ID/Prabhupada 0969 - Jika Kamu Mempergunakan Lidahmu Untuk Pelayanan Kepada Tuhan, Maka Beliau Akan Mengungkapkan DiriNya Kepadamu

Revision as of 03:54, 12 July 2019 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0023: VideoLocalizer - changed YouTube player to show hard-coded subtitles version)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)


730400 - Lecture BG 02.13 - New York

Di India. kenikmatan badan yang pertama-tama adalah pada lidah. Kenikmatan lidah. Demikianlah yang ada di mana-mana, demikian juga di sini. Kenikmatan lidah. Jadi, jika kita ingin mengendalikan indria-indria kita ... Karena itu dengan mengikuti jejak langkah para ācārya sebelumnya, maka Bhaktivinoda Ṭhākura berkata, "Kendalikan lidahmu." Kendalikan lidahmu. Dan di dalam Bhāgavata juga dikatakan, ataḥ śrī-kṛṣṇa-nāmādi na bhaved grāhyam indriyaiḥ. (BRS. 1.2.234). Dengan mempergunakan indria-indria kita yang tumpul ini, kita tidak bisa memahami Kṛṣṇa. Itu mustahil. Indria-indria kita begitu tidak sempurnanya sehingga kamu juga tidak bisa mendapatkan pengetahuan yang sempurna, baik yang bersifat material maupun spiritual, dengan mempergunakan indria-indria itu. Itu mustahil. Ataḥ. Bahkan urusan-urusan di dalam dunia material inipun tidak bisa kamu pahami secara sempurna dengan mempergunakan indria-indria tersebut. Seperti halnya mereka yang sedang mempelajari planet bulan, planet yang paling dekat. Selain planet bulan ini, ada jutaan dan milyaran planet lainnya. Tetapi mereka tidak bisa mengatakan sesuatu apapun tentang hal itu, karena indria-indria mereka tidak sempurna. Bagaimana kamu bisa memahami hal itu? Aku hanya bisa melihat, katakan saja, sampai sejauh satu mil saja. Tetapi bila pertanyaannya menyangkut jarak sejauh jutaan dan milyaran mil, lalu bagaimana kamu akan bisa mempergunakan indria-indriamu dan mendapatkan pengetahuan yang sempurna?

Jadi, kamu bahkan tidak bisa mendapatkan pengetahuan material secara sempurna dengan mempergunakan indria-indria ini. Lalu apalagi untuk memahami Tuhan serta untuk mendapatkan pengetahuan spiritual? Hal itu melampaui konsep yang ada pada dirimu, mānasa-gocara. Karena itu śāstra mengatakan, ataḥ śrī-kṛṣṇa-nāmādi na bhaved grāhyam indriyaiḥ. (BRS. 1.2.234). Jika kamu ingin memahami Tuhan melalui angan-angan pikiran, maka itulah yang dinamakan filsafat kodok, Dr. Kodok, yang sedang memperkirakan lautan Atlantik sambil duduk di dalam sumurnya sendiri. Hal seperti itu disebut filsafat kodok. Kamu tidak akan bisa memahami hal itu. Lalu, bagaimana hal itu menjadi bisa dipahami? Maka kalimat berikutnya dalam sloka itu adalah, sevonmukhe hi jihvādau svayam eva sphuraty ... Jika kamu mempergunakan lidahmu untuk pelayanan kepada Tuhan, maka Beliau akan mengungkapkan diriNya kepadamu. Beliau akan mengungkapkan diriNya. Pengungkapan.

Jadi karena itu, kita harus mengendalikan lidah kita. Apa saja yang merupakan urusan sang lidah? Urusan sang lidah adalah untuk merasakan dan untuk mengucapkan. Jadi, ucapkanlah sesuatu yang merupakan pelayanan kepada Tuhan, yaitu Hare Kṛṣṇa. Hare Kṛṣṇa artinya adalah, "O Kṛṣṇa, O energi Tuhan, mohon berkenan menyibukkan hamba di dalam pelayanan kepada Anda." Hare Kṛṣṇa, Hare Kṛṣṇa, Kṛṣṇa Kṛṣṇa, Hare Hare ... Inilah arti dari Hare Kṛṣṇa. Tidak ada arti lainnya lagi. "O Tuhanku Kṛṣṇa dan O energi Kṛṣṇa, khususnya Rādhārāṇī, mohon Anda berdua berkenan menyibukkan hamba di dalam pelayanan kepada Anda." Sebagaimana Narottama dasa Ṭhākura berkata, hā hā prabhu nanda-suta vṛṣabhānu-sutā-juta, "Tuhanku Kṛṣṇa, Anda dikenal sebagai putera Nanda Mahārāja. Dan pendamping Anda yang kekal, Rādhārāṇī, Beliau juga dikenal sebagai puteri dari Raja Vṛṣabhānu. Jadi, Anda berdua ada di sini." hā hā prabhu nanda-suta vṛṣabhānu-sutā ... karuṇā karaha ei-bāra. "Sekarang hamba sudah datang kepada Anda. Mohon kiranya Anda berdua bermurah hati kepada hamba." Inilah arti dari Hare Kṛṣṇa, "Mohon bermurah hatilah kepada hamba." Narottama-dāsa kaya, nā ṭheliha rāṅgā-pāya, "Mohon jangan menolak atau mendorong hamba dengan kaki padma milik Anda."

Tetapi aku pikir, jika Kṛṣṇa menendang dan mendorong kita, maka itu merupakan karunia yang sangat besar bagi kita. Bisa dipahami? Jika Kṛṣṇa menendang kita dengan menggunakan kaki padmaNya, "Pergilah!" maka itu juga merupakan suatu keberuntungan yang sangat besar bagi kita. Apalagi jika Beliau menerima kita? Seperti halnya ketika Kṛṣṇa menendang kepala Kāliya. Sehingga para istri Kāliya berdoa, "Tuanku yang baik, kami tidak bisa memahami, bagaimana Kāliya, sang pelaku kejahatan ini, bagaimana ia bisa menjadi begitu beruntung sehingga Anda berkenan menendang kepalanya? Para rsi yang agung serta para orang suci berusaha untuk bermeditasi selama jutaan tahun hanya untuk bisa mendapatkan sentuhan kaki padma Anda, tetapi Kāliya ini .... kami tidak tahu apa yang telah dilakukannya di dalam kehidupan masa lalunya, sehingga ia menjadi begitu beruntungnya bisa mendapatkan tendangan dari kaki padma Anda pada kepalanya?"