ID/Prabhupada 1074 - Semua Penderitaan Yang Kita Alami Di Dunia Material Ini - Semuanya Disebabkan Oleh Badan Ini

Revision as of 14:36, 12 September 2016 by Gusti (talk | contribs) (Created page with "<!-- BEGIN CATEGORY LIST --> Category:1080 Indonesian Pages with Videos Category:Prabhupada 1074 - in all Languages Category:ID-Quotes - 1966 Category:ID-Quotes...")
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)


Invalid source, must be from amazon or causelessmery.com

660219-20 - Lecture BG Introduction - New York

Di bagian lain dalam Bhagavad-gītā dikatakan juga bahwa :

avyakto 'kṣara ity uktas
tam āhuḥ paramāṁ gatim
yaṁ prāpya na nivartante
tad dhāma paramaṁ mama
(BG 8.21)

Avyakta berarti yang tidak nampak. Bahkan sebagian dari dunia material tidak nampak oleh kita. Indria-indria kita begitu tidak sempurnanya sehingga kita tidak dapat melihat berapa banyak bintang yang ada, berapa banyak planet yang ada di alam semesta material ini. Tentu saja, melalui kesusasteraan Veda kita memperoleh informasi mengenai semua planet. Kita boleh percaya dan boleh juga tidak percaya, namun semua planet-planet yang terpenting yang ada hubungannya dengan kita, semuanya diuraikan di dalam kesusasteraan Veda, khususnya di dalam Śrīmad-Bhāgavatam. Akan tetapi di dunia spiritual, yang melampaui angkasa material ini : paras tasmāt tu bhāvo 'nyo (BG 8.20), tetapi avyakta tadi, angkasa spiritual yang tidak nampak itu, adalah paramāṁ gatim, yang artinya, seseorang seharusnya selalu ingin, seseorang seharusnya selalu berminat untuk mencapai kerajaan kekal tersebut. Dan begitu berhasil mendekati kerajaan kekal tersebut : yaṁ prāpya, seseorang mendekati atau seseorang mencapai kerajaan kekal itu, maka : na nivartante, seseorang itu tidak perlu kembali lagi ke dunia material ini. Dan tempat tersebut yang adalah tempat tinggal kekal Tuhan, yang dari mana kita tidak akan kembali lagi, itulah sebenarnya milik kita,...itu yang seharusnya menjadi milik kita...(hening). Sekarang satu pertanyaan bisa muncul, cara apa yang bisa digunakan untuk mendekati tempat tinggal kekal Tuhan itu? Itu juga diuraikan di dalam Bhagavad-gītā. Hal itu dinyatakan di dalam bab delapan, sloka 5, 6, 7, 8, yaitu proses untuk mendekati Tuhan Yang Maha Kuasa atau tempat tinggal Tuhan Yang Maha Kuasa, hal itu juga diberikan di situ. Hal tersebut dinyatakan sebagai berikut :

anta-kāle ca mām eva
smaran muktvā kalevaram
yaḥ prayāti sa mad-bhāvaṁ
yāti nāsty atra saṁśayaḥ
(BG 8.5)

Anta-kāle, pada akhir dari kehidupan, pada saat kematian. Anta-kāle ca mām eva. Seseorang yang berpikir tentang Kṛṣṇa, smaran, jika ia bisa mengingat. Seseorang yang sedang sekarat, pada saat kematian, jika ia mengingat bentuk Kṛṣṇa dan sementara mengingat dengan cara seperti itu, jika ia kemudian meninggalkan badannya saat itu, maka dipastikan bahwa ia akan mencapai kerajaan kekal, mad-bhāvam. Bhāvam berarti alam spiritual. Yaḥ prayāti sa mad-bhāvaṁ yāti. Mad-bhāvam adalah berarti juga alam atau alam rohani dari Makhluk Yang Utama. Sebagaimana sudah kita uraikan di atas, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa adalah sac-cid-ānanda-vigraha (BS 5.1). Beliau memiliki bentukNya, akan tetapi bentukNya bersifat kekal, sat, dan penuh dengan pengetahuan, cit, serta penuh dengan kebahagiaan, ānanda. Sekarang kita dapat membandingkannya dengan badan kita saat ini, apakah badan kita juga bersifat sac-cid-ānanda. Tidak. Badani ni asat. Bukannya bersifat sat melainkan asat. Antavanta ime dehā (BG 2.18). Bhagavad-gītā mengatakan bahwa badan ini adalah antavat, tidak bertahan lama. Dan....Sac-cid-ānanda. Bukannya menjadi sat, badan ini asat, justru berlawanan sifatnya. Dan bukannya menjadi cit, penuh dengan pengetahuan, badan ini justru penuh dengan kebodohan. Kita tidak memiliki pengetahuan sama sekali mengenai kerajaan kekal, dan tidak juga kita memiliki pengetahuan sempurna mengenai dunia material ini. Jadi banyak hal yang masih asing bagi kita, karenanya badan ini bersifat penuh kebodohan. Jadi bukannya menjadi penuh pengetahuan, badan ini penuh dengan kebodohan. Badan ini tidak bertahan lama, penuh dengan kebodohan dan nirānanda. Bukannya menjadi penuh dengan kebahagiaan, badan ini justru penuh dengan penderitaan. Semua penderitaan yang kita alami di dunia material ini, semuanya disebabkan oleh badan ini.