ID/BG 9.11

Revision as of 03:39, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 11

अवजानन्ति मां मूढा मानुषीं तनुमाश्रितम् ।
परं भावमजानन्तो मम भूतमहेश्वरम् ॥११॥
avajānanti māḿ mūḍhā
mānuṣīḿ tanum āśritam
paraḿ bhāvam ajānanto
mama bhūta-maheśvaram

Sinonim

avajānanti—mengejek; mām—Aku; mūḍhāḥ—orang bodoh; mānuṣīm—dalam bentuk manusia; tanum—sebuah badan; āśritam—menerima; param—rohani; bhāvam—sifat; ajānantaḥ—tidak mengetahui; mama—milikKu; bhūta—segala sesuatu yang ada; mahā-īśvaram—Pemilik Yang Paling Utama.

Terjemahan

Orang bodoh mengejek diriKu bila Aku turun dalam bentuk seperti manusia. Mereka tidak mengenal sifat rohaniKu sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada.

Penjelasan

Berkenaan dengan penjelasan ayat-ayat sebelumnya dalam bab ini, sudah jelas bahwa walaupun Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa muncul seperti seorang manusia, Beliau bukan manusia biasa. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang menjalankan ciptaan, pemeliharaan dan peleburan seluruh manifestasi alam semesta tidak mungkin manusia biasa. Namun, ada banyak orang bodoh yang menganggap Kṛṣṇa tidak lebih daripada manusia perkasa. Sebenarnya, Kṛṣṇa adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang asli, sebagaimana dibenarkan dalam Brahma-saṁhitā (īśvaraḥ paramaḥ kṛṣṇaḥ); Kṛṣṇa adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Ada banyak īśvara, kepribadian-kepribadian yang mengendalikan, dan kelihatannya yang satu lebih hebat daripada yang lain. Dalam pelaksanaan kegiatan di dunia material, kita menemukan pejabat atau pengurus. Di atas pejabat atau pengurus itu ada sekretaris. Di atas sekretaris ada menteri, dan di atas menteri ada seorang presiden. Tiap-tiap kepribadian tersebut mengendalikan, tetapi yang satu dikendalikan oleh yang lain. Dalam Brahma-saṁhitā, dinyatakan bahwa Kṛṣṇa adalah kepribadian yang mengendalikan segala sesuatu. Tentu saja ada banyak kepribadian yang mengendalikan, baik di dunia material maupun di dunia rohani. Tetapi Kṛṣṇa adalah kepribadian yang tertinggi yang mengendalikan segala sesuatu (īśvaraḥ paramaḥ kṛṣṇaḥ), dan badan Kṛṣṇa bersifat sac-cid-ānanda, atau bukan material.

Badan-badan material tidak dapat melakukan perbuatan ajaib yang diuraikan dalam ayat-ayat sebelum ayat ini. Badan Kṛṣṇa kekal, penuh kebahagiaan dan penuh pengetahuan. Kendatipun Kṛṣṇa bukan manusia biasa, tetapi orang bodoh mengejek Kṛṣṇa dan menganggap Kṛṣṇa sebagai manusia biasa. Dalam ayat ini, badan Kṛṣṇa disebut mānuṣīm karena Kṛṣṇa bertindak seperti seorang manusia, kawan Arjuna, seorang tokoh politik yang terlibat dalam Perang Kurukṣetra. Kṛṣṇa bertindak seperti manusia biasa dengan banyak cara, tetapi sebenarnya badan Kṛṣṇa adalah sac-cid-ānanda-vigraha—kebahagiaan kekal dan pengetahuan mutlak. Kenyataan ini juga dibenarkan dalam Veda. Sac-cid-ānanda-rūpāya kṛṣṇāya: "Hamba bersujud kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Kṛṣṇa, bentuk kekal pengetahuan dan kebahagiaan." (Gopāla-tāpanī Upaniṣad 1.1). Ada banyak uraian lain dalam Veda. Tam ekaṁ govindam: "Anda adalah Govinda, kebahagiaan indria-indria dan sapi-sapi." Sac-cid-ānanda-vigraham: "Bentuk anda bersifat rohani, penuh pengetahuan, kebahagiaan dan kekekalan." (Gopāla-tāpanī Upaniṣad 1.35).

Walaupun badan Śrī Kṛṣṇa bersifat rohani, penuh kebahagiaan dan pengetahuan, banyak orang yang hanya namanya saja sarjana dan penafsir Bhagavad-gītā mengejek Kṛṣṇa sebagai manusia biasa. Mungkin seorang sarjana dilahirkan sebagai manusia luar biasa karena perbuatan yang baik dari penjelmaan yang lalu, tetapi paham seperti itu tentang Śrī Kṛṣṇa disebabkan kekurangan pengetahuan. Karena itu, mereka disebut dengan istilah mūḍha, sebab hanya orang bodoh menganggap Kṛṣṇa manusia biasa. Orang bodoh menganggap Kṛṣṇa manusia biasa karena mereka belum mengenal kegiatan rahasia Tuhan Yang Maha Esa dan berbagai tenaga Beliau. Mereka tidak mengetahui bahwa Kṛṣṇa adalah lambang pengetahuan dan kebahagiaan lengkap, bahwa Kṛṣṇa adalah Pemilik segala sesuatu dan Beliau dapat menganugerahkan pembebasan kepada siapa pun. Oleh karena mereka tidak mengetahui bahwa Kṛṣṇa memiliki begitu banyak kwalifikasi rohani, mereka mengejek Kṛṣṇa.

Mereka juga tidak mengetahui bahwa penjelmaan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa di dunia material ini adalah perwujudan tenaga dalam milik Kṛṣṇa. Kṛṣṇa adalah Penguasa tenaga material. Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa ayat (mama māyā duratyayā), Kṛṣṇa menyatakan bahwa walaupun tenaga material sangat perkasa, tenaga material itu di bawah pengendalian DiriNya, dan siapa pun yang menyerahkan diri kepada Kṛṣṇa dapat keluar dari pengendalian tenaga material. Kalau roh yang sudah menyerahkan diri kepada Kṛṣṇa dapat keluar dari pengaruh tenaga material, bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Esa, yang menjalankan ciptaan, pemeliharaan dan peleburan seluruh alam semesta, dapat memiliki badan material seperti kita? Karena itu, paham bahwa Kṛṣṇa mempunyai badan material adalah kebodohan belaka. Akan tetapi, orang bodoh tidak dapat membayangkan bahwa Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Kṛṣṇa, yang muncul seperti manusia biasa, dapat mengendalikan semua atom dalam manifestasi bentuk semesta yang maha besar. Yang paling besar dan paling kecil di luar jangkauan mereka, karena itu, mereka tidak dapat membayangkan bahwa suatu bentuk seperti bentuk manusia dapat mengendalikan yang tidak terhingga dan yang paling kecil pada waktu yang sama. Sebenarnya, walaupun Kṛṣṇa mengendalikan yang tidak terhingga dan yang terbatas, Beliau terpisah dari segala manifestasi itu. Mengenai yogam aiśvaram, atau kekuatan rohani Kṛṣṇa yang tidak dapat dipahami, dinyatakan dengan jelas bahwa Beliau dapat mengendalikan yang tidak terhingga dan yang terbatas pada waktu yang sama dan bahwa Beliau tetap menyisih dari semuanya. Orang bodoh tidak dapat membayangkan bagaimana Kṛṣṇa, yang muncul seperti manusia biasa, dapat mengendalikan yang tidak terhingga dan yang terbatas. Tetapi para penyembah yang murni mengakui kenyataan itu, sebab mereka mengetahui bahwa Kṛṣṇa adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, mereka menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kṛṣṇa dan menekuni kesadaran Kṛṣṇa, bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ada banyak perselisihan paham antara orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan dan orang yang mengakui bentuk pribadi Tuhan mengenai penjelmaan Kṛṣṇa sebagai manusia. Tetapi kalau kita meneliti Bhagavad-gītā dan Śrīmad-Bhāgavatam, teks-teks yang dibenarkan untuk mengerti ilmu pengetahuan tentang Kṛṣṇa, kita dapat mengerti bahwa Kṛṣṇa adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Kṛṣṇa bukan manusia biasa, walaupun Kṛṣṇa muncul di bumi ini seperti manusia biasa. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda pertama, Bab Pertama, pada waktu para resi yang dipimpin oleh Śaunaka bertanya tentang kegiatan Kṛṣṇa, mereka berkata:

kṛtavān kila karmaṇi
saha rāmeṇa keśavaḥ
ati-martyāni bhagavān
gūḍhaḥ kapaṭa-māṇuṣaḥ

"Śrī Kṛṣṇa, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, bersama Balarāma, bermain seperti manusia, dan dengan menyamar seperti itu Beliau melakukan banyak kegiatan yang melampaui kekuatan manusia." (Bhag. 1.1.20). Penjelmaan Kṛṣṇa sebagai manusia membingungkan orang bodoh. Tidak mungkin seorang manusia melakukan perbuatan ajaib yang dilakukan oleh Kṛṣṇa selama Beliau berada di bumi ini. Pada waktu Kṛṣṇa muncul di hadapan ayah dan ibuNya, Vasudeva dan Devakī, Beliau muncul dengan bentuk yang berlengan empat, tetapi sesudah orang tuaNya berdoa, Beliau mengubah DiriNya menjadi anak biasa. Sebagaimana dinyatakan dalam Bhāgavatam (10.3.46), babhūva prākṛtaḥ śiśuḥ; Kṛṣṇa menjadi seperti anak biasa, manusia biasa. Di sini sekali lagi disebut bahwa penjelmaan Kṛṣṇa sebagai manusia biasa adalah salah satu ciri badan rohaniNya. Dalam Bab Sebelas Bhagavad-gītā juga dinyatakan bahwa Arjuna berdoa supaya dia dapat melihat bentuk Kṛṣṇa yang berlengan empat (tenaiva rūpeṇa catur-bhujena). Sesudah memperlihatkan bentuk tersebut, atas permintaan Arjuna, sekali lagi Kṛṣṇa mengubah Diri dalam bentukNya yang asli seperti manusia (mānuṣaṁ rūpam). Berbagai ciri Tuhan Yang Maha Esa tersebut tentu saja bukan ciri-ciri manusia biasa.

Beberapa orang yang mengejek Kṛṣṇa mengidap penyakit filsafat Māyāvādī, mereka mengutip ayat Śrīmad-Bhāgavatam (3.29.21) untuk membuktikan bahwa Kṛṣṇa hanya manusia biasa. Ahaṁ sarveṣu bhūteṣu bhūtātmāvasthitaḥ sadā. "Yang Mahakuasa berada di dalam setiap makhluk hidup." Lebih baik kita mengikuti ayat ini menurut penjelasan dari para ācārya Vaisnava seperti Jīva Gosvāmī dan Viśvanātha Cakravartī Ṭhākura daripada mengikuti penafsiran dari orang yang tidak dibenarkan mengejek Kṛṣṇa. Jīva Gosvāmī dalam penjelasannya mengenai ayat ini menyatakan bahwa Kṛṣṇa, dalam penjelmaanNya yang berkuasa penuh sebagai Paramātmā, bersemayam di dalam hati makhluk hidup yang bergerak dan tidak bergerak sebagai Roh Yang Utama. Karena itu, penyembah yang baru mulai belajar yang memperhatikan arcā-mūrti, atau bentuk Tuhan Yang Maha Esa di tempat sembahyang, tetapi tidak menghormati makhluk hidup lainnya, sebenarnya sembahyang dengan cara yang kurang berguna. Ada tiga jenis penyembah Tuhan, dan orang yang baru mulai belajar berada pada tingkat yang paling rendah. Penyembah yang baru mulai belajar lebih memperhatikan Arca di tempat sembahyang daripada memperhatikan penyembah-penyembah lain. Karena itu, Viśvanātha Cakravartī Ṭhākura memberi peringatan bahwa sikap mental seperti ini sebaiknya diperbaiki. Seorang penyembah hendaknya melihat bahwa oleh karena Kṛṣṇa bersemayam di dalam hati semua orang sebagai Paramātmā, setiap badan adalah penutup jasmani atau tempat sembahyang memuja Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, seperti halnya seseorang menghormati tempat sembahyang kepada Tuhan, seperti itu pula dia harus menghormati setiap badan sebagai tempat tinggal Paramātmā. Jadi, semua orang harus dihormati sebagaimana mestinya dan hendaknya jangan diremehkan.

Ada juga banyak orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan yang mengejek persembahyangan di tempat-tempat sembahyang. Mereka mengatakan bahwa Tuhan berada di mana-mana, karena itu, mengapa seseorang harus membatasi dirinya hanya pada bersembahyang di tempat sembahyang? Tetapi kalau Tuhan berada di mana-mana, bukankah Tuhan juga berada di tempat sembahyang atau di tempat Arca? Orang yang mengakui bentuk pribadi Tuhan dan orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan akan bertengkar satu sama lain untuk selamanya. Tetapi seorang penyembah yang sempurna dalam kesadaran Kṛṣṇa mengetahui bahwa walaupun Kṛṣṇa adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Beliau berada di mana-mana, sebagaimana dibenarkan dalam Brahma-saṁhitā. Walaupun tempat tinggal pribadi Kṛṣṇa adalah Goloka Vṛndāvana dan Beliau selalu tinggal di sana, Beliau berada di mana-mana di seluruh ciptaan material dan ciptaan rohani melalui berbagai manifestasi tenagaNya dan penjelmaan yang berkuasa penuh dari DiriNya.