ID/Prabhupada 1018 - Pada Saat Permulaan, Hendaknya Kita Memuja Rādhā-Kṛṣṇa Dalam Tingkatan Lakṣmī-Nārāyaṇa

Revision as of 03:58, 12 July 2019 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0023: VideoLocalizer - changed YouTube player to show hard-coded subtitles version)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)


730408 - Lecture SB 01.14.44 - New York

Pradyumna : (membaca) Terjemahan, "Atau apakah engkau merasa hampa sepanjang waktu karena engkau mungkin sudah kehilangan sahabat karibmu, Tuhan Śri Kṛṣṇa? O saudaraku Arjuna, aku tidak bisa memikirkan alasan lain mengapa engkau menjadi begitu bersedih."

Prabhupāda : Jadi, Kṛṣṇa adalah sahabat karib Arjuna. Bukan hanya bagi Arjuna, melainkan juga bagi semua Pāṇḍava. Jadi, mereka tidak bisa mentoleransi perpisahan dengan Kṛṣṇa. Inilah tanda-tanda dari penyembah Kṛṣṇa. Caitanya Mahāprabhu berkata bahwa, "Aku tidak mencintai Kṛṣṇa." Aku lupa sloka tersebut .... Na prema-gandho ’sti. (CC Madhya 2.45). "Jadi, Anda tidak mencintai Kṛṣṇa? Tetapi Anda selalu menangisi Kṛṣṇa dan Anda tetap saja mengatakan bahwa Anda tidak mencintai Kṛṣṇa?" "Tidak, Aku hanya berpura-pura menangis. Sebenarnya Aku bukanlah penyembah Kṛṣṇa." "Mengapa?" "Karena jika Aku adalah seorang penyembah Kṛṣṇa, bagaimana Aku bisa hidup tanpa diriNya? Tetapi nyatanya, Aku belum mati. Maka itu berarti Aku tidak mencintai Kṛṣṇa." Itulah tanda-tanda dari cinta - bahwa seorang pencinta tidak bisa hidup sedetikpun tanpa menjadi terhubung dengan yang dicintainya. Inilah tanda-tanda cinta.

Jadi, cinta ini hanya bisa dipahami antara Rādhā dan Kṛṣṇa saja atau antara para gopī dan Kṛṣṇa, bukan sebaliknya. Sebenarnya, kita tidak memahami apa arti dari cinta. Seperti halnya Caitanya Mahāprabhu berkata bahwa,

āśliṣya vā pāda-ratāṁ pinaṣṭu mām
adarśanān marma-hatāṁ karotu vā
yathā tathā vā vidadhātu lampaṭo
mat-prāṇa-nāthas tu sa eva nāparaḥ
(CC Antya 20.47, Śikṣāṣṭaka 8)
yugāyitaṁ nimeṣeṇa
cakṣuṣā prāvṛṣāyitam
śūnyāyitaṁ jagat sarvaṁ
govinda-viraheṇa me
(CC Antya 20.39, Śikṣāṣṭaka 7)

Govinda-vira. Vira berarti perpisahan. Yang dimaksudkan di sini adalah Rādhārani … Caitanya Mahāprabhu sedang memainkan peranan sebagai Śrīmatī Rādhārāṇī. Kṛṣṇa, saat Beliau tidak bisa memahami diriNya sendiri ... Kṛṣṇa itu tidak terbatas. Beliau begitu tidak terbatasnya sehingga Beliau tidak bisa memahami diriNya sendiri. Itulah ketidak-terbatasan. Yang Tidak Terbatas itu bahkan tidak bisa memahami ketidak-terbatasanNya sendiri. Karena itulah Kṛṣṇa menerima kebahagiaan Śrīmatī Rādhārāṇī, dan itulah Śrī Caitanya Mahāprabhu. Betapa indahnya gambaran itu, Kṛṣṇa, dengan menerima kebahagiaan serta cinta Rādhārāṇī, kemudian muncul sebagai Śrī Caitanya Mahāprabhu. Śrī-kṛṣṇa-caitanya rādhā-kṛṣṇa nahe anya. (Śrī Guru-paramparā 6).

Jadi, dengan memuja Tuhan Śrī Caitanya Mahāprabhu, maka kamu juga sekaligus memuja Rādhā dan Kṛṣṇa. Rādhā-Kṛṣṇa sangatlah sulit untuk dipuja. Jadi, Rādhā-Kṛṣṇa apapun yang sedang kita puja, maka sebenarnya itu adalah Rādhā-Kṛṣṇa dalam wujudNya sebagai Nārāyaṇa - Lakṣmī-Nārāyaṇa. Pada saat permulaan, hendaknya kita memuja Rādhā-Kṛṣṇa dalam tingkatan Lakṣmī-Nārāyaṇa, dengan penuh kekaguman dan penghormatan, serta mengikuti semua tata cara dan peraturan secara ketat. Sebaliknya dengan Rādhā-Kṛṣṇa di Vṛndāvana, mereka, para penyembah, mereka tidak memuja Kṛṣṇa hanya karena Beliau adalah Tuhan, tetapi mereka memuja Kṛṣṇa. Bukan sekedar memuja - namun jauh melampaui pemujaan, karena hal itu sepenuhnya hanyalah cinta belaka. Seperti halnya jika kamu mencintai kekasihmu, maka hal itu bukanlah suatu pemujaan. Itu adalah sesuatu yang bersifat spontan, itu adalah urusan hati.

Jadi, seperti itulah kedudukan Vṛndāvana. Namun, meskipun kita tidak berada pada standar tertinggi dalam tingkatan Vṛndāvana, tetap saja, jika kita tidak merasakan rasa perpisahan dengan Kṛṣṇa, maka seyogyanya kita harus memahami bahwa kita belum menjadi penyembah Kṛṣṇa yang sempurna. Itulah yang diinginkan, rasa perpisahan.