ID/Prabhupada 0533 - Rādhārāṇī Adalah Hari-priyā, Yang Sangat Dicintai Oleh Kṛṣṇa

From Vanipedia
Jump to: navigation, search

Rādhārāṇī Adalah Hari-priyā, Yang Sangat Dicintai Oleh Kṛṣṇa
- Prabhupāda 0533


Radhastami, Srimati Radharani's Appearance Day -- London, August 29, 1971

Rādhārāṇī adalah hari-priyā, yang sangat dicintai oleh Kṛṣṇa. Jadi, jika kita mendekati Kṛṣṇa melalui Rādhārāṇī, melalui belas kasih dari Rādhārāṇī, maka hal itu menjadi sangat mudah. Jika Rādhārāṇī menyarankan bahwa, "Penyembah ini sangat baik," maka Kṛṣṇa dengan segera menerima, bagaimanapun bodohnya aku ini. Karena hal itu disarankan oleh Rādhārāṇī, maka Kṛṣṇa menerimanya. Karena itu di Vṛndāvana, kamu akan melihat bahwa semua penyembah, mereka lebih banyak mengucapkan nama Rādhārāṇī dibandingkan dengan nama Kṛṣṇa. Ke manapun kamu pergi, kamu akan menemukan penyembah yang mengucapkan, "Jaya Rādhe." Kamu masih akan menemukan hal seperti itu di Vṛndāvana. Mereka memuliakan Rādhārāṇī. Mereka lebih tertarik untuk memuja Rādhārāṇī. Karena bagaimanapun jatuhnya aku, jika entah bagaimana aku bisa memuaskan Rādhārāṇī, maka akan menjadi sangat mudah bagiku untuk memahami Kṛṣṇa. Sebaliknya jika tidak maka,

manuṣyāṇāṁ sahasreṣu
kaścid yatati siddhaye
yatatām api siddhānāṁ
kaścid vetti māṁ tattvataḥ
(BG 7.3)

Jika kamu berusaha memahami Kṛṣṇa dengan hanya melalui proses angan-angan pikiran saja, maka akan diperlukan sangat banyak kehidupan untuk mencapainya. Tetapi jika kamu mengambil jalan pelayanan bhakti, maka berusahalah untuk memuaskan Rādhārāṇī, dan Kṛṣṇa akan didapat dengan sangat mudah. Karena Rādhārāṇī bisa menyampaikan Kṛṣṇa kepada kita. Rādhārāṇī, Beliau adalah penyembah yang sangat agung, yang merupakan lambang dari mahā-bhāgavata. Bahkan Kṛṣṇa sendiri tidak bisa memahami seperti apakah kualitas Rādhārāṇī' itu. Bahkan Kṛṣṇa, meskipun Beliau berkata, vedāhaṁ samatītāni. (BG 7.26), "Aku mengetahui segalanya," namun tetap saja, Beliau gagal untuk memahami Rādhārāṇī. Rādhārāṇī sungguh sangat mulia. Kṛṣṇa berkata bahwa ..... Sebenarnya, Kṛṣṇa memahami segala sesuatunya. Dalam tujuan untuk memahami Rādhārāṇī, Kṛṣṇa menerima kedudukan Rādhārāṇī. Kṛṣṇa ingin memahami potensi Rādhārāṇī. Kṛṣṇa berpikir bahwa, "Aku ini sempurna. Aku lengkap dalam segala hal, tetapi tetap saja, aku ingin memahami Rādhārāṇī. Mengapa?" Kecenderungan ini membuat Kṛṣṇa menjadi terpaksa untuk menerima kecenderungan-kecenderungan Rādhārāṇī, untuk memahami Kṛṣṇa, diriNya sendiri.

Ini tentu saja merupakan suatu ilmu pengetahuan yang sangat agung dan sangat rohani. Seseorang yang sudah maju di dalam kesadaran Kṛṣṇa dan sangat fasih di dalam śāstra, mereka itulah yang bisa memahaminya. Namun, kita tetap bisa mendiskusikan hal itu berdasarkan śāstra. Ketika Kṛṣṇa ingin memahami diriNya sendiri, Beliau menggunakan kecenderungan dari Śrīmatī Rādhārāṇī. Dan itulah Caitanya Mahāprabhu. Rādhā-bhāva-dyuti-suvalitam. Caitanya Mahāprabhu adalah Kṛṣṇa, tetapi Beliau menerima kecenderungan-kecenderungan Rādhārāṇī. Sebagaimana Rādhārāṇī selalu merasakan perpisahan dengan Kṛṣṇa, maka sama halnya, di dalam kedudukan Rādhārāṇī, maka Tuhan Caitanya juga selalu merasakan perpisahan dengan Kṛṣṇa. Itulah ajaran-ajaran dari Tuhan Caitanya, rasa yang diakibatkan oleh perpisahan, bukan rasa karena pertemuan. Proses pelayanan bhakti yang diajarkan oleh Caitanya Mahāprabhu, dan garis perguruanNya, adalah bagaimana caranya untuk merasakan perpisahan dari Kṛṣṇa. Itu adalah kedudukan Rādhārāṇī, yang selalu merasakan perpisahan itu.

Demikian juga para Gosvāmī, saat mereka berada di Vṛndāvana, mereka tidak pernah mengatakan bahwa, "Aku sudah bertemu dengan Kṛṣṇa." Meskipun mereka adalah yang paling sempurna, mereka tidak pernah berkata bahwa, "Aku sudah bertemu dengan Kṛṣṇa." Doa mereka adalah seperti ini, he rādhe vraja-devike ca lalite he nanda-suno kutaḥ. He rādhe, Rādhārāṇī, he rādhe vraja-devike ca... Rādhārāṇī tidak pernah sendirian. Beliau selalu ada bersama dengan rekan-rekanNya, vraja-devī, Lalitā atau Viśākha dan para gadis lain dari Vṛndāvana. Jadi, para Gosvāmī berdoa, di dalam tingkatan mereka yang sudah matang, saat mereka tinggal di Vṛndāvana, mereka berdoa seperti ini, he rādhe vraja-devike ca lalite he nanda-suno kutaḥ. "Di mana, Rādhārāṇī, di manakah Anda? Di manakah para rekan Anda? Di manakah Anda, Nanda-suno, putera dari Nanda Mahārāja, Kṛṣṇa? Di manakah Anda semua?"

Demikianlah mereka selalu sedang mencari. Mereka tidak pernah berkata, "Aku sudah melihat Kṛṣṇa sedang menari bersama para gopī. Aku melihatnya kemarin malam." (tertawa). Itu adalah sahajiyā. Itu bukanlah penyembah yang sudah matang. Hal itu disebut ..... Mereka yang seperti itu disebut sebagai sahajiyā. Yang menganggap segala sesuatu itu sebagai sesuatu yang murahan - Kṛṣṇa yang sangat murahan, Rādhārāṇī yang sangat murahan - seolah-olah mereka bisa melihat hal itu setiap hari. Tidak. Para Gosvāmī tidak mengajarkan hal yang seperti itu kepada kita. Mereka justru selalu sedang mencari. He rādhe vraja-devike ca lalite he nanda-suno kutaḥ, śrī-govardhana-pādapa-tale kālindī-vanye kutaḥ, "Apakah Anda ada di kaki Bukit Govardhana, ataukah di tepian sungai Yamunā?" Kālindī-vanye kutaḥ. Ghoṣantāv iti sarvato vraja-pure khedair mahā-vihvalau. Urusan mereka adalah menangis seperti itu, "Di manakah Anda? Di manakah Anda, Rādhārāṇī? Di manakah anda, Lalitā, Viśākha, rekan-rekan Rādhārāṇī? Di manakah Anda, Kṛṣṇa? Apakah Anda ada di dekat Bukit Govardhana atau di tepian sungai Yamunā?" Ghoṣantāv iti sarvato vraja-pure. Jadi, di seluruh area di Vṛndāvana, para Gosvāmī itu selalu menangis sambil terus mencari Mereka, khedair mahā-vihvalau, seperti orang gila. Khedair mahā-vihvalau. Vande rūpa-sanātanau raghu-yugau śrī-jīva-gopālakau.