ID/BG 9.30

Revision as of 03:46, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 30

अपि चेत्सुदुराचारो भजते मामनन्यभाक् ।
साधुरेव स मन्तव्यः सम्यग्व्यवसितो हि सः ॥३०॥
api cet su-durācāro
bhajate mām ananya-bhāk
sādhur eva sa mantavyaḥ
samyag vyavasito hi saḥ

Sinonim

api—meskipun; cet—kalau; su-durācāraḥ—orang yang melakukan perbuatan yang paling jijik; bhajate—tekun dalam bhakti; mām—kepadaKu; ananya-bhāk—tanpa menyimpang; sādhuḥ—orang suci; evā—pasti; saḥ—dia; mantavyaḥ—harus diakui; samyak—sepenuhnya; vyavasitāḥ—mantap dalam ketabahan hati; hi—pasti; saḥ—dia.

Terjemahan

Meskipun seseorang melakukan perbuatan yang paling jijik, kalau ia tekun dalam bhakti, ia harus diakui sebagai orang suci karena ia mantap dalam ketabahan hatinya dengan cara yang benar.

Penjelasan

Kata su-durācāraḥ dalam ayat ini sangat bermakna, dan hendaknya kita mengerti arti kata itu dengan cara yang benar. Bila makhluk hidup terikat ada dua jenis kegiatannya: yang satu menurut keadaan di dunia material dan yang lain menurut kedudukan dasarnya. Untuk melindungi badan atau mematuhi aturan masyarakat dan negara, tentu saja ada berbagai kegiatan, bahkan untuk para penyembah sekalipun berhubungan dengan keadaan kehidupan di dunia. Kegiatan itu disebut kegiatan menurut keadaan di dunia material. Di samping kegiatan tersebut, makhluk hidup yang sadar sepenuhnya terhadap sifat rohaninya dan tekun dalam kesadaran Kṛṣṇa atau bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa mempunyai kegiatan yang disebut kegiatan rohani. Kegiatan seperti itu dilakukan dalam kedudukan dasarnya, dan kegiatan itu disebut dengan istilah bhakti. Dalam keadaan terikat, kadang-kadang bhakti dan pengabdian menurut keadaan di dunia material yang berhubungan dengan badan berjalan searah. Tetapi kadang-kadang kegiatan tersebut berlawanan. Sejauh mungkin seorang penyembah harus sangat hati-hati supaya ia tidak melakukan sesuatu yang dapat mengganggu keadaannya yang sehat. Ia mengetahui bahwa kesempurnaan kegiatannya bergantung pada kemajuan keinsafannya terhadap kesadaran Kṛṣṇa. Akan tetapi, kadang-kadang tampak bahwa orang dalam kesadaran Kṛṣṇa melakukan perbuatan yang dianggap perbuatan yang paling menjijikkan menurut pandangan masyarakat atau menurut etika politik. Tapi jatuh untuk sementara waktu seperti itu tidak berarti penyembah yang bersangkutan disekor. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam dinyatakan bahwa kalau seseorang jatuh tetapi tekun dengan tulus ikhlas dalam bhakti rohani kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka Tuhan yang bersemayam di dalam hatinya menyucikan penyembah yang bersangkutan dan memaafkan perbuatan yang menjijikan itu. Pencemaran material sangat kuat sehingga seorang yogī yang tekun sepenuhnya dalam pengabdian kepada Tuhan pun kadang-kadang terperangkap; tetapi kesadaran Kṛṣṇa sangat kuat sehingga jatuh secara kebetulan seperti itu segera diperbaiki. Karena itu, proses bhakti selalu sukses. Hendaknya orang jangan mengejek seorang penyembah karena kebetulan ia jatuh dari jalan teladan, sebab sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut, jatuh secara kebetulan seperti itu akan dihentikan sesudah beberapa waktu, begitu seorang penyembah mantap sepenuhnya dalam kesadaran Kṛṣṇa.

Karena itu, harus diakui bahwa seorang yang mantap dalam kesadaran Kṛṣṇa menekuni proses mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa, Hare Kṛṣṇa, Kṛṣṇa Kṛṣṇa, Hare Hare/ Hare Rāma, Hare Rāma, Rāma Rāma, Hare Hare berada dalam kedudukan rohani, meskipun secara kebetulan tampak bahwa ia sudah jatuh. Kata sādhur eva, "dia orang suci," sangat tegas. Kata-kata itu merupakan peringatan kepada orang yang bukan penyembah supaya seorang penyembah jangan diejek karena ia celaka sehingga jatuh. Ia harus tetap dianggap orang suci walaupun kebetulan ia sudah jatuh. Kata mantavyaḥ lebih tegas lagi. Kalau seseorang tidak mengikuti aturan ini, dan mengejek seorang penyembah karena ia kecelakaan sehingga jatuh, maka orang yang mengejek tersebut sesungguhnya tidak mengikuti peraturan Tuhan Yang Maha Esa. Satu-satunya kwalifikasi seorang penyembah ialah bahwa ia harus tekun sepenuhnya hanya dalam bhakti dan tidak pernah menyimpang.

Dalam Nṛsiṁha Purāṇa pernyataan berikut diberikan:

bhagavati ca harāv ananya-cetā
bhṛśa-malino 'pi virājate manuṣyaḥ
na hi śaśa-kaluṣa-cchabiḥ kadācit
timira-parābhavatām upaiti candraḥ

Ayat ini berarti meskipun kadang-kadang tampak bahwa seseorang yang tekun sepenuhnya dalam bhakti kepada Tuhan melakukan kegiatan yang menjijikkan, kegiatan tersebut seharusnya dipandang seperti bintik-bintik yang mirip dengan gambar kelinci pada bulan. Bintik-bintik seperti itu tidak mengalangi pancaran sinar bulan. Begitu pula, walaupun seorang penyembah celaka sehingga jatuh dari jalan watak yang suci, namun hal itu tidak menyebabkan penyembah yang bersangkutan menjijikkan.

Di pihak lain, hendaknya orang jangan salah paham dan menganggap bahwa seorang penyembah dalam bhakti rohani dapat bertindak dengan segala cara yang menjijikkan; ayat ini hanya membicarakan kecelakaan yang terjadi secara kebetulan karena daya hubungan material yang kuat. Bhakti kurang lebih berarti memaklumkan perang terhadap tenaga yang menyebabkan khayalan. Selama seseorang belum cukup kuat untuk bertempur melawan tenaga yang menyebabkan khayalan, mungkin kadang-kadang ia akan jatuh kecelakaan. Tapi kalau seseorang sudah cukup kuat, dia tidak akan jatuh seperti itu lagi, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Hendaknya orang jangan mengambil untung dari ayat ini dan melakukan kegiatan yang bukan-bukan dan masih menganggap dirinya penyembah. Kalau dengan bhakti wataknya tidak menjadi lebih baik, harus dimengerti bahwa dia bukan penyembah yang maju.