ID/Prabhupada 0254 - Pengetahuan Veda Dijelaskan Oleh Guru

Revision as of 02:51, 12 July 2019 by Vanibot (talk | contribs) (Vanibot #0023: VideoLocalizer - changed YouTube player to show hard-coded subtitles version)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)


Lecture on BG 2.8 -- London, August 8, 1973

Jadi, sejatinya kita semua ini adalah pribadi, bukanlah tanpa kepribadian. Kṛṣṇa juga berkata ..... Beliau berkata bahwa, "Para prajurit ini, para raja ini, kamu dan Aku, Arjuna yang baik, bukanlah bahwa kita tidak ada pada masa lampau. Tidak juga kita akan berhenti ada pada masa yang akan datang." Jadi, petunjuk khusus dari Kṛṣṇa adalah bahwa, "Aku, kamu, dan semua raja serta para prajurit yang telah berkumpul di sini, mereka ada. Sebagaimana kita ada sekarang, sebagai pribadi-pribadi individu ; maka sama halnya, mereka yang merupakan pribadi-pribadi individu ini juga ada. Dan di masa yang akan datang, kita akan tetap ada sebagai pribadi-pribadi individu." Jadi, di mana yang disebut sebagai yang tanpa kepribadian itu? Yang merupakan omong kosong dari para impersonalis, para voidis. Karenanya, prinsipnya adalah bahwa untuk memahami hal-hal di dalam kenyataan, maka seseorang harus mendekati Kṛṣṇa sebagaimana Arjuna yang juga telah mendekatiNya, śiṣyas te 'ham : (BG 2.7). "Sekarang hamba adalah murid Anda. Mohon ajarilah hamba. Śādhi māṁ prapannam. Hamba berserah diri. Hamba tidak berusaha lagi untuk berbicara dalam tingkatan yang sama dengan Anda."

Untuk menerima guru berarti adalah apapun yang dikatakan guru, maka kamu haruslah menerimanya. Jika tidak, maka tidak usah berguru. Jangan hanya sekedar ikut-ikutan saja. Kamu harus siap. Itulah yang disebut sebagai prapannam. Tad viddhi praṇipātena. (BG 4.34). Kamu hanya bisa menjadi paham hanya dengan berserah diri, dan bukannya dengan menguji guru. "Aku akan mengujinya, sampai seberapa banyak ia mengetahui." Lalu, apa gunanya berguru? Tidak. Karenanya Arjuna berkata bahwa, "Selain Anda, tidak seorangpun yang benar-benar bisa memuaskan hamba dalam keadaan yang mebingungkan ini." Yac chokam ucchoṣaṇam indriyāṇām. (BG 2.8). "Indria-indria hamba menjadi kering." Karena indria-indria yang nampak ..... itu semua bukanlah indria-indria yang sebenarnya. Indria-indria yang sejati ada di dalam. Hṛṣīkeṇa hṛṣīkeśa-sevanam. (CC Madhya 19.170). Kita harus melayani Kṛṣṇa, Hṛṣīkeśa... Kṛṣṇa adalah nyata, dan kita haruslah sampai pada kedudukan dari kenyataan tersebut. Maka kemudian kita bisa melayani Kṛṣṇa. Hṛṣīkeṇa. Tat paratvena nirmalam. Ketika indria-indria kita sudah dimurnikan. Indriyāṇi parāṇy āhur indriyebhyaḥ paraṁ manaḥ, manasas tu paro buddhir. (BG 3.42). Ini adalah tingkatan-tingkatan yang berbeda.

Yang dimaksudkan dengan konsep kehidupan yang didasarkan atas badan ini adalah indria-indria ini. Namun jika kamu pergi melampaui indria-indria ini, maka kamu akan sampai pada tataran pikiran. Ketika kamu melampaui tataran pikiran, maka kamu sampai pada tataran kecerdasan. Ketika kamu sampai pada tataran kecerdasan, lalu kemudian kamu melampauinya, maka kamu sampai pada tataran spiritual. Itulah bentuk spiritual. Terdapat langkah-langkah serta tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda. Di dalam tataran badan kasar, kita memerlukan pratyakṣa-jñānam. Pratyakṣa berarti tanggapan langsung. Ada tingkatan-tingkatan pengetahuan yang berbeda-beda. Pratyakṣa, aparokṣa, pratyakṣa, parokṣa, aparokṣa, adhokṣaja, aprakṛta. Inilah tingkatan-tingkatan pengetahuan yang berbeda-beda.

Jadi, pengetahuan yang diperoleh di dalam tataran badan, yaitu yang didapat melalui tanggapan langsung, bukanlah merupakan pengetahuan yang sebenarnya. Karenanya, kita bisa menentang para ilmuwan, mereka yang hanya namanya saja ilmuwan. Prinsip dasar pengetahuan mereka terletak pada konsep kehidupan yang didasarkan atas badan, pratyakṣa, pengetahuan yang bersifat uji coba. Pengetahuan yang bersifat uji coba ini adalah merupakan tanggapan dari indria-indria kasar ini. Itulah yang dimaksudkan dengan uji coba. Pratyakṣa. Setiap orang berkata, "Kami tidak melihat Tuhan." Tuhan itu bukanlah suatu pokok bahasan yang bisa kamu lihat melalui pratyakṣa, melalui tanggapan langsung. Nama lain dari Tuhan adalah Anubhāva. Anubhāva. Seperti halnya di dalam ruangan ini, kita tidak melihat matahari secara langsung. Tetapi kita mengetahui bahwa matahari itu ada. Saat ini adalah siang hari. Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu tidak melihatnya. Tetapi ada proses-proses lain melalui mana kamu bisa mengalaminya Itu disebut sebagai aparokṣa. Pratyakṣa parokṣa aparokṣa. Dengan demikian, kesadaran Kṛṣṇa dimaksudkan sebagai adhokṣaja dan aprakṛta, yang melampaui indria-indria. Karenanya di dalam Bhagavad-gītā dikatakan bahwa : adhokṣaja. Di mana tanggapan langsung tidak bisa mencapainya. Jadi, di mana tanggapan langsung tidak bisa mencapainya, maka kemudian bagaimana kamu bisa melihat anubhāva? Itu adalah śrota-panthā. Itu adalah śruti. Kamu harus menerima pengetahuan dari Veda. Dan pengetahuan Veda dijelaskan oleh guru. Karenanya, seseorang haruslah berlindung kepada Kṛṣṇa sebagai Guru Yang Utama, atau kepada wakilNya. Maka kemudian semua masalah, yaitu kebodohan, dapat dihilangkan. Yac chokam ucchoṣaṇam indriyāṇām. (BG 2.8).