ID/Prabhupada 0438 - Kotoran Sapi Dikeringkan Dan Kemudian Dibakar Hingga Menjadi Abu, Untuk Dipergunakan Sebagai Pasta Gigi

Revision as of 03:07, 12 July 2019 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0023: VideoLocalizer - changed YouTube player to show hard-coded subtitles version)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)


Lecture on BG 2.8-12 -- Los Angeles, November 27, 1968

Di dalam Āyur-veda, kotoran sapi dikeringkan dan kemudian dibakar hingga menjadi abu, untuk dipergunakan sebagai pasta gigi. Pasta gigi dari kotoran sapi itu sangatlah bersifat antiseptik. Sama halnya, ada sangat banyak, sangat banyak petunjuk di dalam Veda, yang mungkin nampaknya seperti saling bertentangan, tetapi sebenarnya petunjuk-petunjuk itu sama sekali tidak bertentangan. Semua petunjuk itu disusun berdasarkan pengalaman, pengalaman rohani.

Sebagaimana seorang ayah yang berkata kepada anaknya, "Anakku, ambillah makanan ini. Makanan ini sangat enak." Dan sang anak mengambil makanan itu, karena ia mempercayai ayahnya, yang merupakan pihak berwenang baginya. Sang ayah berkata ...... Dan sang anak memahami bahwa, "Ayahku ...." Ia meyakini bahwa, "Ayahku tidak akan pernah memberiku sesuatu yang akan meracuniku." Karenanya ia menerimanya sepenuhnya, tanpa adanya alasan apapun, tanpa memeriksa makanan tersebut, apakah makanan itu murni ataukah tidak murni. Jadi, kamu haruslah percaya dengan cara seperti itu.

Kamu pergi ke sebuah hotel karena hotel itu telah mendapatkan ijin dari pemerintah. Kamu harus percaya bahwa saat kamu menempatkan makananmu di sana maka tempat ini baik, tempat ini murni, tempat ini tidak terinfeksi oleh kuman, atau .... Tetapi bagaimana kamu mengetahui hal itu? Kamu mengetahuinya melalui pihak yang berwenang. Karena hotel ini sudah mendapatkan kewenangan dari pemerintah, hotel ini sudah memiliki ijin dan karena itu kamu menjadi percaya.

Maka sama halnya, śabda-pramāṇa berarti bahwa begitu ada bukti di dalam kesusasteraan Veda bahwa, "Ini adalah seperti ini," maka kamu haruslah menerimanya. Itu saja. Maka kemudian pengetahuanmu menjadi sempurna, karena kamu menerima sesuatu dari sumber yang sempurna. Sama halnya, Kṛṣṇa, Kṛṣṇa diterima sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Kuasa. Apapun yang dikatakanNya, maka itu adalah kebenaran, yang seharusnya diterima. Arjuna akhirnya berkata, sarvam etad ṛtaṁ manye. (BG 10.14). "Kṛṣṇa yang baik, apapun yang Anda katakan, hamba menerimanya."

Itulah yang seharusnya menjadi prinsip kita. Mengapa kita harus bersusah payah dengan melakukan penyelidikan kembali, jika pihak yang berwenang sudah memberikan buktinya? Jadi, itu adalah penghematan waktu, dan untuk menghindari masalah maka orang harus menerima pihak yang berwenang, pihak berwenang yang sebenarnya. Inilah proses Veda. Dan karenanya Veda berkata, tad vijñānārthaṁ sa gurum evābhigacchet. (MU 1.2.12).