ID/Prabhupada 1070 - Pemberian Pelayanan Adalah Agama Yang Kekal Dari Makhluk Hidup

From Vanipedia
Jump to: navigation, search

Pemberian Pelayanan Adalah Agama Yang Kekal Dari Makhluk Hidup
- Prabhupāda 1070


660219-20 - Lecture BG Introduction - New York

Dengan mendasarkan pada konsep di atas mengenai sanātana-dharma, kita bisa mencoba untuk memahami konsep dari agama melalui kata Sansekerta atas arti dari kata dharma. Kata tersebut memiliki arti : yang terus-menerus ada bersama obyek tertentu. Sebagaimana yang baru saja kita sebutkan, jika kita berbicara tentang api maka pada saat yang bersamaan dapat disimpulkan bahwa ada panas serta cahaya bersama dengan adanya api. Tanpa panas dan tanpa cahaya, kata api tidak memiliki arti. Sama halnya, kita harus menemukan bagian paling mendasar dari makhluk hidup yang selalu ada bersamanya. Bagian yang secara terus-menerus ada bersama dengan makhluk hidup adalah sifatnya yang kekal, dan bagian kekal dari sifat makhluk hidup adalah agamanya yang abadi. Ketika Sanātana Gosvāmī bertanya kepada Tuhan Śrī Caitanya Mahāprabhu mengenai svarūpa --- kita telah membahas mengenai svarūpa dari setiap makhluk hidup --- svarūpa atau kedudukan sejati dari makhluk hidup, maka Tuhan menjawab, bahwa kedudukan dasar dari makhluk hidup adalah untuk memberikan pelayanan kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun jika kita menganalisa bagian dari pernyataan dari Tuhan Śrī Caitanya, kita dapat dengan jelas melihat bahwa setiap makhluk hidup secara terus menerus disibukkan dalam pekerjaan dari pemberian pelayanan kepada makhluk hidup lain. Satu makhluk hidup melayani makhluk hidup lainnya di dalam kapasitas yang berbeda-beda, dan dengan melakukan hal tersebut, makhluk hidup tersebut menikmati hidup. Seekor binatang yang lebih rendah melayani manusia, seorang pelayan melayani tuannya, A melayani Tuan B, B melayani Tuan C, C melayani TuanD, dn begitu seterusnya. Di dalam keadaan seperti itu, kita dapat melihat bahwa teman melayani teman yang lain, dan ibu melayani sang anak, atau istri melayani suami, atau suami melayani istri. Jika kita terus mencari dengan semangat seperti itu, akan terlihatlah bahwa tidak ada perkecualian di dalam masyarakat makhluk hidup di mana kita tidak akan menemukan kegiatan pelayanan. Politikus menyampaikan rencananya di hadapan publik dan meyakinkan para pemilih mengenai kemampuan pelayanannya. Para pemilih juga memberikan sang politikus suara pilihannya dengan suatu harapan bahwa sang politikus akan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Penjaga toko melayani para pelanggan dan para pekerja kasar melayani para pemilik modal. Para pemilik modal melayani keluarganya dan keluarga melayani sang kepala keluarga di dalam ketentuan dari kemampuan kekal dari makhluk yang kekal. Melalui cara seperti ini kita melihat bahwa tidak ada satupun makhluk hidup yang bebas dari pelaksanaan pemberian pelayanan kepada makhluk hidup lain, dan dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang terus-menerus ada bersama makhluk hidup, dan dengan demikian dengan hati-hati dapat disimpulkan bahwa pemberian pelayanan oleh makhluk hidup merupakan agama kekal dari makhluk hidup.

Ketika seseorang menyatakan bahwa ia memeluk suatu jenis keyakinan tertentu dengan mendasarkan kepada waktu tertentu serta keadaan kelahiran tertentu, dan kemudian orang menyatakan diri sebagai seorang Hindu, seorang Muslim, seorang Kristen, Buddha, atau sekte apapun lainnya, serta sub-sekte lain, maka penunjukkan seperti itu adalah bersifat non-sanātana-dharma. Seorang Hindu bisa merubah kepercayaannya untuk menjadi seorang Muslim, atau seorang Muslim bisa merubah kepercayaannya untuk menjadi seorang Hindu atau seorang Kristen dan sebagainya, namun di dalam semua keadaan perubahan keyakinan seperti itu tidak mengijinkan seorangpun untuk merubah kesibukan kekalnya dalam memberikan pelayanan kepada yang lain. Seorang Hindu atau seorang Muslim atau seorang Kristen, di dalam segala keadaan, ia adalah pelayan dari seseorang, dan dengan begitu menyatakan suatu jenis keyakinan tertentu tidaklah dapat dianggap sebagai sanātana-dharma, tetapi sesuatu yang secara terus-menerus ada bersama dengan makhluk hidup, yang adalah pemberian pelayanan, itulah yang merupakan sanātana-dharma. Jadi sebenarnya, kita terhubung di dalam suatu hubungan pelayanan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan Yang Maha Kuasa adalah sang penikmat, dan kita para makhluk hidup merupakan para pelayan kekalNya. Kita diciptakan bagi kenikmatanNya, dan jika kita menjadi bagian, turut serta di dalam kenikmatan kekal tersebut bersama dengan Kepribadian Tuhan Yang Maha Kuasa, maka itu akan membuat kita bahagia, bukan sebaliknya. Dengan bertindak sendiri-sendiri, sebagaimana baru saja dijelaskan kepada kita, bahwa jika dengan bertindak sendiri-sendiri, bagian apapun dari badan, tangan, kaki, jari-jemari, ataupun setiap bagian lain dari badan, secara sendiri-sendiri, tidak akan bisa berbahagia tanpa bekerja sama dengan perut, sama halnya, makhluk hidup tidak pernah bisa berbahagia tanpa memberikan pelayanan bhakti rohani penuh cinta kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sekarang, di dalam Bhagavad-gītā pemujaan kepada berbagai macam dewa tidaklah disetujui, hal tersebut tidak disetujui karena.... dikatakan di dalam Bhagavad-gītā Bab ke tujuh, sloka ke dua-puluh (BG 7.20), Tuhan berkata : kāmais tais tair hṛta-jñānāḥ prapadyante 'nya-devatāḥ. Kāmais tais tair hṛta-jñānāḥ. Mereka yang dikuasai oleh nafsu, mereka hanya memuja para dewa selain dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Kṛṣṇa.