ID/BG 9.6

Revision as of 03:48, 28 June 2018 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0019: LinkReviser - Revised links and redirected them to the de facto address when redirect exists)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 6

यथाकाशस्थितो नित्यं वायुः सर्वत्रगो महान् ।
तथा सर्वाणि भूतानि मत्स्थानीत्युपधारय ॥६॥
yathākāśa-sthito nityaḿ
vāyuḥ sarvatra-go mahān
tathā sarvāṇi bhūtāni
mat-sthānīty upadhāraya

Sinonim

yathā—bagaikan; ākāśa-sthitaḥ—terletak di angkasa; nityam—selalu; vāyuḥ—angin; sarvatra-gaḥ—bertiup di mana-mana; mahān—besar; tathā—seperti itu pula; sarvāni bhūtāni—semua makhluk hidup yang diciptakan; mat-sthāni—berada di dalam DiriKu; iti—demikian; upadhāraya—cobalah mengerti.

Terjemahan

Mengertilah bahwa semua makhluk hidup yang diciptakan bersandar dalam DiriKu bagaikan angin besar yang bertiup di mana-mana selalu berada di angkasa.

Penjelasan

Orang biasa hampir tidak dapat mengerti bagaimana ciptaan material yang amat besar ini bersandar di dalam Diri Kṛṣṇa. Tetapi Kṛṣṇa mengemukakan contoh yang dapat membantu kita untuk mengerti hal ini. Mungkin angkasa adalah manifestasi terbesar yang dapat kita bayangkan. Di angkasa itu, angin atau udara adalah di alam semesta. Gerak angin mempengaruhi gerak segala benda lainnya. Walaupun angin besar sekali, angin masih terletak di dalam angkasa; angin tidak di luar angkasa. Begitu pula, semua manifestasi alam semesta yang ajaib terwujud atas kehendak Yang Paling Utama, Tuhan Yang Maha Esa, dan semuanya takluk kepada kehendak Yang Paling Utama itu. Pada umumnya kita mengatakan bahwa tiada sehelai rumputpun yang bergerak tanpa kehendak Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, segala sesuatu bergerak di bawah kehendak Kṛṣṇa: Atas kehendak Kṛṣṇa segala sesuatu diciptakan, dan segala sesuatu sedang dipelihara, dan segala sesuatu dilebur. Namun Kṛṣṇa masih tetap menyisih dari segala sesuatu, bagaikan angkasa yang selalu menyisih dari kegiatan angin.

Dalam Upaniṣad-upaniṣad, dinyatakan, yad-bhīṣā vātaḥ pavate. "Angin bertiup karena takut kepada Tuhan Yang Maha Esa." (Taittirīya Upaniṣad 2.8.1). Dalam Bṛhad-āraṇyaka Upaniṣad (3.8.9) dinyatakan, etasya vā akṣarasya praśāsane gārgi sūrya-candramasau vidhṛtau tiṣṭhata etasya vā akṣarasya praśāsane gārgi dyāv-āpṛthivyau vidhṛtau tiṣṭhataḥ. "Atas perintah Yang Mahakuasa, di bawah pengawasan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, bulan, matahari dan planet-planet besar lainnya bergerak." Dalam Brahma-saṁhitā (5.52) juga dinyatakan:

yac-cakṣur eṣa savitā sakala-grahāṇāḿ
rājā samasta-sura-mūrtir aśeṣa-tejāḥ
yasyājñayā bhramati sambhṛta-kāla-cakro
govindam ādi-puruṣaḿ tam ahaḿ bhajāmi'

Ayat ini menguraikan gerak matahari. Dinyatakan bahwa matahari adalah salah satu mata Tuhan Yang Maha Esa dan bahwa matahari mempunyai kekuatan yang besar sekali untuk memancarkan panas dan cahaya. Namun, matahari bergerak dalam garis perjalanan yang sudah ditetapkan atas perintah dan kehendak Yang Paling Utama Govinda. Jadi, dari kesusasteraan Veda kita menemukan bukti bahwa manifestasi material ini, yang kelihatannya sangat ajaib dan besar menurut pandangan kita, sepenuhnya di bawah pengendalian Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Kenyataan ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam ayat-ayat berikut dalam bab ini.