ID/Prabhupada 0893 - Inilah Niat Bathin Dari Setiap Orang - Tidak Seorangpun Yang Ingin Bekerja

From Vanipedia
Jump to: navigation, search

Inilah Niat Bathin Dari Setiap Orang - Tidak Seorangpun Yang Ingin Bekerja
- Prabhupāda 0893


730417 - Lecture SB 01.08.25 - Los Angeles

Penyembah : (membaca) Terjemahan, "Saya berharap agar semua bencana ini dapat terjadi berulang kali sehingga kami bisa terus menerus bertemu dengan Anda, karena dengan bertemu Anda maka itu berarti bahwa kami tidak akan bertemu lagi dengan perulangan kelahiran serta kematian."

Prabhupāda : Jadi ini adalah sloka yang sangat menarik mengenai vipada, bencana atau bahaya ..... sangatlah baik jika bahaya serta bencana seperti itu bisa menjadikan diri kita selalu ingat kepada Kṛṣṇa. Itu adalah sesuatu yang sangat baik. Tat te 'nukampāṁ su-samīkṣamāṇo bhuñjāna evātma-kṛtaṁ vipākam. (SB 10.14.8). Seorang penyembah, bagaimana dirinya menerima kedudukan yang berbahaya? Bahaya pasti selalu ada. Bahaya .... Karena tempat ini, dunia material ini, dipenuhi dengan bahaya.

Para orang bodoh ini tidak memahami hal itu. Mereka berusaha menghindari bahaya-bahaya itu. Itulah perjuangan hidup. Setiap orang sedang berusaha untuk menjadi berbahagia dan menghindari bahaya. Inilah yang disebut sebagai urusan-urusan material. Ātyantika-sukham. Ātyantika-sukham.Kebahagiaan akhir. Seseorang sedang bekerja dan ia berpikir, "Biarlah aku bekerja dengan sangat keras sekarang, supaya nantinya aku akan memiliki banyak uang di dalam rekening di bank, sehingga ketika aku sudah tua aku akan menikmati hidup tanpa perlu bekerja." Inilah niat bathin dari setiap orang - Tidak seorangpun yang ingin bekerja. Begitu ia mendapatkan uang, maka ia lalu ingin berhenti bekerja untuk bersenang-senang. Tetapi itu mustahil. Kamu tidak bisa berbahagia dengan cara seperti itu.

Dikatakan di sini, apunar bhava-darśanam. (SB 1.8.25). Bahaya yang sebenarnya adalah .... Kuntīdevī mengatakan tentang apunaḥ. Apunaḥ artinya adalah .... A berarti tidak dan punarbhava berarti perulangan kelahiran serta kematian. Jadi, bahaya yang sebenarnya adalah perulangan dari kelahiran serta kematian. Itulah yang seharusnya dihentikan. Dan bukannya hal-hal lainnya yang disebut sebagai bahaya itu. Semua yang ada di sini adalah ... Dunia material ini penuh dengan bahaya. Padaṁ padaṁ yad vipadām. (SB 10.14.58). Seperti halnya ketika kamu sedang berada di tengah lautan. Saat kamu sedang berada di tengah lautan, mungkin kamu memiliki kapal yang sangat kuat, kapal yang sangat aman, tetapi itu bukanlah keamanan yang sebenarnya. Karena kamu sedang berada di lautan, maka setiap saat selalu bisa terjadi bahaya. Mungkin kamu masih ingat mengenai kapal yang berasal dari negaramu, Titanic?

Penyembah : Titanic.

Prabhupāda : Segala sesuatunya sudah dibuat dengan sangat aman, tetapi pada perjalanan pertamanya, kapal itu langsung tenggelam, dan banyak orang-orang penting yang berasal dari negaramu, mereka semuanya harus kehilangan nyawanya. Jadi, bahaya pasti ada karena kamu berada pada suatu kedudukan yang berbahaya. Dunia material ini sendiri adalah tempat yang berbahaya.

Jadi, urusan kita adalah .... karena bahaya itu pasti ada, maka urusan kita hendaknya dipusatkan pada bagaimana caranya agar kita bisa menyeberangi lautan ini dengan sesegera mungkin. Selama kamu masih berada di lautan, maka kamu selalu berada pada kedudukan yang berbahaya, tidak perduli bagaimanapun kuatnya perahu yang kamu miliki. Itulah kenyataannya. Jadi, hendaknya kamu tidak menjadi terganggu oleh gelombang lautan. Berusahalah untuk menyeberangi lautan itu. Capailah pantai di sisi seberang sana. Itulah urusanmu yang sebenarnya. Sama halnya, selama kita berada di dunia material ini, maka pasti akan selalu ada bencana-bencana yang berbahaya, karena tempat ini memang merupakan tempat bencana.

Jadi, meskipun kita sedang berada di dalam bencana serta dalam bahaya, tetapi urusan kita hendaknya adalah untuk berusaha bagaimana caranya agar kita selalu mengembangkan kesadaran Kṛṣṇa, sehingga sesudah menghentikan badan kita ini, kita bisa segera pulang kembali ke rumah, kembali kepada Kṛṣṇa. Itulah yang seharusnya menjadi satu-satunya urusan kita. Hendaknya kita juga tidak menjadi terganggu oleh adanya bencana-bencana yang seperti itu. Bencana-bencana itu benar-benar nyata dan bukan hanya sekedar sebutan saja.