ID/Prabhupada 1022 - Pertama-tama Kita Harus Belajar Mencintai - Itulah Agama Yang Berkualitas Kelas Satu: Difference between revisions

 
(Vanibot #0023: VideoLocalizer - changed YouTube player to show hard-coded subtitles version)
 
Line 10: Line 10:
<!-- END CATEGORY LIST -->
<!-- END CATEGORY LIST -->
<!-- BEGIN NAVIGATION BAR -- DO NOT EDIT OR REMOVE -->
<!-- BEGIN NAVIGATION BAR -- DO NOT EDIT OR REMOVE -->
{{1080 videos navigation - All Languages|Indonesian|ID/Prabhupada 1021 - Jika Ada Seseorang Yang Bersimpati Kepada Para Jiwa Terikat Yang Sedang Jatuh, Maka Ia Adalah Vaiṣṇava|1021|ID/Prabhupada 1057 - Bhagavad-gītā Juga Dikenal Sebagai Gītopaniṣad, Intisari Dari Segala Pengetahuan Veda|1057}}
{{1080 videos navigation - All Languages|Indonesian|ID/Prabhupada 1021 - Jika Ada Seseorang Yang Bersimpati Kepada Para Jiwa Terikat Yang Sedang Jatuh, Maka Ia Adalah Vaiṣṇava|1021|ID/Prabhupada 1023 - Jika Tuhan Itu Maha Kuasa, Lalu Mengapa Kamu Membatasi KekuasaanNya Dengan Menyatakan Bahwa Beliau Tidak Bisa Datang?|1023}}
<!-- END NAVIGATION BAR -->
<!-- END NAVIGATION BAR -->
<!-- BEGIN ORIGINAL VANIQUOTES PAGE LINK-->
<!-- BEGIN ORIGINAL VANIQUOTES PAGE LINK-->
<div class="center">
<div class="center">
Line 21: Line 20:


<!-- BEGIN VIDEO LINK -->
<!-- BEGIN VIDEO LINK -->
{{youtube_right|fxOZEmU0N8g|Pertama-tama Kita Harus Belajar Mencintai - Itulah Agama Yang Berkualitas Kelas Satu<br/>- Prabhupāda 1022}}
{{youtube_right|2I5ejRrms5w|Pertama-tama Kita Harus Belajar Mencintai - Itulah Agama Yang Berkualitas Kelas Satu<br/>- Prabhupāda 1022}}
<!-- END VIDEO LINK -->
<!-- END VIDEO LINK -->


Line 51: Line 50:
:paritrāṇāya sādhūnāṁ
:paritrāṇāya sādhūnāṁ
:vināśāya ca duṣkṛtām
:vināśāya ca duṣkṛtām
:([[Vanisource:BG 4.8|BG 4.8]])
:([[ID/BG 4.8|BG 4.8]])
<!-- END TRANSLATED TEXT -->
<!-- END TRANSLATED TEXT -->

Latest revision as of 03:59, 12 July 2019



730408 - Lecture SB 01.14.44 - New York

Jadi, pertama-tama kita harus belajar mencintai. Sa vai puṁsāṁ paro dharmo. (SB 1.2.6). Itulah agama yang berkualitas kelas satu. Ikutilah sistem keagamaan ini, yato bhaktir adhokṣaje. Jika kamu memahami bagaimana caranya mencintai Adhokṣaja ... Dan ketika cinta itu sudah ada, maka pertanyaan berikutnya adalah, " Kepada siapakah aku harus mencintai?" Karena itu, nama lain Kṛṣṇa adalah Adhokṣaja. Adhokṣaja artinya adalah, "melampaui pemahaman indria-indria."

Di sini, di dunia material ini, kita mencintai sesuatu yang ada di dalam suatu pengelompokan, atau di dalam suatu batasan dari pemahaman indria-indriaku. Aku mencintai seorang gadis atau seorang pemuda, atau seseorang, negaraku, masyarakatku, anjingku, segala sesuatunya. Tetapi semua itu ada dalam batasan dari pemahaman indria-indriaku. Namun Tuhan jauh melampaui pemahaman indria-indriamu. Dan tetap saja, kamu harus mencintaiNya, karenanya itulah agama. Tuhan berada melampaui pemahaman indria-indria, tetapi jika kamu mencintaiNya, meskipun Beliau melampaui pemahaman indria-indriamu, maka kamu akan menginsyafi Tuhan. Sevonmukhe hi jihvādau svayam eva sphurat adaḥ. (Brs. 1.2.234).

Seperti halnya kita sekarang sedang memuja Rādhā-Kṛṣṇa di sini. Mereka yang bukan pencinta Kṛṣṇa, mereka akan berpikir bahwa, "Ini adalah orang-orang bodoh. Mereka membawa patung dari marmer ini dan mereka lalu hanya membuang-buang waktu mereka saja." Bisa dipahami? Karena mereka tidak memiliki cinta itu. Mereka tidak memiliki cinta itu, maka karena itu mereka tidak bisa menghargai pemujaan kepada Kṛṣṇa untuk mendapatkan cinta itu. Tetapi seseorang yang merupakan pencinta Kṛṣṇa, seperti halnya Caitanya Mahāprabhu, maka begitu Beliau masuk ke dalam temple Jagannātha, maka Beliau berseru, "Inilah TuhanKu," dan kemudian Beliau jatuh pingsan.

Jadi, apa perbedaannya ... Inilah perbedaannya, seorang pencinta Tuhan bisa melihat bahwa Tuhan berada di mana-mana.

premāñjana-cchurita-bhakti-vilocanena
santaḥ sadaiva hṛdayeṣu vilokayanti
(Bs. 5.38)

Jika kamu benar-benar ... Jika kamu benar-benar merupakan seorang pencinta Tuhan, maka kamu akan selalu melihat Tuhan di dalam setiap langkahmu. Di dalam setiap langkah. Seperti halnya Prahlāda Mahārāja. Prahlāda Mahārāja, saat dirinya sedang diserang oleh ayahnya, maka ia kemudian memandang ke arah sebuah kolom, ke arah sebuah pilar, dan ayahnya berpikir bahwa mungkin Tuhannya ada di dalam pilar itu, sehingga kemudian ia berseru, "Tuhanmu ada di dalam pilar ini?" "Ya, ayah." "Oh." Dan dengan segera pilar itu terbelah. Maka Tuhanpun muncul untuk memenuhi ucapan dari penyembahNya.

Jadi, kemunculan serta berpulangnya Tuhan adalah diperuntukkan bagi para penyembah.

paritrāṇāya sādhūnāṁ
vināśāya ca duṣkṛtām
(BG 4.8)