ID/BG 2.20

From Vanipedia
Jump to: navigation, search
Śrī Śrīmad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda


ŚLOKA 20

न जायते म्रियते वा कदाचिन्
नायं भूत्वा भविता वा न भूयः ।
अजो नित्यः शाश्वतोऽयं पुराणो
न हन्यते हन्यमाने शरीरे ॥२०॥
na jāyate mriyate vā kadācin
nāyaḿ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ
ajo nityaḥ śāśvato 'yaḿ purāṇo
na hanyate hanyamāne śarīre

Sinonim

na—tidak pernah; jāyate—dilahirkan; mriyate—mati; —atau; kadācit—pada suatu waktu (pada masa lampau, sekarang maupun masa yang akan datang); na—tidak pernah; ayam—ini; bhūtvā—setelah berada; bhavitā—akan berada; —atau; na—tidak; bhūyaḥ—atau yang akan berada sekali lagi; ajaḥ—tidak dilahirkan; nityaḥ—kekal; śāśvatāḥ—tetap untuk selamanya; ayam—ini; purāṇaḥ—paling tua; na—tidak pernah; hanyate—dibunuh; hanyamāne—dengan dibunuh; śarīre—badan.

Terjemahan

Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh pada saat manapun. Dia tidak diciptakan pada masa lampau, ia tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan dibunuh.

Penjelasan

Menurut sifatnya, bagian percikan yang sekecil atom dari Roh Yang Paling Utama, bersatu dengan Yang Mahakuasa. Ia tidak mengalami perubahan apa pun seperti badan. Kadang-kadang sang roh juga disebut sebagai yang mantap, atau kuta-stha. Badan mengalami enam jenis perubahan. Badan dilahirkan dari kandungan tubuh ibu, tahan selama beberapa waktu, tumbuh, menghasilkan sesuatu, berangsur-angsur merosot, dan akhirnya lenyap. Akan tetapi, sang roh tidak mengalami perubahan-perubahan seperti itu. Sang roh tidak dilahirkan, tetapi oleh karena sang roh menerima badan jasmani, maka badan dilahirkan. Sang roh tidak dilahirkan di sana, dan sang roh tidak mati. Apapun yang dilahirkan juga mengalami kematian. Oleh karena sang roh tidak dilahirkan, tidak ada masa lampau, masa sekarang maupun masa yang akan datang bagi sang roh. Sang roh adalah kekal, berada untuk selamanya, dan bersifat abadi—yaitu, tidak ada catatan dalam khazanah sejarah tentang terwujudnya sang roh. Oleh karena kesan dari badan, kita mencari sejarah kelahiran, dan sebagainya, bagi sang roh. Sang roh tidak pernah tua pada suatu waktu, seperti yang dialami badan. Karena itu, yang disebut orang yang sudah tua masih merasa dirinya sebagai roh yang sama seperti pada masa kanak-kanak atau masa remajanya. Perubahan badan tidak mempengaruhi sang roh. Sang roh tidak merosot seperti pohon, ataupun seperti sesuatu yang bersifat material. Sang roh juga tidak menghasilkan sesuatu. Seperti yang dihasilkan oleh badan, yaitu anak-anak, juga roh-roh individual yang berbeda-beda; oleh karena badan, mereka muncul sebagai anak orang-orang tertentu. Badan berkembang karena adanya sang roh, tetapi sang roh tidak memiliki keturunan maupun perubahannya. Karena itu sang roh bebas dari enam jenis perubahan yang dialami badan.

Dalam Kaṭha Upaniṣad (1.2.18) kita juga menemukan ayat yang serupa yang berbunyi:

na jāyate mriyate vā vipaścin
nāyaḿ kutaścin na babhūva kaścit
ajo nityaḥ śāśvato 'yaḿ purāṇo
na hanyate hanyamāne śarīre

Arti dan penjelasan ayat ini adalah sama seperti ayat dalam Bhagavad-gītā, tetapi dalam ayat ini terdapat satu kata yang istimewa, yaitu kata vipaścit, yang berarti pengetahuan atau memiliki pengetahuan.

Sang roh penuh pengetahuan, atau selalu penuh kesadaran. Karena itu, kesadaran adalah tanda adanya sang roh. Kalaupun seseorang tidak menemukan sang roh di dalam jantung, tempat sang roh bersemayam, ia masih dapat mengerti bahwa adanya sang roh hanya karena adanya kesadaran. Kadang-kadang kita tidak menemukan matahari di langit karena awan, atau alasan yang lain, tetapi cahaya matahari selalu ada, dan kita yakin bahwa hari sudah siang. Begitu seberkas cahaya menerangi angkasa pada waktu pagi, kita dapat mengerti bahwa matahari sudah ada di langit. Begitu pula, oleh karena ada suatu kesadaran di dalam semua badan—baik manusia maupun binatang—lalu kita dapat mengerti bahwa adanya sang roh. Akan tetapi, kesadaran sang roh tersebut berbeda dengan kesadaran Yang Maha Kuasa, sebab Kesadaran Yang Paling Utama adalah menyangkut pengetahuan tentang segala sesuatu - masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Sedangkan kesadaran sang roh yang individual cenderung untuk lupa. Apabila ia melupakan sifatnya yang sejati, ia dapat dididik dan dibebaskan dari kebodohan oleh pelajaran paling utama yang akan diberikan oleh Kṛṣṇa. Kṛṣṇa tidaklah seperti sang roh yang cenderung lupa. Kalau Kṛṣṇa cenderung lupa, maka ajaran Kṛṣṇa dalam Bhagavad-gītā tidak akan berguna.

Ada dua jenis roh—yaitu, sang roh yang seperti butir yang kecil sekali (aṇu-ātmā) dan Roh Yang Paling Utama (vibhu-ātmā). Kenyataan ini juga dibenarkan dalam Kaṭha Upaniṣad (1.2.20) sebagai berikut:

aṇor aṇīyān mahato mahīyān
ātmāsya jantor nihito guhāyām
tam akratuḥ paśyati vīta-śoko
dhātuḥ prasādān mahīmānam ātmanaḥ

"Roh Yang Utama [Paramātmā] dan roh yang sekecil atom [jīvātmā] terletak dalam jantung yang sama dimiliki oleh makhluk hidup pada badan yang sama yang diumpamakan sebagai pohon. Hanya orang yang sudah dibebaskan dari segala keinginan material serta segala penyesalan dapat mengerti kemuliaan sang roh atas karunia Yang Mahakuasa." Kṛṣṇa juga sumber Roh Yang Utama, sebagaimana akan diungkapkan dalam bab-bab berikut, dan Arjuna adalah roh sekecil atom, yang sudah lupa akan sifat sejatinya; karena itu, Arjuna perlu dibebaskan dari kebodohan oleh Kṛṣṇa atau utusan Kṛṣṇa yang dapat dipercaya (sang guru kerohanian).