ID/Prabhupada 0817 - Hanya Sekedar Menyatakan Bahwa, "Aku Kristen," "Aku Hindu," "Aku Muslim," Itu Tidak Ada Manfaatnya

Revision as of 03:42, 12 July 2019 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0023: VideoLocalizer - changed YouTube player to show hard-coded subtitles version)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)


751019 - Lecture BG 04.13 - Johannesburg

Kita harus menerima sistem keagaman. Karena itu merupakan kemanusiaan. Terimalah sistem keagamaan apapun, tetapi pahamilah apa tujuan dari sistem keagamaan, dan bukan hanya sekedar mengaku, "Aku Kristen," "Aku Hindu," "Aku Muslim." Tetapi apa sebenarnya tujuan dari menjadi religius? Itulah yang harus kamu ketahui. Itulah kecerdasan. Janganlah hanya sekedar berbangga diri dengan mengatakan, "Aku Kristen," "Aku Hindu," "Aku Muslim." Tidak apa-apa, saat ini kamu memiliki sebutan-sebutan tertentu.

Tetapi Bhāgavata mengatakan bahwa ada sistem keagamaan yang sempurna. Apakah itu? Sa vai puṁsāṁ paro dharmo yato bhaktir adhokṣaje. (SB 1.2.6), "Agama itu, sistem keagaman itu, sempurna." Sa vai puṁsāṁ paro. Paro berarti sempurna, tanpa adanya kecacatan. Apakah itu? Yato bhaktir adhokṣaje, "Yaitu yang dengan mana, yang dengan menjadi pengikut sistem keagamaan seperti itu, lalu kamu menjadi seorang penyembah Tuhan, maka itulah sistem yang sempurna," Beliau tidak mengatakan bahwa, jadilah seorang Hindu, atau jadilah seorang Muslim, atau jadilah seorang Kristen atau Bhuddhis atau lainnya. Apapun sistem keagamaan yang kamu terima, itu terserah padamu, tidak ada yang salah untuk dilakukan, semuanya bisa diterima. Tetapi perhatikanlah hasilnya. Apakah hasilnya itu? Yato bhaktir adhokṣaje, yaitu apakah kamu menjadi memahami Tuhan dan apakah kamu menjadi seorang pencinta Tuhan. Jika benar demikian, maka agamamu itu sempurna. Hanya sekedar menyatakan bahwa, "Aku Kristen," "Aku Hindu," "Aku Muslim," itu tidak ada manfaatnya. Hal itu juga dijelaskan di dalam Śrīmad-Bhāgavatam.

dharmaḥ svanuṣṭhitaḥ puṁsāṁ
viṣvaksena-kathāsu yaḥ
notpādayed ratiṁ yadi
śrama eva hi kevalam
(SB 1.2.8)

Dharmaḥ svanuṣṭhitaḥ, apapun agama yang kamu anut, itu tidak menjadi masalah. Laksanakanlah ibadah agamamu dengan baik, sesuai dengan sistem keagamaan itu, dan ikutilah tata cara serta peraturan yang ada dalam melaksanakan segala sesuatunya. Dharmaḥ svanuṣṭhitaḥ puṁsām, "Dengan melaksanakan prinsip religius secara hati-hati," viṣvaksena-kathāsu yaḥ, "jika kamu tidak menjadi sangat ingin memahami Tuhan lebih banyak dan lebih banyak lagi ...." Viṣvaksena kathā ... Viṣvaksena berarti Tuhan. Kathāsu yaḥ, notpādayed ratiṁ yadi, "Jika kamu tidak menjadi melekat dalam upaya untuk mendengar Tuhan lebih banyak dan lebih banyak lagi, maka hal itu," śrama eva hi kevalam, "hanya membuang-buang waktu saja." Hanya membuang-buang waktu saja, karena agama artinya adalah, dharmaṁ tu sākṣād bhagavat-praṇītam. (SB 6.3.19).

Agama artinya adalah perintah yang diberikan oleh Tuhan, dan kemudian kamu mengikutinya. Inilah definisi sederhana mengenai agama. Upacara-upacara ritual lainnya, doa-doa, pergi ke gereja atau pergi ke temple, semua itu merupakan detailnya. Tetapi dharma yang sebenarnya, intisari serta keseluruhan dari dharma atau agama adalah untuk mematuhi perintah Tuhan. Itu saja. Itulah agama. Dharmaṁ tu sākṣād bhagavat-praṇītam. Kamu tidak bisa menciptakan agama. Dan jika kamu mengikuti agama yang sebenarnya, maka kamu menjadi religius. Agama yang sebenarnya adalah perintah Tuhan. Itulah yang sebenarnya .... Setiap orang mengikuti suatu prinsip keagamaan untuk memahami Tuhan. Dan di dalam sistem Veda, satu-satunya tujuan hidup adalah untuk memahami Tuhan. Athāto brahma jijñāsā. Pada kehidupan di dalam wujud manusia ini kita tidak memiliki urusan lain. Tidak ada urusan lainnya. Yang dimaksudkan dengan urusan lainnya itu adalah urusan yang kita lakukan dan juga dilakukan oleh para kucing dan anjing. Urusan yang seperti itu akan terlaksana dengan sendirinya.

Bukanlah berarti bahwa para binatang itu akan menjadi kelaparan. Kita makan dan mereka juga makan. Tetapi fasilitas bagi para binatang itu lebih rendah dibandingkan dengan fasilitas bagi manusia, mereka tidak perlu harus melakukan pekerjaan atau menjadi ahli dalam profesi tertentu atau harus pergi dari suatu negara ke negara lain untuk mencari nafjah. Itulah keberuntungan mereka. Dan ketidak-beruntungan kita adalah bahwa kita selalu berusaha mencari makanan yang lebih enak, lalu pergi berkeliling dunia untuk mencarinya, tetapi tetap saja kita tidak berhasil menemukannya. Jadi keberuntungan para binatang itu lebih baik.

Burung-burung, para burung kecl, sudah bangun pagi-pagi sekali, dan mereka akan berkicau dan kemudian pergi, karena mereka yakin bahwa, "Bahan makanan kita sudah siap, di manapun makanan itu berada, kita akan pergi untuk mendapatkannya." Dan itulah kenyataannya. Mereka pergi ke pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Apa yang akan mereka makan? Empat atau lima buah yang kecil. Ada begitu banyak buah pada sebatang pohon itu, dan ada begitu banyak pohon. Sama halnya, ambillah contoh binatang lainnya, bahkan seekor gajah. Di Afrika ada begitu banyak gajah, jutaan gajah. Dalam satu kali makan, mereka akan menghabiskan sekitar empatpuluh kilogram bahan makanan. Dan siapakah yang menyediakan makanan? Mereka tidak bekerja. Mereka tidak memiliki keahlian tertentu. Lalu, bagaimana mereka bisa makan? Hmm?