ID/Prabhupada 0960 - Siapapun Yang Menolak Keberadaan Tuhan, Maka Ia Adalah Orang Gila

From Vanipedia
Jump to: navigation, search

Siapapun Yang Menolak Keberadaan Tuhan, Maka Ia Adalah Orang Gila
- Prabhupāda 0960


750624 - Conversation - Los Angeles

Prabhupāda : Sang penikmat sejati dan sang penderita sejati adalah sang jiwa, bukan badan ini. Ketika sang jiwa keluar dari badan ini, maka badan ini bukan lagi merupakan sang penikmat atau sang penderita, badan ini hanya merupakan seonggok materi saja. Rasa kenikmatan atau penderitaan itu ada selama sang jiwa berada di dalam badan. Karena itulah maka sang jiwa itu merupakan sesuatu yang sangat penting. Jika anda bisa mempelajari mengenai sang jiwa, maka anda bisa memahami siapakah Tuhan.

Peter : Bagaimana anda mengetahui bahwa sang jiwa itu ada?

Prabhupāda : Karena anda berbicara. Karena anda bertanya, maka aku tahu bahwa sang jiwa itu ada. Karena andalah sang jiwa itu, maka karena itu anda bertanya. Segera setelah sang jiwa keluar dari badan anda, anda tidak bisa bertanya lagi. Semuanya selesai.

Dr. Wolfe : Bisakah seseorang mengatakan bahwa sang jiwa dan kehidupan itu merupakan sesuatu yang sama? Bisakah seseorang mengatakan bahwa sang jiwa dan kehidupan itu adalah sesuatu yang sama?

Prabhupāda : Ya, sama .... Kehidupan merupakan ciri-ciri dari sang jiwa. Karena sang jiwa ada, maka kehidupan itu ada. Dan begitu sang jiwa tidak ada, maka tidak ada lagi kehidupan. Matahari ada di langit, maka ada cahaya di sana, cahaya matahari. Ketika matahari terbenam, maka tidak ada lagi cahaya, semuanya menjadi gelap gulita.

Dr. Orr : Apakah dengan begitu maka badan ini harus ditolak? Apakah badan ini seharusnya didisiplinkan, ditolak ataukah diabaikan? Itukah yang anda sarankan?

Prabhupāda : Diabaikan?

Bahulāśva : Bagaimana caranya memperlakukan badan?

Dr. Orr : Bagaimana cara anda memperlakukan badan?

Prabhupāda : Dengan memanfaatkan sebaik-baiknya atas suatu penawaran yang buruk ini. (tertawa). Badan ini merupakan penawaran yang buruk, tetapi kita harus memanfaatkannya.

Dr. Orr : Ketika anda mengatakan bahwa segala sesuatu merupakan bagian dari Tuhan, anda membuat suatu pengecualian bagi badan - badan bukan merupakan sesuatu yang suci.

Prabhupāda : Ya.

Penyembah : Bukan, yang ditanyakan oleh Dr. Orr adalah bahwa kita mengatakan segala sesuatu merupakan bagian dari Tuhan, dan badan merupakan suatu pengecualian. Apakah badan bukan merupakan bagian dari Tuhan?

Prabhupāda : Tidak, mengapa? Badan adalah juga merupakan bagian dari Tuhan. Ya, aku sudah menjelaskan hal itu.

Dr. Judah : Māyā-śakti.

Prabhupāda : Ya, itu merupakan energi yang lainnya.

Dr. Orr : Oh, begitu.

Dr. Judah : Energi Kṛṣṇa yang lebih rendah.

Dr. Orr : Energi yang lebih rendah.

Prabhupāda : Segala sesuatunya merupakan energi Tuhan, jadi badan juga merupakan energi Tuhan. Jadi, pemanfaatan terbaik bagi badan yang merupakan energi Tuhan adalah dengan cara memanfaatkannya untuk kepentingan Tuhan. Maka ... badan akan menjadi dispiritualkan. Badan adalah juga energi Tuhan dan jika badan itu disibukkan dalam pelayanan kepada Tuhan, maka badan tidak lagi merupakan sekedar penawaran yang buruk, tetapi badan sudah menjadi suatu penawaran yang baik.

(terputus).

Prabhupāda : Jika sang penghuni berpikir bahwa, "Apartemen ini adalah milikku, akulah sang pemiliknya," maka ia keliru. Jika ia memahami sepenuhnya bahwa apartemen itu adalah milik sang tuan tanah, "Aku sudah mendapat kesempatan untuk mempergunakan apartemen ini, " maka inilah yang disebut sebagai pengetahuan.

Dr. Wolfe : Śrīla Prabhupāda, sang penghuni itu bisa dengan mudah diusir dari apartemen tersebut.

Prabhupāda : Ya, diusir. Saat itulah ia mengetahui siapakah sang pemilik, (tertawa), yaitu saat ia ditendang keluar. Hal itu dinyatakan juga di dalam Bhagavad-gītā, mṛtyuḥ sarva-haraś cāham. (BG 10.34). Mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, maka kepada mereka Tuhan akan datang suatu saat sebagai kematian, "Sekarang, percayalah kepadaku. Keluar!!" Dan segala sesuatunyapun berakhir. Semua kebanggaan anda sirna. Kebanggaan anda, kepemilikan anda, keluarga anda, rekening bank anda, gedung pencakar langit anda - semuanya diambil, "Semua sudah selesai. Keluar!!" Inilah Tuhan. Sekarang, sudah bisakah memahami Tuhan? Percaya atau tidak, Tuhan akan datang suatu hari nanti. Beliau akan mengambil anda, mengambil semua milik anda, dan kemudian, "Keluar!!" Itulah Tuhan. Anda percaya atau anda tidak percaya, itu bukan masalah. Contoh yang sama, sang penghuni tidak mempercayai sang tuan tanah, tetapi saat sang tuan tanah datang dengan membawa surat keputusan dari pengadilan, "Keluar!!" maka anda tetap saja harus keluar. Itu saja. Hal itu dinyatakan di dalam Bhagavad-gītā bahwa, "Mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, kepada mereka Aku datang sebagai kematian yang mengambil segala sesuatunya. Selesai." Orang harus mempercayai hal itu. "Ya, sama pastinya dengan kematian." Tuhan juga sama pastinya seperti itu. Anda bisa menolak hal itu, selama anda memiliki sedikit waktu untuk hidup untuk beberapa tahun lagi, (tertawa), namun Tuhan pasti akan datang dan menarik anda dari kedudukan anda saat ini yang dipenuhi dengan kebanggaan diri serta rasa gengsi itu, "Keluar!!" Jadi, seseorang tidak akan mengatakan, "Tuhan itu tidak ada," kecuali jika ia memang orang gila. Siapapun yang menolak keberadaan Tuhan, maka ia adalah orang gila.

Dr. Wolfe : Prabhupāda, tidakkah lebih baik menyatakan orang yang seperti itu sebagai orang buta atau orang yang bodoh?

Prabhupāda : Ya. Sama saja halnya. Gila itu merupakan gabungan dari semua kebodohan. (tertawa). Ketika aku mengatakan tentang gila, maka yang kumaksudkan adalah gabungan dari semua kebodohan. (berbisik). Sekarang kalian bisa memberi mereka prasādam. Aku pikir, kita sudah cukup banyak mengambil waktu mereka.