadi atau tidak berbentuk pribadi. Menurut Bhagavad-gītā, Kebenaran Mutlak adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Śrī Kṛṣṇa, dan kenyataan ini dibenarkan pada setiap langkah. Khususnya dalam ayat ini, ditegaskan bahwa Kebenaran Mutlak adalah kepribadian. Brahma-saṁhitā juga membenarkan bahwa Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama: īśvaraḥ paramaḥ kṛṣṇaḥ sac-cid-ānanda-vigrahaḥ; yaitu, Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah Śrī Kṛṣṇa. Tuhan Yang Mahaabadi, sumber segala kebahagiaan, Govinda, dan bentuk kekal kebahagiaan dan pengetahuan yang lengkap. Oleh karena bukti dari sumber-sumber yang dapat dipercaya tersebut, tidak dapat diragu-ragukan bahwa Kebenaran Mutlak adalah Kepribadian Yang Paling Utama, sebab segala sebab. Akan tetapi, orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan berdebat berdasarkan kekuatan versi Veda yang diberikan dalam Śvetāśvatara Upaniṣad (3.10) sebagai berikut: tato yad uttarataraṁ tad arūpam anāmayam/ ya etad vidur amṛtās te bhavanti athetare duḥkham evāpiyanti. "Di dunia material dimengerti bahwa Brahmā, makhluk hidup pertama di alam semesta, adalah yang paling tinggi di antara para dewa, manusia, dan binatang-binatang yang lebih rendah. Tetapi di atas Brahmā ada Kerohanian (Transenden) yang tidak mempunyai bentuk material dan bebas dari segala pengaruh material. Siapapun yang dapat mengenal Beliau juga menjadi rohani, tetapi mereka yang belum mengenal Beliau menderita kesengsaraan dunia material".

Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan lebih menitik-beratkan kata arūpam. Tetapi kata arūpam tidak berarti tanpa bentuk pribadi. Kata arūpam menunjukkan bentuk rohani kekekalan, kebahagiaan dan pengetahuan sebagaimana diuraikan dalam Brahma-saṁhitā yang dikutip di atas. Ayat-ayat lain dari Śvetāśvatara Upaniṣad membenarkan kenyataan ini sebagai berikut:

vedāham etaḿ puruṣaḿ mahāntam
āditya-varṇaḿ tamasaḥ parastāt
tam eva viditvāti mṛtyum eti
nānyaḥ panthā vidyāte 'yanāya
yasmāt paraḿ nāparam asti kiñcid
yasmān nāṇīyo no jyāyo 'sti kiñcit
vṛkṣa iva stabdho divi tiṣṭhaty ekas
tenedaḿ pūrṇaḿ puruṣeṇa sarvam

"Saya mengenal bahwa Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa melampaui segala paham material tentang kegelapan. Hanya orang yang mengenal Beliau dapat melampaui ikatan kelahiran dan kematian. Tiada cara lain untuk mencapai pembebasan selain pengetahuan tentang Kepribadian Yang Paling Utama itu".

"Tidak ada kebenaran yang lebih tinggi daripada Kepribadian Yang Paling Utama itu, karena Beliau adalah Yang Mahatinggi. Beliau lebih kecil daripada yang paling kecil dan Beliau lebih besar daripada yang paling besar. Beliau mantap bagaikan pohon yang diam. Beliau menerangi angkasa rohani. Seperti halnya sebatang pohon menyebarkan akarnya, begitu pula Beliau menyebarkan tenaga-tenagaNya yang luas".