ID/Prabhupada 0382 - Penjelasan Atas Daśāvatāra-stotra - Bagian 2

From Vanipedia
Jump to: navigation, search

Penjelasan Atas Daśāvatāra-stotra - Bagian 2
- Prabhupāda 0382


Purport to Sri Dasavatara Stotra -- Los Angeles, February 18, 1970

Inkarnasi berikutnya adalah Vāmana, sang manusia kerdil. Tuhan Vāmana muncul di hadapan Bali Mahārāja. Ini juga merupakan suatu penipuan. Bali Mahārāja telah menaklukkan seluruh planet di alam semesta, dan para dewa menjadi sangat terganggu. Jadi, Vāmana Mahārāja... Vāmanadeva pergi menghadap Bali Mahārāja bahwa, "Berilah aku sedekah, aku adalah brāhmaṇa. Aku datang untuk meminta-minta kepadamu." Jadi, Bali Mahārāja berkata, "Ya, aku akan memberiMu."

Jadi, Beliau meminta tanah seluas tiga langkah kakiNya saja. Lalu, dengan satu langkah kakiNya, seluruh alam semesta bagian atas terlingkupi, dan dengan satu langkah kakiNya lagi, separuh alam semesta lainnya juga terlingkupi. Maka ketika langkah kaki ketigaNya akan diayunkan, Bali Mahārāja berkata, "Ya, sekarang sudah tidak ada tempat lagi yang tersisa. Jadi mohon tempatkanlah kakiMu di atas kepalaku. Hanya ada tempat di atas kepalaku saja yang masih tersisa." Jadi, Vāmanadeva sangat merasa puas atas pengurbanan dari Bali Mahārāja. Ia sudah menghentikan segala sesuatunya bagi Tuhan. Jadi, ia adalah salah satu dari para pihak berwenang yang dimuliakan. Dari duabelas pihak berwenang, maka Bali Mahārāja merupakan salah satunya, karena ia mengurbankan segala sesuatunya untuk memuaskan Tuhan.

Dan berikutnya adalah Paraśurāma. Paraśurāma, sebanyak duapuluh satu kali ia membuat usulan pembantaian untuk membunuh semua raja-raja kṣatriya. Pada saat itu, para raja kṣatriya sangatlah tidak jujur, sehingga ia membunuh mereka sebanyak duapuluh satu kali. Dan para raja kṣatriya itu melarikan diri ke sana kemari. Dan dari sejarah Mahābhārata, dapat dipahami bahwa, saat itu sejumlah kṣatriya melarikan diri dan berlindung di wilayah Eropa. Dan keturunan Indo-Eropa yang ada itu berasal dari para kṣatriya itu. Itu adalah sejarah, keterangan sejarah yang berasal dari Mahābhārata. Kemudian inkarnasi berikutnya adalah Tuhan Rāma. Beliau bertempur dengan Rāvaṇa yang memiliki sepuluh buah kepala.

Dan inkarnasi berikutnya adalah Balarāma. Balarāma adalah kakak llaki-laki Kṛṣṇa. Beliau adalah inkarnasi dari Saṅkarṣaṇa, yang merupakan perluasan berikutnya dari Kṛṣṇa. Beliau memiliki penampilan warna kulit yang sangat putih, dan Beliau memakai pakaian yang berwarna biru, dan dengan bajakNya, terkadang Beliau menjadi sangat marah kepada sungai Yamunā, dan Beliau lalu mencoba untuk mengeringkan sungai Yamunā. Itulah uraian yang diberikan di sini. Dan Yamunā, karena merasa ketakutan, ia menyetujui usulan dari Balarāma.

Dan inkarnasi berikutnya adalah Sang Buddha. Sang Buddha, Beliau mencela prinsip Veda. Karena itulah Beliau dianggap sebagai atheis. Setiap orang yang tidak menyetujui prinsip Veda, ia dianggap sebagai atheis. Seperti halnya seseorang yang tidak mempercayai Injil, maka mereka disebut heathen, maka sama halnya, mereka yang tidak menerima prinsip Veda, mereka disebut sebagai atheis.

Jadi, Sang Buddha itu, meskipun Beliau adalah inkarnasi dari Kṛṣṇa, Beliau berkata, "Aku tidak mempercayai Veda." Apakah yang menjadi alasannya? Alasannya adalah untuk menyelamatkan para binatang yang malang. Saat itu, orang-orang mengurbankan binatang yang malang itu dengan dalih pengurbanan Veda. Jadi para orang-orang yang bersifat asura, mereka ingin melakukan sesuatu dengan berlindung kepada yang berwenang. Seperti halnya seorang pengacara yang hebat, yang mempergunakan perlindungan dari undang-undang dan menjadikan sesuatu yang sah menjadi melanggar hukum. Sama halnya, para asura begitu sangat cerdas sehingga mereka mengambil keuntungan dari perintah kitab suci untuk melakukan semua hal yang tidak masuk akal. Jadi, hal-hal yang seperti ini sedang berlangsung. Dengan dalih kurban Veda, mereka membunuh begitu banyak binatang.

Jadi, Tuhan menjadi sangat iba terhadap para binatang yang malang itu, dan Beliau muncul sebagai Sang Buddha, dan filsafatNya adalah anti kekerasan. Filsafatnya bersifat atheis, karena Beliau berkata, "Tuhan itu tidak ada." Kombinasi dari materi ini adalah suatu perwujudan, maka lepaskanlah semua elemen material ini, maka kemudian akan ada kekosongan dan tidak akan ada lagi rasa senang ataupun rasa sakit. Itulah nirvāṇa, tujuan akhir dari kehidupan." Itulah yang merupakan filsafatnya. Tetapi sebenarnya misiNya adalah untuk menghentikan pembunuhan binatang, untuk menghentikan manusia dari begitu banyak kegiatan berdosa mereka. Jadi, dengan begitu Sang Buddha juga mendoakan hal itu. Jadi, orang-orang akan terkejut ketika mengetahui bahwa Sang Buddha disebut sebagai atheis, tetapi tetap saja para Vaiṣṇava, mereka memberikan doa penghormatan mereka kepada Tuhan Viṣṇu (Sang Buddha). Mengapa? Karena para Vaiṣṇava memahami bahwa Tuhan bertindak untuk tujuan yang berbeda-beda. Orang-orang lain tidak memahami hal itu.

Avatāra inkarnasi yang berikutnya adalah Kalki. Yang belum muncul. Kalki avatāra akan muncul pada akhir dari jaman ini, Kali-yuga. Pada jaman Kali-yuga, masa berlangsungnya abad ini masih akan, maksudku, dijalani hingga 400.000 tahun lagi. Jadi, pada akhir dari Kali, itu berarti pada tahap terakhir sesudah sekitar 400.000 tahun, maka inkarnasi Kali akan muncul. Hal itu sudah diramalkan di dalam kesusasteraan Veda, sebagaimana kemunculan Sang Buddha juga sudah diramalkan di dalam Śrīmad-Bhāgavatam. Dan Śrīmad-Bhāgavatam disusun pada limaribu tahun yang lalu, sedangkan Sang Buddha muncul sekitar 2.500 tahun yang lalu. Karenanya, terkait dengan kemunculan Sang Buddha, maka telah diramalkan bahwa pada awal dari Kali-yuga Sang Buddha akan muncul. Itu adalah ramalan, dan hal itu sudah terwujud menjadi kenyataan.

Sama halnya, ada ramalan mengenai Kalki avatāra, dan hal itu juga akan menjadi kenyataan. Jadi pada waktu itu, urusan Tuhan Kalki hanyalah untuk membinasakan. Tidak akan ada pemberian petunjuk lagi. Seperti halnya ..... Di dalam Bhagavad-gītā, Tuhan Kṛṣṇa memberikan petunjuk dalam bentuk Bhagavad-gītā. Namun di akhir Kali-yuga, orang-orang sudah menjadi begitu jatuhnya, sehingga tidak ada lagi kemungkinan untuk menyampaikan suatu petunjuk apapun Mereka bahkan tidak akan mampu untuk memahaminya. Dan saat itu hanyalah senjata yang akan membinasakan mereka. Dan seseorang yang dibinasakan oleh Tuhan, maka ia juga mendapatkan pembebasan. Itulah sifat Tuhan yang penuh dengan belas kasih. Entah apakah Beliau melindungi atau apakah Beliau membinasakan, hasilnya adalah sama. Jadi, hal itu akan terjadi pada tahap akhir dari Kali-yuga ini, dan sesudah itu, kembali lagi akan dimulai Satya-yuga, suatu jaman keagamaan. Demikianlah pernyataan dari kesusasteraan Veda.